14 November 2005

Bangga Saya jadi Orang Indonesia (02): Richard Kartawijaya Akhirnya Memilih

Richard Kartawijaya tentu Anda kenal. Dulu dia pernah menjadi country manager Microsoft Indonesia. Kemudian sejak tahun lalu ia menjadi salah satu country manager Motorola di Indonesia. Namun, ketika saya menelepon dia beberapa hari lalu untuk berbincang-bincang, dia mengabari saya bahwa dia kini bukan lagi berkarier sebagai eksekutif profesional. Dia sudah 'pindah kuadran,' menjadi seorang entrepreneur.

Maka saya temui dia di kantornya, di gedung Adi Graha di Jl. Gatot Subroto. Kantornya itu di lantai 19, lantai paling tinggi di gedung itu. Ia kini menjadi entrepreneur, dengan membeli setengah kepemilikan dari sebuah perusahaan teknologi informasi penyedia solusi bisnis. Perusahaan itu baru seumur jagung dan Richard berharap dalam lima tahun ke depan sudah dapat mencatatkan perusahaan itu sebagai salah satu perusahaan domestik terkemuka di bidang bisnis yang ia tekuni.

Saya tak banyak menanyakan bisnis barunya itu. Saya lebih tertarik mengapa dia berhenti sebagai seorang country manager sebuah perusahaan multinasional.

Richard yang saya kenal ternyata memang belum berubah. Ia selalu menjawab pertanyaan-pertanyaan saya dengan kata-kata yang positif, walau pun maksudnya barangkali bersifat negatif. Kata Richard, dia berhenti karena sebagai eksekutif profesional di sebuah perusahaan multinasional yang sudah demikian mapan, ia ingin mendapatkan kebebasan. Jika ia menjadi eksekutif terus, ia tak akan mendapatkannya. Soalnya, hampir semua kebijakan yang harus ia tempuh sudah digariskan dari kantor pusat. Dan, ini, menyebabkan dia merasa bahwa kalau ia berlama-lama jadi eksekutif, ia akan kehilangan daya kreatifitasnya.

Apakah ini tidak Anda duga sebelumnya?, tanya saya. Sebab dalam hemat saya, tentu ia sudah berpengalaman jadi eksekutif di sebuah perusahaan profesional. Dan, tidakkah ia sudah mengantisipasi hal semacam ini sebelumnya?

Lagi-lagi Richard adalah orang yang selalu menjawab pertanyaan dengan jawaban yang positif.. Kata dia, mungkin dirinya harus banyak belajar lagi tentang dirinya karena ia memang tidak menduga bahwa kebebasan kreatif itu sedemikian berartinya bagi dirinya. Ia menyadari, bila semakin lama ia berada pada posisi itu, ia bisa menajdi tidak dirinya lagi. Itulah sebabnya, dengan sukarela ia mengundurkan diri. Dan, menurut dia, jabatan itu mungkin sudah sepatutnya dijabat orang lain.

***

Saya mengenal Richard kira-kira tiga tahun yang lalu. Majalah tempat saya bekerja menginginkannya menjadi salah seorang kolumnis kami untuk mengulas tentang berbagai hal di seputar marketing di dunia teknologi informasi. Richard memang menguasai bidang ini. Setidaknya menurut Dewan Redaksi kami.

Saya kemudian meneleponnya, membuat janji bertemu dan kemudian kami memang bertemu. Kami bertemu di kantornya, kala itu di sebuah perusahaan domestik di bidang teknologi informasi juga, yakni PT Integrasi (kini Tbk).

Perbincangan kami semula agak kaku karena kami belum saling mengenal latarbelakang. Tetapi pada pertemuan-pertemuan selanjutnya demikian mulusnya. Richard, di mata saya, adalah seorang eksekutif yang supersibuk, tetapi selalu merasa tertantang oleh pertanyaan-pertanyaan aneh dari kaum awam seperti saya.

Dalam menuliskan kolom-kolomnya, ia meminta saya untuk terlebih dahulu menentukan tema. Lalu saya juga diminta memecah-mecah tema itu ke dalam beberapa pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan itu lah yang ia jawab untuk kemudian 'dijahit lagi' menjadi sebuah tulisan kolom.

Richard ternyata adalah kawan kerja yang baik. Saya justru selalu kewalahan, karena kelupaan mengirimkan daftar pertanyaan kepadanya untuk dijawab dan kemudian dijadikan kolom. Tak jarang ia menjawab pertanyaan-pertanyaan yang saya kirimkan dari perjalanan bisnisnya di luar kota mau pun di luar negeri. Ia menjawab hampir semua pertanyaan atau kadang kala membetulkan pertanyaannya.

Ketika saya bertemu dia kembali baru-baru ini, ternyata Richard yang saya kagumi itu belum berubah. Ketika menceritakan perpindahan kariernya itu, tidak ada sedikit pun nada dramatisasi dalam pembicaraan kami. Senyumnya tetap seperti senyum yang pernah saya temui pada dirinya sebelum-sebelumnya.

Di masa-masa mendatang saya berharap ia akan berhasil dalam jalur entrepreneur yang dipilihnya. Tanda-tanda keberhasilan itu sepertinya sudah tercium ketika saya melihat suasana kantornya. Ruang kantor di perusahaan barunya itu jauh dari glamor. Kata efisien mungkin lebih tepat. Karyawan-karyawannya adalah orang-orang muda. Ruang rapat di sana adalah sebuah ruang terbuka, dimana hanya ada satu meja besar yang dikelilingi sejumlah kursi. Satu ruangan dengan ruangan lain hanya disekat oleh dinding pembatas tanpa pintu.

Barangkali Richard memang sedang membangun sebuah perusahaan yang benar-benar transparan. Ia sendiri berharap ia memberikan sesuatu yang bernilai bagi dunia bisnis. Karena menurut dia, dunia teknologi informasi harus terus dibangun. Jangan sampai Indonesia hanya dikenal dari ekspor bahan mentah belaka, seperti kecenderungan yang belakangan ini mulai muncul lagi.

Kalau melihat langkah-langkah yang ditempuh Richard Kartawijaya, saya jadi bangga menjadi teman sebangsa dia, bangsa Indonesia. Dia adalah orang Indonesia yang tidak kenal putus harapan. Mau mencoba dunia yang lain.

(c) Eben Ezer Siadari

No comments: