14 November 2005

Pak Madraji 20 Tahun Mendorong Gerobak


Anda dan saya mungkin sudah sering bertemu dengan orang Madura pedagang sate keliling. Juga melihat dari dekat bagaimana mereka mengelilingi jalan-jalan di sekitar perumahan menjajakan dagangannya. Tetapi tetap saja saya belum bisa membayangkan betapa uletnya Pak Madraji. Selama 20 tahun Pak Madraji berjalan kaki, setiap sore hingga larut malam dari rumahnya di Kawasan Sentiong Jakarta ke Sawah Besar tempat dia menjajakan sate Madura dalam gerobaknya. Di Kawasan Sawah Besar itu, ia juga masih akan berkeliling lagi. Panas, hujan, jalanan berdebu, becek dan deru knalpot berasap tebal di tengah bersiliwerannya kendaraan, ia lalui terus karena ia harus tetap jualan.

Bagi Anda yang tidak akrab dengan Jakarta, boleh lah membayangkan Sentiong dan Sawah Besar itu merupakan dua kawasan yang dipisahkan jarak sekitar tiga kilometer. Jalan yang dilalui adalah jalan besar. Kalau ditempatkan dalam konteks sekarang, jalan yang menghubungkan kedua kawasan itu boleh lah disebut wild wild westnya Jakarta. Semua jenis kebengalan orang ada di situ. Juga semua tingkatan keganasan orang berkendaraan lengkap ditemukan di jalanannya.

Dan, Pak Madraji melaluinya selama 20 tahun. Setiap malam, kecuali kalau dia sakit. Apa yang mendorongnya?

Saya lalu menemuinya di Warung Anda, warung sate miliknya yang laris-manis di kawasan Atrium Senen, Jakarta. Saya sudah sering makan di warung sate itu, tetapi karena ingin menulis tentang bisnis orang Madura lah saya mau berlama-lama menunggunya. Pak Madraji ternyata sosok yang ramah. Walau kalau kita memesan sate di sana ia terkesan cuek, menanyakan seperlunya apa yang kita pesan, ia rupanya orang yang kocak dan easy going bercerita.

Pak Madraji dilahirkan dari orang tua beretnis Madura, tinggal di Cirebon. Setelah dia dewasa, 20 tahun lalu ia memberanikan diri berangkat ke Jakarta, mengadu nasib. Tidak ada ijazah. Ia tidak tamat Sekolah Dasar. Yang ia tahu, ia ingin mengikuti tradisi orang Madura, berbisnis besi tua. Ia pun mencoba peruntungannya di bisnis ini, dengan menggandeng mitra yang sudah lebih dulu menerjuni bisnis ini.

Ternyata bisnisnya tidak jalan dan tidak semulus yang ia bayangkan. Ia mengaku sering tertipu. Tidak bisa berbuat apa-apa. Modalnya ludes.

Pendek cerita ia banting setir, kembali kepada keahlian yang dibekalkan kedua orang tuanya dan juga masih tetap mereka tekuni, yakni berdagang sate. Ia berdagang sate keliling. Mula-mula dengan satu gerobak. Ia tekuni pekerjaan ini seperti kedua orangtuanya mencintai pekerjaan ini. Ia membeli sendiri kambing yang akan ia jadikan sate. Ia memotongnya sendiri. Ia membuat bumbunya sendiri dan ia menjajakannya sendiri.

Saya agak tertegun ketika dia menceritakan ini. Saya masih tetap mencari, apa motivasinya. Apa faktor paling penting yang mendorong dia berbuat begitu. Apakah, misalnya, tidak sebaiknya dia pulang ke Cirebon dan meneruskan usaha sate ayah dan ibunya?

Oh tidak, kata dia. Tidak ada kata 'pulang' dalam kamus dia. Dia bertekad harus bisa mencari uang sendiri. Apalagi ia merasa malu kepada calon istri kalau harus minta-minta uang dari kampung halaman. Jadilah Madraji berdagang sate. Selama 20 tahun, ia mendorong gerobak satenya dari Kawasan Sentiong yang padat ke Kawasan Sawah Besar yang ramai.

Setelah 20 tahun, tujuh tahun lalu sebuah lompatan besar ia lakukan. Ia membuka warung sate di kawasan Senen. Dia tidak lagi berdagang keliling. Masakan satenya yang sudah punya pelanggan, ditambah lokasi yang ia pilih menyediakan banyak pembeli, membuat warungnya berkembang maju. Itu mendorong dia membuka satu warung lagi, persis bersebelahan dengan pintu masuk Mal Atrium. Warung ini bahkan lebih laris lagi. Dinamainya warung itu dengan nama Warung Anda. Nama itu memang kedengaran ramah, samasekali tidak memancarkan keangkuhan yang selama ini kerap disematkan kepada orang Madura.

Warung Anda menjual dan menghabiskan tiga kambing setiap hari (dijadikan 900 tusuk sate ditambah sop kambing), 50 kg ayam (dijadikan sate ayam) dan kini ia menambah item baru: sate bebek. Setiap hari dari Warung Anda Madraji mengantongi penjualan Rp3 juta. Madraji hanya buka siang sampai sore di hari kerja, menyebabkan penjualannya dari Warung Anda berkisar Rp60 juta per bulan.

Madraji kini punya empat outlet satenya. Tiga warungnya, satu di Kawasan Senen, satu di depan Mal Atrium, satu di depan Rumah Sakit Gatot Subroto. Outletnya yang lain adalah salah satu restoran di Hotel Borobudur. Setiap malam ia memasok 500 tusuk sate ke restoran tersebut. Pak Madraji tertawa saja ketika ditanyakan berapa ia mengantongi penjualan setiap hari. "Cukup lah Pak," kata dia. "Rumah sudah rumah sendiri. Tidak ngontrak lagi." Anaknya yang sulung kini duduk di bangku kuliah. Dua adiknya menikmati pendidikan yang baik. "Cukup lah saya yang hanya belajar di pesantren dan tidak tamat SD," kata dia.

Yang menyenangkan melihat Pak Madraji kerja adalah ketekunannya. Ia bukan majikan. Ia masih ikut membakarkan sate, menyajikannya kepada pembeli dan bahkan melobi pelanggan-pelanggan besarnya, yakni mereka yang akan menyelenggarakan pesta pernikahan atau kenduri lainnya, dan memesankan sate dari warungnya.

Tidak ada kesan dirinya telah menjadi Orang Kaya Baru (OKB). Para anak buahnya yang jumlahnya kini belasan, kadang-kadang masih dengan tanpa malu-malu meminjam motor yang digunakan Pak Madraji bepergian kemana-mana, termasuk mengecek warung-warungnya.

Mungkin saja saya termasuk orang yang terlalu cepat mengagumi orang. Tetapi memang, saya benar-benar tidak bisa menghindari untuk kagum pada Pak Madraji. Apalagi bila melihat semangatnya. Saya menanyakan kepada orang tua yang umurnya kira-kira 50-an tahun ini, apakah masih ada keinginannya yang tak terbatas. Saya menanyakan pertanyaan ini karena membayangkan dia akan menjawab, "Syukur, saya sudah merasa puas. Tinggal meneruskan bisnis ini saja." Jawaban seperti ini sudah kerap saya temukan dari pengusaha kita.

Tetapi tidak. Pak Madraji mempunyai keinginan lain. Tidak muluk-muluk dan tampaknya bakal dia capai. Ia punya impian dalam dua sampai lima tahun ke depan ia bisa membuka warungnya di mal atau dekat dengan mal. "Sebenarnya tahun lalu sudah hampir dapat Pak," kata dia. Waktu itu, ia sudah hampir deal dengan seorang pemilik kios di kawasan Mal Cempaka Mas. Uang muka pun sudah ia setujui, bahkan siap-siap akan dia bayarkan. Dasar nasib sial, lama sekali ia baru bisa bertemu langsung dengan sang pemilik kios. Ketika bertemu, ternyata Pak Madraji sudah keduluan oleh orang lain. "Mungkin bukan rezeki saya Pak," seru Pak Madraji.

Tiap kali melewati warungnya itu pada malam hari, ketika warung yang sudah tutup itu berubah tempat mangkal sejumlah pengangguran yang setengah preman, saya mengelus dada. Memang kalau kita hanya melihat pemandangan yang suram itu, kita mungkin akan putus asa. Namun, ketika pikiran saya arahkan kepada Pak Madraji, saya kembali bersyukur. Alangkah bangganya kita menjadi orang Indonesia karena Indonesia masih mempunyai orang seperti Pak Madraji. Jumlahnya saya kira banyak sekali.
(c) Eben Ezer Siadari

Bangga Saya jadi Orang Indonesia (03): Seorang Ibu yang tak Pernah Pensiun

Televisi pertama kali masuk ke kampung kami kira-kira 25 tahun lalu. Waktu itu saya masih di kelas lima SD. Pemiliknya adalah tetangga dekat kami. Hampir semua orang di kampung itu memanggil pemilik rumah itu 'IBU.' Televisi itu 14 inci, hitam-putih. Sebelum ia bisa mengeluarkan gambar sebagaimana layaknya televisi, kerepotan demi kerepotan terjadi di sekitar rumah. Misalnya, di depan rumah IBU harus ditanamkan antena lebih kurang lima meter. Pohon cengkeh di depan rumah kalah sama itu antena. Kerepotan lain adalah menyambung-nyambungkan kabel. Melekatkannya di dinding rumah IBU yang besar itu. Dan, praktis, itu adalah tontonan yang menarik bagi anak-anak seusia saya.

Kami mengerumuni para pekerja yang mengerjakannya. Melihat-lihat penuh rasa ingin tahu. Saya, didalam hati bahkan punya target sendiri: saya harus jadi saksi sejarah pertama melihat siaran televisi di kampung kami. Ketika televisi itu kemudian menyala, hati saya bertempik sorak. Kawan-kawan dan saya segera menerobos masuk ke rumah IBU, dengan sedikit malu-malu, untuk menontonnya. Seingat saya, acara sore itu adalah paduan suara anak-anak asuhan Pranajaya, dengan lagu: "Siapa yang paling manis, pasti mama tersayang….". Lima menit setelah menyaksikannya, saya bergegas ke rumah. Memanggil adik perempuan saya (sekarang sudah almarhum) yang sedang memasak. Saya bilang, kamu harus lihat itu televisi. Bagus. Dan adik saya ikut berlari. Dan adik saya ikut menikmati keceriaan itu. Malamnya sebagai imbalan, kami kena marah ibu-bapak. Soalnya, adik saya meninggalkan tungku terlalu lama yang menyebabkan kami harus memakan nasi gosong berkerak malam itu…..

Sejak hari itu kami punya acara rutin setiap sore. Jam 5-6 sore, setelah pulang dari ladang dan mandi di sungai, rombongan saya dan kawan-kawan sudah akan berdiri di depan pintu rumah IBU. Mengetok pintu pelan-pelan dan setelah dibukakan, kami duduk bersila di tikar. Menonton televisi. Bila sudah jam 7 atau jam 8, tidak ada ampun, IBU akan berdiri. Mematikan televisi dan menyuruh kami pulang. 'Pulang, kalian harus belajar," begitu selalu pesan IBU. Dan samasekali tak ada yang berani membantah.

Mungkin bagi yang tidak tahu riwayatnya, agak aneh kedengarannya, jika di Sidamanik yang kebanyakan orang berbahasa Toba dan Simalungun, ibu itu mendapat julukan IBU, bukan INANG. Tetapi tidak perlu heran. Julukan IBU itu melekat kepadanya karena beliau adalah guru pertama di kampung kami. Sebagian besar orang tua di kampung kami masih mencicipi didikannya. Dan sebagaimana kita pernah dengar cerita orang tua dahulu, guru zaman dulu adalah guru 24 jam. Di rumah dan di sekolah ia tetap menunjukkan teladannya sebagai guru. Makanya panggilan IBU kepada sang IBU itu melekat terus, sampai kepada kami, anak-anak, yang sepantasnya memanggilnya Nenek

IBU adalah sosok yang terkenal dan berwibawa di kampung kami. Tidak terlalu banyak bicara, tidak suka ngerumpi tetapi ia dikagumi sekaligus ditakuti. Sebenarnya ia sudah lama pensiun dan putra-putrinya sudah jadi Orang semua. Tetapi kegiatan rutinnya tak berbeda jauh dengan orang-orang kebanyakan di kampung kami. Pagi-pagi sekali dia sudah bangun. Pergi ke kebun belakang rumahnya, menyiangi pohon cengkeh, menebang tanaman liar yang sering tumbuh tanpa permisi. Kalau hari Jumat, pagi-pagi sekali dia sudah menarik kereta dorong berisi beras, yang jadi dagangannya di pekan Sarimatondang.

Tidak sekali-dua kali anak-anak muda di kampung kami kena damprat olehnya. Itu biasanya terjadi jika sedang musim ujian sekolah, ketika kampung kami mendadak sepi. Anak-anak sekolah mendekam di rumah, belajar (entah dengan serius atau tidak).Pada saat-saat semacam itu ada kalanya ada satu dua orang yang membandel, bermain-main gitar di pinggir jalan atau di depan warung sambil mencoba-coba menjadi Peter Pan atau Slank gadungan. Nah, orang-orang ini bersiap-siaplah kena damprat sang IBU. IBU akan marah besar karena melihat anak-anak itu tidak belajar. Ia juga lebih marah karena dengan bernyanyi-nyanyi begitu, orang yang belajar akan terganggu.

Kampung kami yang diberi nama Kampung Gereja di Sidamanik, dikelilingi oleh tiga Gereja, enam Sekolah Dasar dan satu SMP Negeri. Banyak ibu guru yang tinggal di kampung kami itu. Tetapi anehnya, hingga ketika IBU berpulang, belum ada satu pun Ibu Guru yang menggantikan posisi sang IBU untuk dipanggil IBU. Barangkali masih akan lama kami menemukan ibu yang sekaliber IBU. IBU itu memang sudah menjadi icon tentang bagaimana seharusnya seorang Ibu Guru. Dan yang membanggakan kami, ia bukan hanya Ibu Guru bagi orang lain, tetapi juga bagi dirinya sendiri dan juga anak-anaknya. Ia buktikan ajarannya di tengah keluarganya.

Tak mengherankan bila ketika jenazahnya disemayamkan di Rumah Duka, ratusan bahkan ribuan karangan bunga dukacita berbaris sepanjang jalan. Bukan hanya dari bekas murid-muridnya, tetapi terutama dari orang-orang yang mengucapkan ikut berdukacita kepada putra-putrinya. Putranya yang tertua adalah Prof. Dr. Bungaran Saragih, menteri pertanian pada Kabinet Gus Dur dan Megawati.

(c) Eben Ezer Siadari

Bangga Saya jadi Orang Indonesia (02): Richard Kartawijaya Akhirnya Memilih

Richard Kartawijaya tentu Anda kenal. Dulu dia pernah menjadi country manager Microsoft Indonesia. Kemudian sejak tahun lalu ia menjadi salah satu country manager Motorola di Indonesia. Namun, ketika saya menelepon dia beberapa hari lalu untuk berbincang-bincang, dia mengabari saya bahwa dia kini bukan lagi berkarier sebagai eksekutif profesional. Dia sudah 'pindah kuadran,' menjadi seorang entrepreneur.

Maka saya temui dia di kantornya, di gedung Adi Graha di Jl. Gatot Subroto. Kantornya itu di lantai 19, lantai paling tinggi di gedung itu. Ia kini menjadi entrepreneur, dengan membeli setengah kepemilikan dari sebuah perusahaan teknologi informasi penyedia solusi bisnis. Perusahaan itu baru seumur jagung dan Richard berharap dalam lima tahun ke depan sudah dapat mencatatkan perusahaan itu sebagai salah satu perusahaan domestik terkemuka di bidang bisnis yang ia tekuni.

Saya tak banyak menanyakan bisnis barunya itu. Saya lebih tertarik mengapa dia berhenti sebagai seorang country manager sebuah perusahaan multinasional.

Richard yang saya kenal ternyata memang belum berubah. Ia selalu menjawab pertanyaan-pertanyaan saya dengan kata-kata yang positif, walau pun maksudnya barangkali bersifat negatif. Kata Richard, dia berhenti karena sebagai eksekutif profesional di sebuah perusahaan multinasional yang sudah demikian mapan, ia ingin mendapatkan kebebasan. Jika ia menjadi eksekutif terus, ia tak akan mendapatkannya. Soalnya, hampir semua kebijakan yang harus ia tempuh sudah digariskan dari kantor pusat. Dan, ini, menyebabkan dia merasa bahwa kalau ia berlama-lama jadi eksekutif, ia akan kehilangan daya kreatifitasnya.

Apakah ini tidak Anda duga sebelumnya?, tanya saya. Sebab dalam hemat saya, tentu ia sudah berpengalaman jadi eksekutif di sebuah perusahaan profesional. Dan, tidakkah ia sudah mengantisipasi hal semacam ini sebelumnya?

Lagi-lagi Richard adalah orang yang selalu menjawab pertanyaan dengan jawaban yang positif.. Kata dia, mungkin dirinya harus banyak belajar lagi tentang dirinya karena ia memang tidak menduga bahwa kebebasan kreatif itu sedemikian berartinya bagi dirinya. Ia menyadari, bila semakin lama ia berada pada posisi itu, ia bisa menajdi tidak dirinya lagi. Itulah sebabnya, dengan sukarela ia mengundurkan diri. Dan, menurut dia, jabatan itu mungkin sudah sepatutnya dijabat orang lain.

***

Saya mengenal Richard kira-kira tiga tahun yang lalu. Majalah tempat saya bekerja menginginkannya menjadi salah seorang kolumnis kami untuk mengulas tentang berbagai hal di seputar marketing di dunia teknologi informasi. Richard memang menguasai bidang ini. Setidaknya menurut Dewan Redaksi kami.

Saya kemudian meneleponnya, membuat janji bertemu dan kemudian kami memang bertemu. Kami bertemu di kantornya, kala itu di sebuah perusahaan domestik di bidang teknologi informasi juga, yakni PT Integrasi (kini Tbk).

Perbincangan kami semula agak kaku karena kami belum saling mengenal latarbelakang. Tetapi pada pertemuan-pertemuan selanjutnya demikian mulusnya. Richard, di mata saya, adalah seorang eksekutif yang supersibuk, tetapi selalu merasa tertantang oleh pertanyaan-pertanyaan aneh dari kaum awam seperti saya.

Dalam menuliskan kolom-kolomnya, ia meminta saya untuk terlebih dahulu menentukan tema. Lalu saya juga diminta memecah-mecah tema itu ke dalam beberapa pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan itu lah yang ia jawab untuk kemudian 'dijahit lagi' menjadi sebuah tulisan kolom.

Richard ternyata adalah kawan kerja yang baik. Saya justru selalu kewalahan, karena kelupaan mengirimkan daftar pertanyaan kepadanya untuk dijawab dan kemudian dijadikan kolom. Tak jarang ia menjawab pertanyaan-pertanyaan yang saya kirimkan dari perjalanan bisnisnya di luar kota mau pun di luar negeri. Ia menjawab hampir semua pertanyaan atau kadang kala membetulkan pertanyaannya.

Ketika saya bertemu dia kembali baru-baru ini, ternyata Richard yang saya kagumi itu belum berubah. Ketika menceritakan perpindahan kariernya itu, tidak ada sedikit pun nada dramatisasi dalam pembicaraan kami. Senyumnya tetap seperti senyum yang pernah saya temui pada dirinya sebelum-sebelumnya.

Di masa-masa mendatang saya berharap ia akan berhasil dalam jalur entrepreneur yang dipilihnya. Tanda-tanda keberhasilan itu sepertinya sudah tercium ketika saya melihat suasana kantornya. Ruang kantor di perusahaan barunya itu jauh dari glamor. Kata efisien mungkin lebih tepat. Karyawan-karyawannya adalah orang-orang muda. Ruang rapat di sana adalah sebuah ruang terbuka, dimana hanya ada satu meja besar yang dikelilingi sejumlah kursi. Satu ruangan dengan ruangan lain hanya disekat oleh dinding pembatas tanpa pintu.

Barangkali Richard memang sedang membangun sebuah perusahaan yang benar-benar transparan. Ia sendiri berharap ia memberikan sesuatu yang bernilai bagi dunia bisnis. Karena menurut dia, dunia teknologi informasi harus terus dibangun. Jangan sampai Indonesia hanya dikenal dari ekspor bahan mentah belaka, seperti kecenderungan yang belakangan ini mulai muncul lagi.

Kalau melihat langkah-langkah yang ditempuh Richard Kartawijaya, saya jadi bangga menjadi teman sebangsa dia, bangsa Indonesia. Dia adalah orang Indonesia yang tidak kenal putus harapan. Mau mencoba dunia yang lain.

(c) Eben Ezer Siadari

Bangga Saya jadi Orang Indonesia (01): Tetangga Kami yang Baik

Bangga Saya jadi Orang Indonesia (01):

Tetangga Kami yang Baik

Di kampung halaman kami dahulu, di sebuah desa bernama
Sarimatondang di Sumatera Utara, ada tradisi yang saya
sangat sukai. Kami anak-anak menyebutnya kebiasaan
kirim-mengirim. Kalau tiba Tahun Baru, di kampung kami
yang mayoritas penduduknya beragama Kristen itu
biasanya kami mengirimkan kue-kue buatan orang tua
kami (kembang loyang, dodol, kue bakar, kacang tojin,
wajik Bandung dst) kepada tetangga-tetangga muslim.
Mereka sebenarnya tak bisa kami sebut tetangga karena
mereka tinggal agak jauh, berseberangan kampung.
Tetapi pekerjaan 'mengirim' itu kami lakoni dengan
senang hati.

Yang kami kirimi kue-kue itu biasanya adalah
kawan-kawan muslim yang mempunyai pertalian sosial
dengan kami. Apakah karena mereka adalah langganan
tempat kami belanja sayur-mayur atau pecal, teman
sejawat orang tua kami, tukang membetulkan rumah kalau
bocor, kawan sekolah kami, dan sebagainya.

Sebagai balasannya, nanti pada Hari Raya, kami akan
mendapatkan lagi kiriman dari tetangga Muslim itu.
Aneka rupa isi kiriman itu. Kembang loyang, dodol dan
sejenisnya tetap ada. Tetapi para tetangga Muslim itu,
yang banyak juga diantaranya kawan-kawan dari bersuku
Jawa, biasanya lebih kreatif. Maka seringkali juga ada
lontong sayur, getuk, kue lapis, nagasari dan
sejenisnya.

Sesama kami anak-anak biasanya saling membanggakan
jumlah kiriman yang kami terima. Memang seringkali
berbeda jumlahnya antar satu rumah dengan rumah
lainnya. Jumlah kiriman itu secara tidak langsung
menggambarkan seberapa luas relasi kita dengan
tetangga Muslim.

Di Jakarta, saya mendapati pengalaman yang unik. Saya
sebagai anggota komunitas baru di sekitar rumah, di
desa Sarua, Ciputat, bertetangga dengan sebuah
keluarga muslim yang, dari pengamatan saya, sangat
taat. Sama seperti keluarga saya, mereka baru memiliki
seorang putra. Semula saya sudah was-was. Sebagai
seorang kristen yang kadang-kadang merasa minoritas di
Jakarta ini, dalam hati saya sering berpikir-pikir,
wah, bakal ada masalah nggak sama ini tetangga. Apakah
dia akan cukup nyaman bertetangga dengan saya yang
selain kristen, Batak lagi. (Istilahnya, minoritas
ganda).

Ternyata kebalikannya. Tetangga kami itu demikian
ramah. Mereka yang pertama menyapa kami, bahkan datang
bertamu. (Wah, saya jadi malu, padahal, kami yang
seharusnya datang memperkenalkan diri). Belakangan,
istri-istri kami jadi demikian akrabnya. Berboncengan
naik motor mereka belanja ke mana-mana.
Belakangan ini, ada lagi kebiasaan tetangga baru kami
itu yang membuat kami sekeluarga (yang hobinya makan)
makin ternanti-nanti. Beberapa kali saat berbuka
puasa, kami juga mendapat kiriman hidangan berbuka
puasa. Unik-unik. Kadang-kadang ada onde-onde yang
tidak terbuat dari ketan melainkan dari tepung ubi.
Kala lain, lontong sayur yang ada baksonya. Kalau
pisang molen, entah sudah berapa kali mampir di rumah
kami. Kalau mengingat kata istri saya bahwa si ibu
tetangga itu sebenarnya nggak pintar masak (dan mereka
sering belajar sama-sama bikin masakan tertentu),
pastilah kiriman si ibu tetangga itu datangnya dari
tempat lain juga. Entah itu dari sanak saudaranya yang
sering berkunjung ke rumah mereka atau mungkin dia
beli.

Tentu saja, kami juga harus cukup tahu diri. Istri
saya yang pernah bekerja di sebuah restoran,
kadang-kadang berinisiatif juga mengirimkan
masakannya kepada tetangga kami itu. Sebetulnya,
kirim-mengirim ini sudah agak berlangsung lama, jauh
sebelum bulan puasa. Kalau suami si Ibu tadi tugas ke
luar kota, ketika kembali ke Jakarta, si Ibu tadi
sering pula membagi oleh-oleh si Bapak kepada kami.
Sebaliknya, manakala saya ke luar kota, istri saya
juga tidak lupa membagikannya kepada mereka.

Tiap kali saya menikmati 'kiriman' dari sang tetangga,
saya merasa bersyukur dan merasa bangga sebagai orang
Indonesia. Indonesia yang begini luas, begini beragam
penduduknya, begitu kaya budaya dan tradisinya
ternyata bukan hanya diisi oleh orang-orang yang
membuat kita merasa malu sebagai orang Indonesia
seperti yang sering kita saksikan di tayangan-tayangan
televisi tentang para koruptor dan pelaku kriminal.
Orang-orang baik di Indonesia masih ada dan saya kira
masih banyak. Kebiasaan-kebiasaan baik dan
kebiasaan-kebiasaan luhur juga masih dapat kita
temukan dalam keseharian kita. Dan, itu bukan di
tempat-tempat yang kita anggap seharusnya tempat orang
untuk berbuat baik, seperti di tempat-tempat ibadah.
Tetapi di dekat-dekat kita, di tetangga kita, di
jalanan yang mungkin kita lalui setiap hari dan juga
mungkin di tempat kita mencari nafkah.

Kebaikan-kebaikan kecil yang kami nikmati dari
tetangga itu ternyata menghasilkan banyak lagi
kebaikan-kebaikan besar di kemudian hari. Kami pernah
lupa mengunci pintu pagar ketika bepergian. Dan
tetangga kami menguncikannya sambil mengirimkan SMS
kepada istri saya memberitahu bahwa mereka sudah
menguncikan pintu pagar kami. Kala lain, ada ular
tiba-tiba masuk ke rumah mereka dan si Ibu berteriak
lewat jendela rumah kami meminta tolong. Kami kemudian
bersama-sama meminta tolong kepada tukang ojek yang
lewat untuk menolong kami (sebab diantara kami sendiri
tidak ada yang berani menangkap ular).

Saya lantas berujar dalam hati, alangkah bangganya
kita menjadi bangsa Indonesia jika setiap hari kita
dapat mengisi kebaikan-kebaikan dengan sesama. Tidak
perlu dengan kebaikan-kebaikan besar.
Kebaikan-kebaikan kecil, kemurahan-kemurahan yang
kelihatannya remeh temeh, pada saatnya akan sangat
berarti menjadikan kita sebagai bangsa yang besar.
Sungguh saya bangga jadi orang Indonesia. Anda juga,
bukan?

(c) Eben Ezer Siadari