14 November 2005

Pak Madraji 20 Tahun Mendorong Gerobak


Anda dan saya mungkin sudah sering bertemu dengan orang Madura pedagang sate keliling. Juga melihat dari dekat bagaimana mereka mengelilingi jalan-jalan di sekitar perumahan menjajakan dagangannya. Tetapi tetap saja saya belum bisa membayangkan betapa uletnya Pak Madraji. Selama 20 tahun Pak Madraji berjalan kaki, setiap sore hingga larut malam dari rumahnya di Kawasan Sentiong Jakarta ke Sawah Besar tempat dia menjajakan sate Madura dalam gerobaknya. Di Kawasan Sawah Besar itu, ia juga masih akan berkeliling lagi. Panas, hujan, jalanan berdebu, becek dan deru knalpot berasap tebal di tengah bersiliwerannya kendaraan, ia lalui terus karena ia harus tetap jualan.

Bagi Anda yang tidak akrab dengan Jakarta, boleh lah membayangkan Sentiong dan Sawah Besar itu merupakan dua kawasan yang dipisahkan jarak sekitar tiga kilometer. Jalan yang dilalui adalah jalan besar. Kalau ditempatkan dalam konteks sekarang, jalan yang menghubungkan kedua kawasan itu boleh lah disebut wild wild westnya Jakarta. Semua jenis kebengalan orang ada di situ. Juga semua tingkatan keganasan orang berkendaraan lengkap ditemukan di jalanannya.

Dan, Pak Madraji melaluinya selama 20 tahun. Setiap malam, kecuali kalau dia sakit. Apa yang mendorongnya?

Saya lalu menemuinya di Warung Anda, warung sate miliknya yang laris-manis di kawasan Atrium Senen, Jakarta. Saya sudah sering makan di warung sate itu, tetapi karena ingin menulis tentang bisnis orang Madura lah saya mau berlama-lama menunggunya. Pak Madraji ternyata sosok yang ramah. Walau kalau kita memesan sate di sana ia terkesan cuek, menanyakan seperlunya apa yang kita pesan, ia rupanya orang yang kocak dan easy going bercerita.

Pak Madraji dilahirkan dari orang tua beretnis Madura, tinggal di Cirebon. Setelah dia dewasa, 20 tahun lalu ia memberanikan diri berangkat ke Jakarta, mengadu nasib. Tidak ada ijazah. Ia tidak tamat Sekolah Dasar. Yang ia tahu, ia ingin mengikuti tradisi orang Madura, berbisnis besi tua. Ia pun mencoba peruntungannya di bisnis ini, dengan menggandeng mitra yang sudah lebih dulu menerjuni bisnis ini.

Ternyata bisnisnya tidak jalan dan tidak semulus yang ia bayangkan. Ia mengaku sering tertipu. Tidak bisa berbuat apa-apa. Modalnya ludes.

Pendek cerita ia banting setir, kembali kepada keahlian yang dibekalkan kedua orang tuanya dan juga masih tetap mereka tekuni, yakni berdagang sate. Ia berdagang sate keliling. Mula-mula dengan satu gerobak. Ia tekuni pekerjaan ini seperti kedua orangtuanya mencintai pekerjaan ini. Ia membeli sendiri kambing yang akan ia jadikan sate. Ia memotongnya sendiri. Ia membuat bumbunya sendiri dan ia menjajakannya sendiri.

Saya agak tertegun ketika dia menceritakan ini. Saya masih tetap mencari, apa motivasinya. Apa faktor paling penting yang mendorong dia berbuat begitu. Apakah, misalnya, tidak sebaiknya dia pulang ke Cirebon dan meneruskan usaha sate ayah dan ibunya?

Oh tidak, kata dia. Tidak ada kata 'pulang' dalam kamus dia. Dia bertekad harus bisa mencari uang sendiri. Apalagi ia merasa malu kepada calon istri kalau harus minta-minta uang dari kampung halaman. Jadilah Madraji berdagang sate. Selama 20 tahun, ia mendorong gerobak satenya dari Kawasan Sentiong yang padat ke Kawasan Sawah Besar yang ramai.

Setelah 20 tahun, tujuh tahun lalu sebuah lompatan besar ia lakukan. Ia membuka warung sate di kawasan Senen. Dia tidak lagi berdagang keliling. Masakan satenya yang sudah punya pelanggan, ditambah lokasi yang ia pilih menyediakan banyak pembeli, membuat warungnya berkembang maju. Itu mendorong dia membuka satu warung lagi, persis bersebelahan dengan pintu masuk Mal Atrium. Warung ini bahkan lebih laris lagi. Dinamainya warung itu dengan nama Warung Anda. Nama itu memang kedengaran ramah, samasekali tidak memancarkan keangkuhan yang selama ini kerap disematkan kepada orang Madura.

Warung Anda menjual dan menghabiskan tiga kambing setiap hari (dijadikan 900 tusuk sate ditambah sop kambing), 50 kg ayam (dijadikan sate ayam) dan kini ia menambah item baru: sate bebek. Setiap hari dari Warung Anda Madraji mengantongi penjualan Rp3 juta. Madraji hanya buka siang sampai sore di hari kerja, menyebabkan penjualannya dari Warung Anda berkisar Rp60 juta per bulan.

Madraji kini punya empat outlet satenya. Tiga warungnya, satu di Kawasan Senen, satu di depan Mal Atrium, satu di depan Rumah Sakit Gatot Subroto. Outletnya yang lain adalah salah satu restoran di Hotel Borobudur. Setiap malam ia memasok 500 tusuk sate ke restoran tersebut. Pak Madraji tertawa saja ketika ditanyakan berapa ia mengantongi penjualan setiap hari. "Cukup lah Pak," kata dia. "Rumah sudah rumah sendiri. Tidak ngontrak lagi." Anaknya yang sulung kini duduk di bangku kuliah. Dua adiknya menikmati pendidikan yang baik. "Cukup lah saya yang hanya belajar di pesantren dan tidak tamat SD," kata dia.

Yang menyenangkan melihat Pak Madraji kerja adalah ketekunannya. Ia bukan majikan. Ia masih ikut membakarkan sate, menyajikannya kepada pembeli dan bahkan melobi pelanggan-pelanggan besarnya, yakni mereka yang akan menyelenggarakan pesta pernikahan atau kenduri lainnya, dan memesankan sate dari warungnya.

Tidak ada kesan dirinya telah menjadi Orang Kaya Baru (OKB). Para anak buahnya yang jumlahnya kini belasan, kadang-kadang masih dengan tanpa malu-malu meminjam motor yang digunakan Pak Madraji bepergian kemana-mana, termasuk mengecek warung-warungnya.

Mungkin saja saya termasuk orang yang terlalu cepat mengagumi orang. Tetapi memang, saya benar-benar tidak bisa menghindari untuk kagum pada Pak Madraji. Apalagi bila melihat semangatnya. Saya menanyakan kepada orang tua yang umurnya kira-kira 50-an tahun ini, apakah masih ada keinginannya yang tak terbatas. Saya menanyakan pertanyaan ini karena membayangkan dia akan menjawab, "Syukur, saya sudah merasa puas. Tinggal meneruskan bisnis ini saja." Jawaban seperti ini sudah kerap saya temukan dari pengusaha kita.

Tetapi tidak. Pak Madraji mempunyai keinginan lain. Tidak muluk-muluk dan tampaknya bakal dia capai. Ia punya impian dalam dua sampai lima tahun ke depan ia bisa membuka warungnya di mal atau dekat dengan mal. "Sebenarnya tahun lalu sudah hampir dapat Pak," kata dia. Waktu itu, ia sudah hampir deal dengan seorang pemilik kios di kawasan Mal Cempaka Mas. Uang muka pun sudah ia setujui, bahkan siap-siap akan dia bayarkan. Dasar nasib sial, lama sekali ia baru bisa bertemu langsung dengan sang pemilik kios. Ketika bertemu, ternyata Pak Madraji sudah keduluan oleh orang lain. "Mungkin bukan rezeki saya Pak," seru Pak Madraji.

Tiap kali melewati warungnya itu pada malam hari, ketika warung yang sudah tutup itu berubah tempat mangkal sejumlah pengangguran yang setengah preman, saya mengelus dada. Memang kalau kita hanya melihat pemandangan yang suram itu, kita mungkin akan putus asa. Namun, ketika pikiran saya arahkan kepada Pak Madraji, saya kembali bersyukur. Alangkah bangganya kita menjadi orang Indonesia karena Indonesia masih mempunyai orang seperti Pak Madraji. Jumlahnya saya kira banyak sekali.
(c) Eben Ezer Siadari

1 comment:

Anonymous said...

Terima kasih untuk blog yang menarik