14 February 2006

Orang Baik dari Blok G

Pagi ini saya ketemu orang baik. Saya tak mengenalnya. Tak tahu namanya siapa. Tak bisa ingat rupanya. Sebab kepalanya ditutup oleh helm hitam. Setengah wajahnya dibungkus sapu tangan. Ia berjaket hijau kebiru-biruan, mengendarai motor. Agak gendut dan berkacamata hitam, suaranya merupakan perpaduan antara tenor cenderung bass.



Saya baru beberapa langkah meninggalkan pintu pagar rumah, berjalan kaki menuju pangkalan angkutan kota yang lumayan jauhnya, ketika si Orang Baik melintas dengan motornya. "Bareng Pak?" katanya, sambil menghentikan motornya. Saya terperangah. Saya tak mengenal dia, dan saya yakin dia juga tak tahu saya siapa. Tapi mengapa ia menawarkan kebaikannya kepada saya?

"Memang kita satu arah? Saya ke stasiun Sudimara." tanya saya.

"Ya, saya juga ke arah sana. Nanti Bapak turun di Nusa Indah saja," kata dia, menyebut kompleks perumahan dimana saya nanti akan mudah mencari angkutan kota yang akan membawa saya ke stasiun.

Kebetulan. Ini adalah tawaran yang bukan saja menyenangkan, tetapi sangat saya butuhkan. Berjalan kaki menuju pangkalan angkutan kota paling tidak butuh 15 menit. Padahal jam saya sudah menunjukkan 7:30. Saya bisa terlambat mengejar kereta api kelas ekonomi, bila tak ada si Orang Baik yang menawarkan jasanya.

Begitulah sepanjang perjalanan di atas motornya, saya tak bisa mengajaknya banyak bicara. Suara jalanan agak terlalu bising, sementara helm yang menutup kepalanya mengganggu pendengarannya.

Tetapi begitu pun saya sempat berbasa-basi. Saya akhirnya tahu, dia tinggal di Blok G, di perumahan tempat saya tinggal, di Vila Dago Tol, Ciputat. Saya sendiri tinggal di Blok A. Apakah ia mengenal saya? Ternyata tidak. Menurut dia, dia sekadar lewat, dan dia menduga, saya akan pergi searah dengan saya. Dan ia merasa tak ada salahnya menawarkan kebaikan.

Saya senang sekali. Kebaikan-kebaikan seperti ini sudah agak jarang saya dapatkan, meskipun ini bukan yang pertama kali. Dulu sekali, ketika saya sedang tergesa-gesa mengejar angkutan kota menuju stasiun, tiba-tiba seorang anak muda menghentikan motornya persis di depan saya. "Ayo Pak. Mau ke depan, kan?" tanya dia.

Saya tak ada pilihan lain. Saya lantas duduk di belakang si anak muda, yang kemudian saya tahu, kuliah di Guna Darma Depok dan sedang menuju kuliahnya. Waktu saya tanya, apakah dia mengenal saya, dia hanya tertawa. Dia bilang kepada saya, dia selalu ingat ayahnya dulu sebelum pensiun, yang setiap pagi pergi berjalan kaki menuju kerja. Dan karena ketekunan berjalan kaki itu lah, anak-anaknya bisa kuliah, bisa kerja dan ada pula yang sudah berbahagia memberi cucu.

Saya senang lagi.

Hanya lima menit, si Orang Baik dengan helm hitam akhirnya menghentikan lagi motor bebeknya, menurunkan saya di tempat pemberhentian angkutan kota. "Terimakasih Pak," kata saya. Dia hanya melambaikan tangannya dan berlalu begitu. Di balik sapu tangan yang menutup wajahnya, saya yakin ia pasti tersenyum.

Itulah si Orang Baik dari Blok G. Yang saya tak tahu namanya, tak hafal wajahnya tetapi akan saya ingat selalu kebaikannya.

Vila Dago Tol, 14 Februari 2006