<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-18947851</id><updated>2011-11-21T08:45:47.326+07:00</updated><title type='text'>Bangga Saya jadi Orang Indonesia</title><subtitle type='html'>Blog ini adalah kumpulan potongan pemikiran tentang hal-hal baik di sekitar kita. Dari masa lalu dan masa kini. Agar kita Bangga jadi Orang Indonesia. Awalnya hanya dikhususkan untuk cerita yang berasal Tanah Air. Tetapi kemudian, diperluas hingga mencakup dari mana saja. Mari berbagi cerita tentang orang baik dan kebaikan kecil mau pun besar yang kita temui sehari-hari.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://banggaindonesia.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18947851/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://banggaindonesia.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Eben Ezer Siadari</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sDOvG1QwyNo/SEYuxWm2rnI/AAAAAAAAALk/Kai8v-INR70/S220/foto-abdi2.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>13</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18947851.post-2973637748991536434</id><published>2011-10-30T16:23:00.004+07:00</published><updated>2011-10-30T16:37:06.213+07:00</updated><title type='text'>Armene Modi: Membuat Perubahan dengan Sepeda</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-gK_YXnwfPOU/Tq0XenfQIeI/AAAAAAAABJA/SzY1Ux6VJFc/s1600/Modi.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="132" src="http://2.bp.blogspot.com/-gK_YXnwfPOU/Tq0XenfQIeI/AAAAAAAABJA/SzY1Ux6VJFc/s200/Modi.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: 13.5pt;"&gt;Tak  ada yang meragukan pentingnya pendidikan bagi anak-anak. Juga para  penduduk Sone Sangvi, sebuah desa di India. Semua keluarga di desa itu  menyekolahkan anak-anak mereka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 13.5pt;"&gt;Namun  tantangannya muncul ketika anak-anak itu sudah sampai kelas tujuh.  Mereka harus melanjutkan sekolah&amp;nbsp; ke kota yang jauhnya lebih kurang satu  jam berjalan kaki. Maklum saja, hanya ada tiga sekolah lanjutan untuk  melayani 10 desa di kawasan itu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 13.5pt;"&gt;Orang  tua biasanya akan membelikan sepeda kepada para anak-anak laki-laki.  Ini akan menghemat perjalanan menjadi beberapa menit saja. Namun,  sayangnya, anak-anak perempuan tak mendapat perlakuan serupa.  Menginvestasikan uang untuk membeli sepeda bagi gadis remaja dianggap  pemborosan --selain karena mereka tidak punya cukup uang untuk  membelinya. Anak-anak perempuan biasanya akan dinikahkan muda dan karena  itu tidak perlu dibelikan sepeda.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Armene Modi terkejut ketika mengetahui hal itu. Sebagaimana diceritakan Armanda Molinaro pada situs www.myhero.com, Armene Modi yang  berprofesi sebagai sutradara film ini, awalnya keheranan ketika  berkunjung ke desa itu pertama kali. Di sana ia menemukan gadis-gadis  belia yang mengenakan mangalsutra. Mangalsutra adalah kalung manik-manik  berwarna emas dan hitam yang dikenakan oleh wanita sebagai simbol  perkawinan. Banyak gadis di sana ia lihat sudah menggendong bayi pada  usia yang muda sekali. Mengapa semuda itu mereka sudah menikah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 13.5pt;"&gt;  Dia mulai menyelidiki, dan menemukan bahwa sekolah lanjutan lebih dari  satu jam jauhnya dari desa-desa. Ketika menamatkan kelas tujuh, anak  laki-laki akan dibelikan sepeda sedangkan anak perempuan dibiarkan  menempuh perjalanan sejam lebih berjalan kaki. Ini menjadi pendorong  bagi para anak-anak perempuan untuk tidak sekolah dan pasrah dinikahkan  muda.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 13.5pt;"&gt;  Ketika Modi mendengar hal ini, dia berpikir,&amp;nbsp; jika hanya karena sepeda  yang dapat membuat anak-anak perempuan melanjutkan sekolah dan  menghindari mereka dari kawin muda, maka yang diperlukan adalah  menyediakan sepeda bagi para anak-anak perempuan itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 13.5pt;"&gt;Maka  Armene Modi mulai mendirikan 'Bank Sepeda' yang mengupayakan penyediaan  sepeda bagi anak-anak perempuan. Sepeda itu diberikan kepada anak-anak  perempuan yang akan melanjutkan sekolahnya, dengan catatan jika mereka  sudah tamat, sepeda itu dikembalikan lagi kepada 'Bank' dan selanjutnya  akan diberikan lagi untuk dipakai anak-anak perempuan lain yang akan  melanjutkan sekolahnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 13.5pt;"&gt;Salah  seorang yang menerima sepeda adalah gadis 14 tahun bernama Bharati  Phakad Tanggal. Sekarang dia bisa naik sepeda ke sekolah dalam 15 menit  dan sangat termotivasi untuk belajar. Dia bercita-cita kelak akan  menjadi kepala distrik di wilayah itu sehingga&amp;nbsp; ia dapat membuat  keputusan untuk membantu orang lain. "Ada banyak orang yang hidup di  jalanan," katanya. "Aku akan membantu mereka. Ada begitu banyak orang di  dunia ini yang bahkan tidak mendapatkan satu kali makan sehari. Aku  akan membantu mereka. Aku ingin memberantas kemiskinan dari negara ini."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 13.5pt;"&gt;  Armene Modi juga membuka 'bank sepeda' nya di desa-desa lain di India,  terutama di wilayah dimana kaum perempuan mengalami kendala bersekolah  karena alasan transportasi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 13.5pt;"&gt;Ciputat, 29 November 2011&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 13.5pt;"&gt;eben ezer siadari&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.writingforlife.net/"&gt;www.writingforlife.net&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18947851-2973637748991536434?l=banggaindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://banggaindonesia.blogspot.com/feeds/2973637748991536434/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=18947851&amp;postID=2973637748991536434&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18947851/posts/default/2973637748991536434'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18947851/posts/default/2973637748991536434'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://banggaindonesia.blogspot.com/2011/10/sebuah-sepeda-mencegah-kawin-muda.html' title='Armene Modi: Membuat Perubahan dengan Sepeda'/><author><name>Eben Ezer Siadari</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sDOvG1QwyNo/SEYuxWm2rnI/AAAAAAAAALk/Kai8v-INR70/S220/foto-abdi2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-gK_YXnwfPOU/Tq0XenfQIeI/AAAAAAAABJA/SzY1Ux6VJFc/s72-c/Modi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18947851.post-7558655451604808582</id><published>2011-05-25T16:11:00.000+07:00</published><updated>2011-05-25T16:11:47.377+07:00</updated><title type='text'>Selalu ada pagi bagi Suwarti</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-3GaBxMEPbP0/TdzHk2we1KI/AAAAAAAABFw/6WVzTPYu5xk/s1600/suwarti.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://4.bp.blogspot.com/-3GaBxMEPbP0/TdzHk2we1KI/AAAAAAAABFw/6WVzTPYu5xk/s320/suwarti.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Tidak ada pagi yang tak cerah bagi Suwarti. Pagi adalah matahari bagi hidupnya. Angin yang basah dan dingin, mendung, kabut bahkan hujan, tak pernah menjadi penghalang baginya menyongsong pagi dan matahari hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap pagi, tak pernah lewat dari pukul 6:30, ketika banyak ibu rumah tangga masih bersiap-siap memberangkatkan putra-putrinya ke sekolah, ketika orang-orang yang akan ke kantor mungkin masih belum menyiapkan baju kerjanya, Suwarti sudah beredar di jalanan kompleks perumahan kami di Ciputat. Suaranya yang nyaring tetapi dengan nada rendah sudah kami kenal dengan akrab. “Kue….kue….. Kue Pak? Kue Bu?” Suara itu berkumandang diiringi dengan langkah kakinya yang cepat dan suara sandalnya yang kadang seperti terseret. Menggendong kue jualannya, ia berjalan kaki sepanjang perumahan berisi ratusan rumah itu. Suaranya masih terdengar terus bahkan dari kejauhan.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama kali saya tertarik pada Suwarti adalah karena wanita ini masih demikian muda, 30 tahun, tetapi ia benar-benar berwajah orang Jawa tempo dulu. Menggendong jualannya dengan busana seperti mbok-mbok jamu, dengan langkah yang gesit, dan, ya, ia selalu hadir dalam ukuran waktu yang tak pernah meleset. Tak urung saya menyetopnya sekali waktu, sepulang ia menjajakan jualannya. Dan, ia dengan kesopanan seorang ibu yang tak mau menaruh curiga kepada siapa pun, melayani pertanyaan-pertanyaan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suwarti adalah seorang wanita kelahiran Solo. Ibu dari dua orang anak, berumur 10 tahun dan enam tahun, ia bagi saya adalah potret wanita Indonesia yang seharusnya membuat kita selalu bangga jadi orang Indonesia. Tiga tahun terakhir ia jalani hidupnya dengan menjajakan kue di perumahan kami di Vila Dago Tol, dengan berjalan kaki. Dengan mengambil 150 potong kue dari juragannya yang tinggal di belahan lain daerah Ciputat, ia mengantongi keuntungan Rp25 ribu setiap hari. Dari rumah ia berangkat subuh-subuh, untuk mengejar pagi yang penuh rejeki di perumahan kami itu. Ketika hari sudah menunjukkan jam 10, ia biasanya menuntaskan ‘perjalanannya’ sebagai penjaja kue hari itu. Jam 11, ia sudah tiba di rumah kontrakannya seharga Rp200 ribu per bulan, untuk kembali sebagai ibu rumah tangga. Suaminya seorang pekerja bangunan yang rajin, tetapi tak selalu ada proyek yang membutuhkan tenaganya. Dengan kombinasi profesi yang demikian, ia dan suaminya bisa menyekolahkan kedua anaknya, satu di kelas empat SD satu lagi di kelas satu. Kedua anak itu dititipkan di kampung mertuanya, Purwodadi. Setiap bulan mereka mengirimkan uang untuk biaya sekolah anak-anaknya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suwarti dulunya adalah pembantu rumah tangga. Perkawinannya dengan suaminya yang dia kenal di Jakarta ini, membuat ia lama-lama berpikir untuk menyudahi saja pekerjaannya sebagai PRT, yang ia istilahkan ‘ikut orang.’ Setelah pernah mencoba berjualan macam-macam barang, akhirnya ia menemukan juragan kue yang bagi dia memberikan harapan. Dari juragannya itu ia mengambil kue setiap pagi lalu menjualnya dengan harga yang ia tetapkan sendiri. Setiap hari ia menyetor kepada juragannya Rp50 ribu. Kue yang tersisa dapat ia kembalikan. Dan ini, bagi Suwarti adalah sistem yang benar-benar ia sukai. Makin hari makin besar keuntungan yang ia peroleh. Tiga tahun terakhir ia rasakan sebagai tahun yang penuh pertumbuhan, menyebabkan ia selalu memandang pagi sebagai pagi yang penuh pengharapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak menamatkan SD, anak bungsu dari empat bersaudara, pada tahun 1995 Suwarti meninggalkan orang tuanya di kampung halamannya yang hidup sebagai petani kecil. Seperti kebanyakan cerita orang-orang marginal, ia kala itu tak punya pilihan selain menjadi PRT untuk bisa bertahan di Jakarta. Kota ini bagi Suwarti adalah kota yang keras, tetapi kota yang selalu memberikan harapan. Hidup sebagai orang yang termarginalkan tidak dihabiskannya dengan kemarahan dan dendam kepada hidup. Ia, sebagaimana yang dapat saya lihat dari bagaimana ia bekerja, menjalani hari-harinya dengan ketekunan seorang yang menikmati apa yang dapat ia nikmati. Mensyukuri kesehatannya yang menyebabkan ia tampak tak pernah kelelahan di terik Jakarta. Dan, ia tak pernah merasa ada yang perlu ia menangkan karena ia tak pernah menganggap ada yang harus ia taklukkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika makin banyak pedagang roti mengendarai motor bahkan mobil, ia tak merasa dagangannya bakal tersingkir. Justru dengan berjalan kaki, ia bisa mengetok pintu demi pintu, bisa berbicara dan berbasa-basi dengan tiap rumah. Ia tidak seperti pedagang roti yang mengendarai mobil, yang sapaannya terkadang terdengar angkuh lewat klakson atau lagu-lagu dari rekaman kaset yang membosankan. “Bu…. Kuenya Bu?” adalah sapaannya yang khas. Lalu dengan cepat ia akan membeberkan dagangannya dari gendongannya. Tahu dan tempe goreng, onde-onde, lepat pisang, lontong, kroket, dadar gulung, kue lapis, bertebaran tinggal pilih. Walau pun ia tahu, tak semua rumah akan sudi menyetopnya dan membeli dagangannya, senyumnya selalu mengembang. “Tiap orang ada rezekinya Pak. Alhamdulilah, selama tiga tahun ini, saya merasa makin banyak langganan. Makin hari makin baik-baik saja orang-orang kepada saya. Syukur alhamdulillah, tidak ada yang marah-marah. Tidak ada anjing yang mengejar-ngejar saya,” kata dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi bagi Suwarti adalah harapan. Seburuk apa pun cuaca, seberat apa pun perjalanan yang harus ia tempuh, ia selalu pasti bahwa rezekinya ada pada pagi. Payungnya akan ia kembangkan manakala hujan turun kepagian. Ketika saya menduga bahwa hujan adalah malapetaka baginya karena itu akan menghambat perjalanannya, apalagi ia harus berjalan kaki memutar kompleks kami, ia malah tersenyum. “Justru kalau turun hujan Pak, orang malas keluar cari sarapan. Kue saya malahan lebih laku kalau turun hujan,” katanya. Sebuah jawaban yang bagi saya penuh optimisme dan pengharapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan klasik yang sesungguhnya tak perlu lagi dilontarkan manakala berkenalan dengan orang seperti Suwarti adalah untuk apa dan mengapa ia bekerja membanting tulang. Sudah barang tentu orang seperti dia harus membanting tulang. Untuk makan-minum dirinya. Untuk menyambung hidupnya anak beranak. Tetapi toh, saya harus menanyakan itu, untuk mengeksplorasi siapa tahu ada lagi yang membuat dirinya mempunyai energi yang luar biasa. Dan, ternyata memang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua anaknya, semuanya diasuh oleh keluarga mertuanya dengan biaya dari suami dan dirinya, adalah energi yang tak pernah habis. Ia selalu membayangkan anak-anaknya itu kelak mendapat pendidikan yang baik. Ia ingin mereka kelak dapat menikmati hidup lebih dari yang dinikmatinya kini. Kemana pun dan sampai setinggi apa pun, ia ingin mendukung anak-anaknya, sepanjang itu berarti menempuh pendidikan yang baik dan lebih tinggi. “Saya sepenuhnya tergantung mereka. Kalau mereka bersekolah dengan baik, mereka belajar dengan baik, saya akan usahakan. Tidak ada kata berhenti bagi saya, Pak,” kata dia. Senyumnya pasti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentulah berat bagi Suwarti menggali energi itu. Anak-anak itu tinggal di tempat yang jauh, yang mungkin hanya bisa ia temui sekali dalam setahun manakala lebaran tiba. Tetapi semakin ia pikirkan itu, semakin besar ia rasakan tenaga yang bisa ia gunakan. Ia bayar kerinduannya kepada anak-anaknya itu dengan bekerja lebih antusias. Menyapa anak-anak di kompleks kami seperti ia menyapa anaknya sendiri. Menjajakan kue kepada orang-orang dengan keyakinan kue-kue itu akan jadi sumber energi juga bagi orang-orang yang bekerja untuk anak-anak mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak kecewa dengan harga-harga yang mulai naik, dan BBM yang membubung?, tanya saya sedikit menggoda pemikirannya untuk berpikir menyalahkan keadaan. Tetapi Suwarti rupanya tak tertarik membicarakan apa yang ia rasa bukan urusannya. “Saya tidak mau memikirkan yang membuat pusing kepala saya Pak,” kata dia. Menurut dia, sepanjang ia masih bisa menabung, dan sepanjang uang yang harus ditabungnya setiap bulan tak berkurang, ia tak mau berpikir susah-susah. Walau pun untuk itu ia mungkin harus mencukupkan uang sisa setelah tabungan itu untuk makan ala kadarnya bersama suaminya. Dan, berarti juga, ia tak boleh sakit. Kalau pun sakit, ia harus berpura-pura tidak sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebaran ini Suwarti tidak mudik. Menurut dia, beberapa bulan lalu suaminya telah mudik karena mertuanya laki-laki berpulang. Itu artinya sang suami telah mudik yang berarti pula kemewahan untuk mudik tahun ini telah terpakai, walau pun bukan pada waktunya. Kerinduannya kepada anak-anaknya, mungkin harus ia bayar pada lebaran tahun depan, atau di suatu masa di bulan-bulan depan, manakala ada rezeki yang berlebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya mengatakan terimakasih banyak, sudah mau saya ajak berbincang-bincang, ia tersenyum dan juga mengucapkan terimakasih. Ketika saya silakan, teh manis yang disuguhkan istri saya ia habiskan sekali teguk, pertanda ia mungkin sudah kehausan sejak tadi. Saya menyalahkan diri sendiri, betapa egoisnya saya tak mempersilakannya minum dari tadi, dan lebih medahulukan kepentingan saya menanyai dia. Ia kemudian merapikan keranjang kuenya dan menggendongnya kembali. Hari masih jam 10 lewat sedikit, ketika ia akan pulang ke rumahnya, lebih kurang lima kilometer dari tempat kami. “Mari Pak,” katanya mengangguk. Senyumnya itu, akan selalu membuat saya bangga sebagai orang Indonesia.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciputat, 12 Juli 2005&lt;br /&gt;© Eben Ezer Siadari&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18947851-7558655451604808582?l=banggaindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://banggaindonesia.blogspot.com/feeds/7558655451604808582/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=18947851&amp;postID=7558655451604808582&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18947851/posts/default/7558655451604808582'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18947851/posts/default/7558655451604808582'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://banggaindonesia.blogspot.com/2011/05/selalu-ada-pagi-bagi-suwarti_25.html' title='Selalu ada pagi bagi Suwarti'/><author><name>Eben Ezer Siadari</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sDOvG1QwyNo/SEYuxWm2rnI/AAAAAAAAALk/Kai8v-INR70/S220/foto-abdi2.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-3GaBxMEPbP0/TdzHk2we1KI/AAAAAAAABFw/6WVzTPYu5xk/s72-c/suwarti.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18947851.post-113196116715464049</id><published>2011-05-23T07:09:00.000+07:00</published><updated>2011-05-23T07:09:08.897+07:00</updated><title type='text'>Selalu Ada Pagi bagi Suwarti</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/6161/1865/1600/tkkue2.1.jpg" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://photos1.blogger.com/blogger/6161/1865/320/tkkue2.1.jpg" style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada pagi yang tak cerah bagi Suwarti. Pagi adalah matahari bagi hidupnya. Angin yang basah dan dingin, mendung, kabut bahkan hujan, tak pernah menjadi penghalang baginya menyongsong pagi dan matahari hidupnya. Setiap pagi, tak pernah lewat dari pukul 6:30, ketika banyak ibu rumah tangga masih bersiap-siap memberangkatkan putra-putrinya ke sekolah, ketika orang-orang yang akan ke kantor mungkin masih belum menyiapkan baju kerjanya, Suwarti sudah beredar di jalanan kompleks perumahan kami di Ciputat. Suaranya yang nyaring tetapi dengan nada rendah sudah kami kenal dengan akrab. “Kue….kue….. Kue Pak? Kue Bu?” Suara itu berkumandang diiringi dengan langkah kakinya yang cepat dan suara sandalnya yang kadang seperti terseret. Menggendong kue jualannya, ia berjalan kaki sepanjang perumahan berisi ratusan rumah itu. Suaranya masih terdengar terus bahkan dari kejauhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama kali saya tertarik pada Suwarti adalah karena wanita ini masih demikian muda, 30 tahun, tetapi ia benar-benar berwajah orang Jawa tempo dulu. Menggendong jualannya dengan busana seperti mbok-mbok jamu, dengan langkah yang gesit, dan, ya, ia selalu hadir dalam ukuran waktu yang tak pernah meleset. Tak urung saya menyetopnya sekali waktu, sepulang ia menjajakan jualannya. Dan, ia dengan kesopanan seorang ibu yang tak mau menaruh curiga kepada siapa pun, melayani pertanyaan-pertanyaan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suwarti adalah seorang wanita kelahiran Solo. Ibu dari dua orang anak, berumur 10 tahun dan enam tahun, ia bagi saya adalah potret wanita Indonesia yang seharusnya membuat kita selalu bangga jadi orang Indonesia. Tiga tahun terakhir ia jalani hidupnya dengan menjajakan kue di perumahan kami di Vila Dago Tol, dengan berjalan kaki. Dengan mengambil 150 potong kue dari juragannya yang tinggal di belahan lain daerah Ciputat, ia mengantongi keuntungan Rp25 ribu setiap hari. Dari rumah ia berangkat subuh-subuh, untuk mengejar pagi yang penuh rejeki di perumahan kami itu. Ketika hari sudah menunjukkan jam 10, ia biasanya menuntaskan ‘perjalanannya’ sebagai penjaja kue hari itu. Jam 11, ia sudah tiba di rumah kontrakannya seharga Rp200 ribu per bulan, untuk kembali sebagai ibu rumah tangga. Suaminya seorang pekerja bangunan yang rajin, tetapi tak selalu ada proyek yang membutuhkan tenaganya. Dengan kombinasi profesi yang demikian, ia dan suaminya bisa menyekolahkan kedua anaknya, satu di kelas empat SD satu lagi di kelas satu. Kedua anak itu dititipkan di kampung mertuanya, Purwodadi. Setiap bulan mereka mengirimkan uang untuk biaya sekolah anak-anaknya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suwarti dulunya adalah pembantu rumah tangga. Perkawinannya dengan suaminya yang dia kenal di Jakarta ini, membuat ia lama-lama berpikir untuk menyudahi saja pekerjaannya sebagai PRT, yang ia istilahkan ‘ikut orang.’ Setelah pernah mencoba berjualan macam-macam barang, akhirnya ia menemukan juragan kue yang bagi dia memberikan harapan. Dari juragannya itu ia mengambil kue setiap pagi lalu menjualnya dengan harga yang ia tetapkan sendiri. Setiap hari ia menyetor kepada juragannya Rp50 ribu. Kue yang tersisa dapat ia kembalikan. Dan ini, bagi Suwarti adalah sistem yang benar-benar ia sukai. Makin hari makin besar keuntungan yang ia peroleh. Tiga tahun terakhir ia rasakan sebagai tahun yang penuh pertumbuhan, menyebabkan ia selalu memandang pagi sebagai pagi yang penuh pengharapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak menamatkan SD, anak bungsu dari empat bersaudara, pada tahun 1995 Suwarti meninggalkan orang tuanya di kampung halamannya yang hidup sebagai petani kecil. Seperti kebanyakan cerita orang-orang marginal, ia kala itu tak punya pilihan selain menjadi PRT untuk bisa bertahan di Jakarta. Kota ini bagi Suwarti adalah kota yang keras, tetapi kota yang selalu memberikan harapan. Hidup sebagai orang yang termarginalkan tidak dihabiskannya dengan kemarahan dan dendam kepada hidup. Ia, sebagaimana yang dapat saya lihat dari bagaimana ia bekerja, menjalani hari-harinya dengan ketekunan seorang yang menikmati apa yang dapat ia nikmati. Mensyukuri kesehatannya yang menyebabkan ia tampak tak pernah kelelahan di terik Jakarta. Dan, ia tak pernah merasa ada yang perlu ia menangkan karena ia tak pernah menganggap ada yang harus ia taklukkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika makin banyak pedagang roti mengendarai motor bahkan mobil, ia tak merasa dagangannya bakal tersingkir. Justru dengan berjalan kaki, ia bisa mengetok pintu demi pintu, bisa berbicara dan berbasa-basi dengan tiap rumah. Ia tidak seperti pedagang roti yang mengendarai mobil, yang sapaannya terkadang terdengar angkuh lewat klakson atau lagu-lagu dari rekaman kaset yang membosankan. “Bu…. Kuenya Bu?” adalah sapaannya yang khas. Lalu dengan cepat ia akan membeberkan dagangannya dari gendongannya. Tahu dan tempe goreng, onde-onde, lepat pisang, lontong, kroket, dadar gulung, kue lapis, bertebaran tinggal pilih. Walau pun ia tahu, tak semua rumah akan sudi menyetopnya dan membeli dagangannya, senyumnya selalu mengembang. “Tiap orang ada rezekinya Pak. Alhamdulilah, selama tiga tahun ini, saya merasa makin banyak langganan. Makin hari makin baik-baik saja orang-orang kepada saya. Syukur alhamdulillah, tidak ada yang marah-marah. Tidak ada anjing yang mengejar-ngejar saya,” kata dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi bagi Suwarti adalah harapan. Seburuk apa pun cuaca, seberat apa pun perjalanan yang harus ia tempuh, ia selalu pasti bahwa rezekinya ada pada pagi. Payungnya akan ia kembangkan manakala hujan turun kepagian. Ketika saya menduga bahwa hujan adalah malapetaka baginya karena itu akan menghambat perjalanannya, apalagi ia harus berjalan kaki memutar kompleks kami, ia malah tersenyum. “Justru kalau turun hujan Pak, orang malas keluar cari sarapan. Kue saya malahan lebih laku kalau turun hujan,” katanya. Sebuah jawaban yang bagi saya penuh optimisme dan pengharapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan klasik yang sesungguhnya tak perlu lagi dilontarkan manakala berkenalan dengan orang seperti Suwarti adalah untuk apa dan mengapa ia bekerja membanting tulang. Sudah barang tentu orang seperti dia harus membanting tulang. Untuk makan-minum dirinya. Untuk menyambung hidupnya anak beranak. Tetapi toh, saya harus menanyakan itu, untuk mengeksplorasi siapa tahu ada lagi yang membuat dirinya mempunyai energi yang luar biasa. Dan, ternyata memang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua anaknya, semuanya diasuh oleh keluarga mertuanya dengan biaya dari suami dan dirinya, adalah energi yang tak pernah habis. Ia selalu membayangkan anak-anaknya itu kelak mendapat pendidikan yang baik. Ia ingin mereka kelak dapat menikmati hidup lebih dari yang dinikmatinya kini. Kemana pun dan sampai setinggi apa pun, ia ingin mendukung anak-anaknya, sepanjang itu berarti menempuh pendidikan yang baik dan lebih tinggi. “Saya sepenuhnya tergantung mereka. Kalau mereka bersekolah dengan baik, mereka belajar dengan baik, saya akan usahakan. Tidak ada kata berhenti bagi saya, Pak,” kata dia. Senyumnya pasti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentulah berat bagi Suwarti menggali energi itu. Anak-anak itu tinggal di tempat yang jauh, yang mungkin hanya bisa ia temui sekali dalam setahun manakala lebaran tiba. Tetapi semakin ia pikirkan itu, semakin besar ia rasakan tenaga yang bisa ia gunakan. Ia bayar kerinduannya kepada anak-anaknya itu dengan bekerja lebih antusias. Menyapa anak-anak di kompleks kami seperti ia menyapa anaknya sendiri. Menjajakan kue kepada orang-orang dengan keyakinan kue-kue itu akan jadi sumber energi juga bagi orang-orang yang bekerja untuk anak-anak mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak kecewa dengan harga-harga yang mulai naik, dan BBM yang membubung?, tanya saya sedikit menggoda pemikirannya untuk berpikir menyalahkan keadaan. Tetapi Suwarti rupanya tak tertarik membicarakan apa yang ia rasa bukan urusannya. “Saya tidak mau memikirkan yang membuat pusing kepala saya Pak,” kata dia. Menurut dia, sepanjang ia masih bisa menabung, dan sepanjang uang yang harus ditabungnya setiap bulan tak berkurang, ia tak mau berpikir susah-susah. Walau pun untuk itu ia mungkin harus mencukupkan uang sisa setelah tabungan itu untuk makan ala kadarnya bersama suaminya. Dan, berarti juga, ia tak boleh sakit. Kalau pun sakit, ia harus berpura-pura tidak sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebaran ini Suwarti tidak mudik. Menurut dia, beberapa bulan lalu suaminya telah mudik karena mertuanya laki-laki berpulang. Itu artinya sang suami telah mudik yang berarti pula kemewahan untuk mudik tahun ini telah terpakai, walau pun bukan pada waktunya. Kerinduannya kepada anak-anaknya, mungkin harus ia bayar pada lebaran tahun depan, atau di suatu masa di bulan-bulan depan, manakala ada rezeki yang berlebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya mengatakan terimakasih banyak, sudah mau saya ajak berbincang-bincang, ia tersenyum dan juga mengucapkan terimakasih. Ketika saya silakan, teh manis yang disuguhkan istri saya ia habiskan sekali teguk, pertanda ia mungkin sudah kehausan sejak tadi. Saya menyalahkan diri sendiri, betapa egoisnya saya tak mempersilakannya minum dari tadi, dan lebih medahulukan kepentingan saya menanyai dia. Ia kemudian merapikan keranjang kuenya dan menggendongnya kembali. Hari masih jam 10 lewat sedikit, ketika ia akan pulang ke rumahnya, lebih kurang lima kilometer dari tempat kami. “Mari Pak,” katanya mengangguk. Senyumnya itu, akan selalu membuat saya bangga sebagai orang Indonesia.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciputat, 12 Juli 2005&lt;br /&gt;© Eben Ezer Siadari&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18947851-113196116715464049?l=banggaindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://banggaindonesia.blogspot.com/feeds/113196116715464049/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=18947851&amp;postID=113196116715464049&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18947851/posts/default/113196116715464049'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18947851/posts/default/113196116715464049'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://banggaindonesia.blogspot.com/2005/12/selalu-ada-pagi-bagi-suwarti.html' title='Selalu Ada Pagi bagi Suwarti'/><author><name>Eben Ezer Siadari</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sDOvG1QwyNo/SEYuxWm2rnI/AAAAAAAAALk/Kai8v-INR70/S220/foto-abdi2.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18947851.post-113766633500664777</id><published>2009-01-19T17:18:00.001+07:00</published><updated>2011-05-22T10:07:16.852+07:00</updated><title type='text'>Pak Sumarso Pahlawan Saya</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/6161/1865/1600/Pak%20Sumarso%2C%20krl.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://photos1.blogger.com/blogger/6161/1865/320/Pak%20Sumarso%2C%20krl.jpg" style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt;" /&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;Pak Sumarso tak mengenal saya. Saya pun tak kenal beliau. Ia tak berbicara dengan saya. Saya pun tak sempat menyapa dia. Perjumpaan kami tak lebih dari delapan menit. Bahkan sebenarnya bukan perjumpaan. Hanya secara kebetulan kami berada pada satu waktu di satu tempat. Yakni di Kereta Rel Listrik (KRL) AC jurusan Serpong-Tanah Abang. Suatu hari di minggu pertama Januari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Pak Sumarso begitu melekat di hati saya. Dan saya mencatat namanya yang tertera di atas saku baju kerjanya yang berwarna biru muda. Saya bahkan sempat memotret wajahnya dengan kamera&lt;i&gt; handphone&lt;/i&gt;, meskipun tak sempurna hasilnya. Pak Sumarso kala itu sedang berbicara menjurus kepada berdebat dengan salah seorang penumpang kereta itu. Di situlah saya mengaguminya. Dan saya jadi bangga jadi orang Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Sumarso adalah kondektur KRL AC bertiket Rp10 ribu sekali jalan (tetapi diskon 20% sehingga efektifnya adalah Rp8 ribu). Pagi itu seperti biasa, ia memeriksa satu per satu karcis penumpang. Ketika tiba giliran seorang penumpang yang berdiri tak jauh dari saya, sang penumpang menyodorkan uang Rp5.000-an seraya berbisik-bisik. Tapi Pak Sumarso menolak. Ia menasihati lawan bicaranya itu agar seharusnya tak naik KRL&amp;nbsp; jika tak punya tiket.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/6161/1865/1600/Pak%20Sumarso%2C%20krl.jpg"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Penumpang masih berusaha bernegosiasi. Mengatakan bahwa ia terburu-buru. Mengatakan bahwa ia harus segera tiba di kantor. Dan terus saja menyodor-nyodorkan Rp5000-an itu. Tapi Pak Sumarso bergeming. Dan Pak Sumarso menjelaskan peraturan bahwa penumpang yang tidak dapat menunjukkan karcis, harus didenda lima kali dari harga karcis. Itu berarti Rp50 ribu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Penumpang merah padam mukanya. Ia masih ngotot dan berkata ia tidak punya uang sebesar itu. Pak Sumarso, dengan kesabaran seorang orang tua dan emosi sedingin es, kembali berkata bahwa ia harus menjalankan tugasnya. Lalu ia mengatakan jika Pak Penumpang tak bersedia membayar, atau sedang tidak punya uang, ia akan meminta Kartu Tanda Penduduk (KTP)nya. KTP itu akan dititipkan di salah satu stasiun. Nanti kalau Pak Penumpang sudah punya uang, ia dapat menebus KTP itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Penumpang masih bersungut-sungut. Tapi ia tak dapat berbuat apa-apa. Ia menyerahkan KTPnya kepada Pak Sumarso. Lalu Pak Sumarso merogoh tas kecil yang disandangnya. Mengeluarkan surat tanda terima, mengisi dan menandatanganinya lantas menyerahkan kepada Pak Penumpang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Penumpang merah padam mukanya. Penumpang lain terbelah dua reaksinya. Seorang penumpang berkata, seolah membela Pak Penumpang yang kena denda. "Biarin aja. Jangan ambil KTPnya. Nanti bikin KTP baru saja," katanya. Tapi penumpang lain di kereta itu diam menjurus menyalahkan Pak Penumpang yang tak punya karcis. Memang tak adil jika ada orang yang bersusah payah membeli karcis Rp8000, sementara ada yang ingin naik dengan menyogok sang kondektur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa sih istimewanya Pak Sumarso? Kok ia bisa menyita perhatian dan perlu pula mengambil waktu untuk diceritakan di sini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Sumarso barangkali tak istimewa bagi mereka yang belum mengenal suasana kereta api di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek). Tetapi sekali kita kenal dan memahami apa yang terjadi di atas kereta itu, kita akan setuju bahwa tindakan kecil yang dilakukan Pak Sumarso adalah kemewahan yang makin susah kita cari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir setiap hari saya menggunakan jasa kereta api berangkat dari stasiun Sudimara di kawasan Ciputat ke stasiun Tanah Abang di Jakarta Pusat. Sesekali naik KRL AC tetapi lebih sering naik KRL Ekonomi dengan tiket Rp1.500 sekali jalan. Dan&amp;nbsp; selalu muncul rasa sedih luar biasa. Di KRL Ekonomi itu, dengan harga tiket yang menurut saya paling murah dibanding ongkos kendaraan umum mana pun di Jakarta ini, toh masih banyak yang tak mau bersusah-susah membeli tiket. Saya tidak tahu mengapa. Ada yang memang samasekali tak mau menyisihkan uang Rp1.500. Ada yang seolah-olah tanpa rasa bersalah menyelipkan Rp1.000 an ke tangan kondektur. Dan semua orang sepertinya sudah tahu sama tahu tentang 'korupsi' kecil-kecilan yang terjadi secara massal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang mengherankan, para kondektur KRL Ekonomi itu sepertinya juga acuh menjurus senang dengan keadaan itu. Caranya menagih tiket, dengan hanya menggamit satu per satu penumpang tetapi tidak pernah dengan sungguh-sungguh menagihnya, sungguh membingungkan saja. Banyak diantara penumpang itu berpura-pura tidur ketika Pak Kondektur melintas. Dan Pak Kondektur mendiamkan saja. Yang lebih menyakitkan hati, para penumpang yang duduk adem diantara berjubelnya penumpang itu, banyak juga yang samasekali tidak membayar. Dan terus mengoceh kesana-kemari, tentang enaknya makan di restoran X, tentang sedapnya pulang kampung liburan kemarin dengan naik pesawat terbang. Tetapi giliran Pak Kondektur menagih tiketnya, ia cuma nyengir dan mengangkat tangan, "Halo Pak, hehehe." Dan Pak Kondektur seolah salah tingkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/6161/1865/1600/Krlac040106b.0.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://photos1.blogger.com/blogger/6161/1865/320/Krlac040106b.0.jpg" style="cursor: pointer; float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan dikira mereka yang tak sudi membeli tiket itu, atau yang menyogok dengan Rp1000-an itu adalah orang-orang tidak mampu. Atau orang-orang yang tidak berpendidikan. Tidak. Para pedagang, ibu-ibu rumah tangga yang mengantarkan anaknya ke sekolah, banyak juga yang disiplin membayar. Justru yang tidak sudi membayar itu, dugaan saya adalah kalangan berpendidikan, terpelajar, dan bekerja di Jakarta. Justru karena mereka sudah terbiasa naik KRL itu, sudah mengenal dengan akrab para kondekturnya, maka mereka menganggap semua bisa diatur. Semua bisa cincai. Dan korupsi kecil-kecilan tapi massal itu terjadi terus-menerus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di KRL AC keadaannya memang tak separah di KRL Ekonomi itu. Penumpang pada umumnya disiplin membeli tiket dan menunjukkannya kala Pak Kondektur memeriksa. Tapi tidak selalu. Ada juga kalanya kondektur-kondekturnya termakan oleh sogok. Saya bahkan pernah bersitegang ketika seorang penumpang menyodorkan Rp5000-an kepada Pak Kondektur dan sang Kondektur dengan diam-diam menyelipkan ke kantongnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya protes. "Pak, kok tidak didenda. Padahal, banyak penumpang manakala tidak dapat menunjukkan karcis, didenda?" Tanya saya kala itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Kondektur menoleh kepada saya. Lantas berkata. "Kapan? Tapi bukan oleh saya bukan?" kata dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, Pak Kondektur itu salah menangkap pesan. Bukan persoalan apakah dia atau kondektur lainnya yang melakukannya. Melainkan alangkah tidak adilnya bila seorang kondektur seperti dirinya membiarkan orang tak membayar tiket secara penuh, membiarkan orang lain membayar lebih besar dan membiarkan jasa perkertaapian terus terpuruk seperti sekarang. Dan lebih parah, membuat harga diri, kewibawaan para kondektur merosot dari waktu ke waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah &lt;i&gt;talkshow&lt;/i&gt; di TVRI beberapa waktu lalu yang membahas perkeretaapian, seorang pejabat yang menangani kereta api membuat saya gemas dan jengkel. Ketika itu ada seorang penelepon mengeluh bahwa kereta api di Jabodetabek ini sudah seperti rimba tak bertuan. Dan memang penelepon itu benar. Semua orang bisa naik. Dan kondektur samasekali kehilangan wibawa. Korupsi berjalan tanpa ada yang menghentikan. Kondektur mengutip uang dari para penumpang, bukan mengharuskan penumpang membeli tiket. Dan semua diam. Seperti semuanya sudah berjalan wajar. Seolah-olah kereta itu bisa berjalan dengan sendirinya, tanpa bahan bakar yang ditanggung belanja negara yang padahal itu dibebankan kepada kita dan anak cucu kita. Dalam bentuk pajak. Dalam bentuk utang luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi apa jawab Pak Pejabat itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata dia, dilihat dari kapasitas KRL Ekonomi Jabodetabek memang sudah tidak memungkinkan lagi bagi kondektur untuk memeriksa tiket. Menurut dia, penumpang demikian berjubel sehingga kondektur tak sempat memeriksa satu per satu. Karena itu, menurut dia, setiap stasiun akan dibenahi lagi sehingga hanya yang punya tiket yang bisa masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Pejabat itu bohong. Atau setidaknya setengah benar. Atau ia memang samasekali tak pernah naik KRL Ekonomi. Jika ia pernah naik KRL Ekonomi, ia akan tahu, seberjubel apa pun KRL itu, Pak Kondektur pasti akan berkeliling memeriksa tiket. Tetapi Pak Kondektur memang tidak benar-benar memfokuskan tugasnya memeriksa tiket. Ia lebih memusatkan perhatian untuk mengutip Rp1000-an dari tiap-tiap penumpang dan memasukkannya ke kantongnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boleh juga diuji dengan cara lain. Coba lah Pak Pejabat itu naik KRL Ekonomi trip terakhir dari Tanah Abang menuju Serpong. KRL itu biasanya sudah agak sepi dan tidak ada alasan bahwa Pak Kondektur tak bisa menjalankan tugasnya karena berjubel. Pak Pejabat mungkin akan terkejut bahwa praktik yang terjadi sama saja. Kebanyakan penumpang tak membeli tiket seharga Rp1.500 itu. Banyak yang cuma mengangkat tangan, atau satu dua menyerahkan Rp1000-an. Pak Kondektur, dengan keramahan seorang orang baik-baik, segera mengantongi uang itu. Pak Kondektur itu sudah menyalahartikan arti keramahan. Menjadi orang baik, bukan dengan cara demikian. Ia justru akan menjadi orang baik, bila ia menjalankan tugasnya sebagaimana mestinya. Sehingga perekerataapian kita sehat. Sehingga uang negara tidak terus-menerus digunakan untuk menomboki kerugiannya. Sehingga negara bisa mengalokasikan lebih banyak lagi uang untuk pendidikan. Dan uang sekolah lebih murah. Uang sekolah anak-anak kondektur itu dan juga uang sekolah anak-anak kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi korupsi massal itu berjalan terus. Entah sampai kapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah bosan kita bicara tentang parahnya korupsi. Sudah bosan pula kita digemparkan oleh pembongkaran kasus-kasus korupsi di media. Juga kita sudah bosan mendengar para eksekutif perusahaan kereta api kita mengeluh bahwa mereka butuh dana, butuh investasi baru, butuh uang membenahi dan membeli kereta api baru. Tapi mengapa kebocoran-kebocoran seperti itu dibiarkan? Dan itu dibiarkan bukan karena mereka tak mampu mengatasinya, tetapi justru karena sebagian orang kereta api itu sendiri menikmatinya dan mendapatkan keuntungan dari sana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Sumarso yang saya lihat tipikal sekali dengan kebanyakan orang Jawa yang hidupnya prihatin. Potongan rambutnya rapih, sebagaimana para priyayi umumnya. Cara berpakaiannya mirip seperti para pegawai negeri umumnya. Kemeja biru muda dan celana panjangnya biru tua, terseterika dengan rapih. Tapi tindakannya itu, di KRL AC pada pagi hari itu, benar-benar membuat saya bangga jadi orang Indonesia. Sudah terlalu sering&amp;nbsp; kita tak menemukan orang seperti Pak Sumarso. Yang bisa bertindak tegas dengan suaranya yang lembut. Yang tidak bergeming walau pun ada yang membujuknya. Walau pun tindakaannyaa menyebabkan ia disalah-salahkan. Ia menjadi minoritas diantara mayoritas buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira kita pantas mencari sebanyak mungkin orang seperti Pak Sumarso.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 19 Januari 2006&lt;br /&gt;© Eben Ezer Siadari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Post Script: Tulisan ini dibuat pada tahun 2006, dan sejak itu telah terjadi berbagai kemajuan dalam pelayanan KRL Jabodetabek. Para penumpang semakin disiplin membeli tiket walau pun kereta yang berjubel masih belum terhindarkan. Orang-orang yang menggunakan jasa kereta pun meningkat terus, stasiun-stasiun makin diperbaiki dan sudah jarang para kondektur mengutip uang untuk dikantongi sendiri, meski pun masih ada.&lt;br /&gt;Keterangan Foto:&lt;br /&gt;1. Pak Sumarso, ketika memergoki penumpang (tidak terlihat) yang tak membeli tiket&lt;br /&gt;2. Suasana di KRL AC Serpong-Tanah Abang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18947851-113766633500664777?l=banggaindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://banggaindonesia.blogspot.com/feeds/113766633500664777/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=18947851&amp;postID=113766633500664777&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18947851/posts/default/113766633500664777'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18947851/posts/default/113766633500664777'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://banggaindonesia.blogspot.com/2006/01/pak-sumarso-pahlawan-saya.html' title='Pak Sumarso Pahlawan Saya'/><author><name>Eben Ezer Siadari</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sDOvG1QwyNo/SEYuxWm2rnI/AAAAAAAAALk/Kai8v-INR70/S220/foto-abdi2.JPG'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18947851.post-115935275022459600</id><published>2006-09-27T17:25:00.001+07:00</published><updated>2011-05-25T09:39:12.363+07:00</updated><title type='text'>Ratih van Ngawi</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/0305/09/09ratih.gif"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/0305/09/09ratih.gif" style="cursor: pointer; float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 320px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;(satu)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Saya belum pernah bertemu Ratih Sanggarwati. Lihat fotonya sering. Baca berita tentang dirinya beberapa kali. Pak Syahrir Wahab, bos saya dulu di tempat kerja yang lama, sekali dua bercerita juga tentang adik iparnya itu. Namun itu tak terlalu penting. Yang membuat Ratih Sang, begitu ia akrab dipanggil, menjadi penting, adalah ketokohannya. Ia  peragawati senior yang kini jadi public figure. Ibu dari tiga anak ini menjadi kolomnis di beberapa media, pembicara talk show tentang banyak hal, juga punya perusahaan pelatihan model. Perjalanannya sebagai  peragawati ditandai dengan aneka prestasi. Termasuk pernah menjadi Putri Remaja tahun 1980 dan None Jakarta tahun 1983.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah lama Ratih Sang mencuri perhatian saya. Bukan hanya karena sederet prestasi dan ketokohannya yang membuat celutukannya didengar orang. Melainkan karena kecintaannya yang habis-habisan kepada Ngawi. Ia memang dilahirkan di kota itu,  tanggal 8 Desember 1962. Ia juga dibesarkan di sana. Dan tampaknya dalam setiap kesempatan Ratih selalu berusaha 'menyebut-nyebut' Ngawi bila memungkinkan. Dan selalu bangga mengatakan dirinya berasal dari Ngawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya saya juga belum  pernah ke Ngawi. Sehingga saya tidak bisa menggambarkan seberapa kecil kota itu. Tetapi yang saya dengar, Ngawi itu adalah kota kabupaten yang sejuk tetapi tidak terlalu menonjol. Letaknya di ujung Barat Jawa Timur, di sebelah Utara Gunung Lawu dan berbatasan langsung dengan Jawa Tengah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Almarhum Umar Kayam, budayawan yang juga kelahiran Ngawi, punya lelucon yang elegan untuk menggambarkan betapa kecilnya kota Ngawi. Sewaktu masih remaja, ia masih ingat, tiap menjelang subuh para pensiunan di kota itu ramai berolah-raga di alun-alun. Dan bila mereka batuk-batuk pada dini hari yang masih sunyi, menurut Kayam, seantero kota bisa mendengarkannya. Begitulah Kayam, idola saya dalam gaya menulis dan mencintai budaya nenek moyangnya, menggambarkan bagaimana mungilnya kota Ngawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, Ratih benar-benar jatuh cinta pada kota Ngawi yang kecil itu, yang berada di wilayah perbatasan dua propinsi yang high profile. Kecintaan yang sangat jelas, tidak dibuat-buat, tapi juga tidak disembunyikan. Seperti cinta seorang anak kepada ibunya, yang membuat sang anak tak malu menciuminya setiap bertemu, memamerkan kemesraan kepada siapa pun. Dan semua orang yang melihatnya, ikut senang, ikut bahagia karena cinta yang demikian itu memang didamba siapa saja. Kita seolah diundang untuk dapat merasakan betapa manisnya rasa mencinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tahu hal itu pertama kali kira-kira 12 tahun lalu, dari cerita seorang rekan, wartawan asal Yogya yang rupanya banyak juga mengikuti gerak-gerik Ratih. Kata sang wartawan itu, sejak remaja Ratih sudah cinta berat sama Ngawi. Bahkan ketika ia sudah sukses jadi peragawati top di Jakarta, Ratih selalu menyempatkan pulang ke Ngawi manakala ada waktu. Ratih tak pernah malu mengaku sebagai Ratih van Ngawi. Ia selalu dengan bangga bercerita tentang Ngawi. Tentang keindahan dan keagungan alun-alunnya. Ratih malah  suka mengajak kawan-kawannya ikut berlibur ke Ngawi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam berbagai forum yang mendaulatnya sebagai pembawa acara mau pun pembicara, ia kerap menyelipkan Ngawi sebagai bahan perbincangan. "Kalau pulang ke Ngawi, sekarang ini saya lebih suka memilih naik kereta api. Soalnya kalau naik pesawat, ongkosnya sudah sangat berat. Bayangkan, saya harus membawa dua orang anak, dua baby sitter, lalu saya dan suami. Sudah berapa itu kalau saya harus naik pesawat Jakarta-Solo," kata dia, ketika ia menjadi pembicara dalam sebuah seminar tentang prospek industri penerbangan di tahun 1999. Kala itu ongkos pesawat terbang masih tergolong mahal dan momongan Ratih baru dua orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Dalam hati saya berpikir. Cerdas benar Ratih ini. Sudah mendapat honor untuk jadi pembicara, masih pula bisa melontarkan 'agenda tersembunyinya' mempopulerkan kota kelahirannya.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama Umar Kayam, Ratih juga sangat bersemangat menggalang orang-orang sekotanya, entah dimana pun, untuk memberi perhatian terhadap kota kelahirannya. Dulu saya masih ingat, Ratih sampai bicara berkali-kali di koran untuk menolak dibongkarnya alun-alun kota Ngawi. Di televisi, saya melihat matanya sampai berkaca-kaca ketika diwawancarai wartawan. Ratih yang matanya bulat berbinar, benar-benar mengundang simpati kala itu. Saya tidak tahu kelanjutan perjuangannya. Apakah alun-alun itu masih dilestarikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan yang paling membuat saya mengagumi dia adalah ketika ia menikah. Pesta dan resepsi pernikahannya dilaksanakan di kota kelahirannya yang kecil itu. Dan ia memang dengan sangat-sangat sengaja mengambil keputusan itu. Katanya, sebagai ucapan terimakasihnya kepada Ngawi yang dicintainya. Konon kota kecil itu mendadak sontak jadi macet total, dipenuhi oleh pembesar dan selebriti dari Jakarta. Betapa tidak. Ratih Sang yang peragawati top, adalah juga wanita yang punya hubungan luas di Jakarta. Tak kurang dari beberapa gubernur datang menghadiri pestanya itu. Juga Menteri (kala itu) sekretaris negara Moerdiono. Juga kawan-kawan peragawatinya. Artis film. Para seniman. Dan tentu saja, Umar Kayam sahabatnya, hadir dalam pesta yang akbar, yang membuat Ngawi seakan-akan lebih kecil lagi…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/0305/09/09ratih.gif"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/0305/09/09ratih.gif" style="cursor: pointer; float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 320px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;(dua)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampung saya, Sarimatondang, jauh lebih kecil lagi dari Ngawi. Tidak punya alun-alun. Lapangan sepak bola yang tak jauh dari rumah kami, rumputnya sering lupa dipotong. Dan kerbau-kerbau dibiarkan saja merumput dan buang hajat di sana. Kantor kepala desanya sederhana sekali. Catnya sering tak diganti-ganti selama bertahun-tahun. Tetapi herannya, saya kok begitu sayang sama itu kampung. Seperti suara yang selalu memanggil-manggil bila ada waktu melamun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila lebaran tiba dan kawan-kawan sekantor riuh rendah bersiap-siap mudik entah ke Garut, ke Palembang, ke Surabaya, ke Solo dan sebagainya, saya kok ikut-ikut jadi melankolik mengingat-ingat The Beautiful Sarimatondang. Lebih parah lagi bila di bulan Desember. Melihat pohon cemara bergoyang-goyang, langsung ingat suasana Natal di Sarimatondang. Mendengar nada dering handphone Jingle bells, jingle bells, langsung terbayang Sarimatondang. Melewati Jalan Imam Bonjol sore hari dan  lonceng Gereja Ayam sayup-sayup berdentang, ingat pula lah Sarimatondang itu. Lebih parah lagi bila ingat, bahwa dompet sudah kosong melompong, tak bisa pulang kampung tahun ini. Makin lekat lagi bayangan tentang Sarimatondang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah ini cinta yang berlebihan-lebihan? Sifat chauvinistic yang tak rasional? Semacam penyakit mengagumi kampung sendiri yang tak terkendali? Atau sebetulnya sebentuk rasa bersalah, karena merasa berutang dan ingin membayarnya, tapi tak mampu atau tak sempat? Atau semacam perbincangan kepada diri sendiri, semacam wanti-wanti, agar tetap ingat, tidak lupa, sehingga tidak sesat dan tahu jalan pulang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah lagu  yang saya baru tahu setelah saya melanjutkan SMA di Pematang Siantar, lebih kurang 20 kilometer dari kampung halaman saya. Saya lupa siapa penciptanya, apakah Ibu Sud, Pak Kasur entah siapa. Maafkan saya. Lagu itu ada dalam sebuah kaset berisi sekumpulan lagu anak-anak. Penyanyinya seorang dewasa, bernama (Kak) Yenni, dengan suaranya yang lirih, sedikit manja, tetapi lafalnya jelas dan jernih. Kaset itu setiap kira-kira jam 5 pagi, disetel oleh tante saya, yang menjadi induk semang saya selama bersekolah di kota itu. Disetel keras-keras, maksudnya untuk membangunkan saya dengan keponakan-keponakan  yang masih duduk di bangku SD. Lagu yang jadi favorit saya itu  salah satu baitnya berbunyi begini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sungguh indah kampung halamanku&lt;br /&gt;Di kaki gunung yang tinggi&lt;br /&gt;Dimana pun kuberada &lt;br /&gt;Kampung halaman tak kan ku lupa.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mata yang sepenuhnya belum melek, dengan belek yang masih nempel di sana-sini, saya dan keponakan-keponakan biasanya langsung terbangun mendengar lagu itu. Dan makin lama, saya makin terbiasa mendengarnya. Makin menikmatinya. Makin menangkap pesannya. Dan makin tahu, memang betul bahwa kampung halaman tak kan bisa lupa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ratih Sang mungkin punya cara lain untuk mengingatkan anak-anaknya untuk mencintai kampung halamannya, Ngawi yang kecil tetapi ia cintai dengan sangat. Ratih Sang juga mungkin punya caranya sendiri untuk senantiasa mengingatkan orang lain bahwa ada lho, sebuah kota bernama Ngawi. Dan berbahagialah orang Ngawi yang punya peragawati top seperti Ratih Sang. Saya benar-benar iri. Seandainya Sarimatondang punya orang seperti dia. Yang bisa bicara dengan siapa saja. Yang bisa memanfaatkan kesempatan membicarakan kota kelahirannya kapan saja. Mungkin bencana matinya ribuan pohon pisang di kampung halaman saya akan segera menemukan jalan keluarnya. Setidaknya bencana itu jadi bahan omongan orang dimana-mana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan jika karena ini muncul tuduhan narcist, chauvinist, kampungan, norak, yah… tidak apa-apa. Pada dasarnya, kita semua dulu lahir di kampung, bukan? Bahkan, mungkin sedang berada di dalamnya. Global Village. Kampung World Cup dan entah apa lagi…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciputat, 24 Juni 2006&lt;br /&gt;© eben ezer siadari&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18947851-115935275022459600?l=banggaindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://banggaindonesia.blogspot.com/feeds/115935275022459600/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=18947851&amp;postID=115935275022459600&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18947851/posts/default/115935275022459600'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18947851/posts/default/115935275022459600'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://banggaindonesia.blogspot.com/2006/09/ratih-van-ngawi.html' title='Ratih van Ngawi'/><author><name>Eben Ezer Siadari</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sDOvG1QwyNo/SEYuxWm2rnI/AAAAAAAAALk/Kai8v-INR70/S220/foto-abdi2.JPG'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18947851.post-115935260629523556</id><published>2006-09-27T17:22:00.000+07:00</published><updated>2006-09-27T17:23:26.370+07:00</updated><title type='text'>Ngopi Bareng Jansen SInamo (3)</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Episode Ruang Tunggu&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/6161/1865/1600/jansen%20sinamo.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/6161/1865/200/jansen%20sinamo.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;13 April 2006, di sebuah kantor Pemerintah&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Setelah bersitegang agak lama dengan pegawai sebuah kantor Pemerintah Pemda DKI Jaya yang mengurusi klaim pensiunan, saya akhirnya terduduk loyo. Di sebuah bangku panjang berderet dekat ke tembok. Bersama istri saya yang hari itu, untuk kesekian kali datang ke kantor itu untuk urusan yang itu-itu juga. Saya menemaninya karena kasihan. Bolak-balik kantor itu mengurusi pensiun ibu mertua. Tidak kelar-kelar. Padahal sepekan sebelumnya, Bu Pejabat yang akan kami temui sudah menjanjikan hari ini urusan akan kelar. Eh, ketika kami datang, stafnya berkata mendadak si Ibu ada acara di luar kantor. Baru kembali lagi sore hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mau marah. Dan kemudian memang marah. Tetapi akhirnya saya memutuskan untuk menunggu. Menunggu sampai kapan pun si Bu Pejabat akan kembali. Walau para stafnya membujuk agar saya datang lagi besok. Atau menitipkan saja pesan. Saya tak mau. Saya akan menunggu, kata saya. Saya melirik jam. Pukul 9:52. Tak apa. Saya meminta agar istri saya pulang saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ruangan itu orang berlalu lalang dengan banyak urusan. Saya duduk, mulanya dengan hati dongkol. Tetapi kemudian saya teringat, di ransel saya di dalam mobil, saya masih membawa buku titipan dari Jansen Sinamo. Delapan Etos Kerja Profesional, Navigator Anda Menuju Sukses. Mengapa saya tak membacanya saja, untuk mengisi waktu?, pikir saya dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya segera berlari ke tempat parkir. Dan kemudian kembali lagi dengan buku karya Jansen di tangan. Segelas plastik Aqua dan seonggok gorengan saya bawa turut serta kemudian saya letakkan di samping saya. Itu membuat sejumlah orang di ruangan itu melihat penuh tanya kepada saya. Biarin. Mau? Beli sono….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mulai membaca buku itu. Di sana ada sebuah penjelasan tentang Rahmat.  Rahmat itu, per defenisi adalah kebaikan yang kita terima tanpa kualifikasi, tanpa syarat. Rahmat tidak dikaitkan dengan prestasi, merit atau kebaikan kita. Dengan kata lain rahmat itu adalah anugerah, berkat, kasih karunia, idop ni uhur kata orang Simalungun. Kata Jansen lagi, hanya Tuhan lah yang mampu memberikan rahmat yang paripurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rahmat itu ternyata ada macam-macamnya. Ada rahmat umum, yakni rahmat yang semua orang mendapatkan dan menikmatinya. Udara,  sinar matahari, hujan, bahasa ibu yang secara otomatis kita kuasai sejak kecil, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga rahmat khusus yakni rahmat yang secara istimewa didapatkan seseorang dan orang lain tidak. Misalnya (sekali lagi, misalnya nih), saya yang orang Batak ini dianugerahi Danau Toba yang luas dan cantik sehingga ketika orang bertanya tentang kampung halaman saya, saya dengan cepat bisa bilang, kira-kira satu jam dari Danau Toba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rahmat khusus ini bisa dalam berbagai bentuk. Semisal, rahmat yang bersifat serendipitas yakni menemukan atau memperoleh sesuatu yang bernilai tanpa mencarinya. Contoh klasik adalah penemuan Amerika oleh Columbus. IA sebenarnya tidak berniat menemukan benua itu.  Ia cuma ingin mencari jalur baru ke India. Tetapi ia gagal dan malah mendapat 'ganjaran' sebuah benua raksasa. Rahmat serendipitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rahmat khusus lain adalah rahmat yang muncul tak terduga-duga, koinsidensial, kebetulan.  Jansen menulis, "Terjadinya dua peristiwa secara bersamaan tak ada yang mengaturnya namun setangkup saling memenuhi." Misalnya, pada sautu saat kita sedang benar-benar membutuhkan  pertolongan si X. Tanpa kita duga-duga, si X menelepon dan kemudian muncul di hadapan kita. Sebuah rahmat yang tak terduga, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, jenis rahmat yang paling relevan bagi saya pagi itu, dan membuat saya jadi betah membaca buku itu berlama-lama adalah penjelasan Jasen tentang Rahmat Terselubung. Rahmat terselubung adalah rahmat yang datang dari berbagai kecelakaan. Misalnya, dalam kisah Titanic diceritakan ada satu keluarga di Inggris yang merencanakan liburan ke Amerika menumpang kapal itu. Namun beberapa hari sebelum berangkat, anak mereka digigit anjing dan positif kena rabies menyebabkan mereka batal berlayar. Beruntung bukan? Dibalik batalnya mereka berangkat, mereka terhindar dari maut. Blessing in disguised.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah, kata saya dalam hati. Hari ini saya mendapat rahmat terselubung. Di sela-sela kekesalan saya berhadapan dengan para priyayi dan ambteenar di kantor ini, ternyata saya diberi tempat duduk di ruang tunggu ini. Ditemani seglas Aqua dan gorengan. Saya jadi punya waktu berkonsentrasi penuh kepada si buku karya Jansen Sinamo. Dan, sungguh, saya benar-benar tidak membual, kurang lebih empat jam saya menunggu di ruang tunggu itu (Mulai pukul 10:00-14:00) saya berhasil menuntaskan membaca buku Jansen. Tidak capek. Kening tidak berkeriput. Karena bahasanya memang cair mengalir. Contoh-contohnya dalam. Walau pun, wah, kok Jansen kelihatannya senang sekali memperjelas sesuatu sampai sejelas-jelasnya ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjelasan tentang Rahmat tadi, adalah bagian dari penuturan Jansen tentang salah satu dari delapan Etos kerja profesional, yakni Etos 1: Kerja adalah rahmat.  Menurut Jansen, jika seorang profesional ingin sukses, jika sebuah korporasi ingin membangun keberhasilan yang sejati, etos semacam itu harus di bangun pada tiap insan, yakni Kerja adalah rahmat. Dengan menempatkan kerja sebagai rahmat,  bahwa pekerjaan adalah juga dianugerahkan oleh Tuhan karena kita yakin Dia yang selalu memelihara dan bersama kita, maka seseorang akan mengejawantahkannya dalam hidup berupa tekad 'Aku bekerja tulus penuh syukur.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda, sama seperti saya, awalnya pasti akan mentertawakan pernyataan, bahwa 'kerja adalah rahmat Tuhan.' Yang benar saja. Kita kan harus berjuang mati-matian mengalahkan saingan lain ketika dites untuk bekerja di sebuah perusahaan? Masa' sih itu anugerah? Diberi secara cuma-cuma oleh Tuhan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tertawa dalam hati dan mencoba mengikuti alur pikiran Jansen. Dan ternyata ia memang tidak hanya mendagel. Ia tidak hanya ingin menyenang-nyenangkan Tuhan dengan pernyataannya itu. Dia tidak sedang ingin jadi terlihat sebagai orang baik-baik. Sebab penjelasannya memang pada akhirnya dapat meyakinkan saya. Atau lebih tepatnya, memperlihatkan apa yang mungkin selama ini tak pernah terlintas di benak saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata dia, ada lima alasan mengapa kita menganggap pekerjaan adalah rahmat. Pertama, karena dengan pekerjaan lah Dia memelihara kita. Dengan bekerja lah kita dapat memenuhi kebutuhan diri sendiri dan keluarga. Dan itu adalah jalanNya menafkahi kita, bila kita percaya semua yang ada adalah milikNya. Masuk akal, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua., dengan bekerja orang tidak hanya dipenuhi kebutuhan jasmaniahnya. Ia bergaul, berinteraksi dan merasa jadi manusia seutuh-utuhnya. Jadi insan mulia. Ini tak pernah kita dapatkan karena usaha kita, melainkan ia adalah anugerah. Anugerah atau rahmat yang menyatu dalam sebuah pekerjaan yang kita peroleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, talenta atau bakat yang kita miliki, yang kita katakan sebagai rahmat khusus, datangnya dari Dia. Dan dengan talenta itu lah kita bekerja. Maka, bukankah itu berarti pekerjaan yang kita dapatkan berkat talenta itu, adalah sebuah rahmat juga?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, bahan baku yang kita olah dalam pekerjaan kita, semuanya tersedia karena rahmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, interaksi kita kepada banyak orang memberi kita identitas sekaligus komunitas. Ini adalah anugerah yang tidak kita dapatkan karena kekuatan kita melainkan anugerah yang tersedia dengan sendirinya karena kita bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak tahu, apakah Anda menyukai penjelasan-penjelasan  mendalam seperti yang dilakukan Jansen ini. Penjelasan yang mengajak kita menanyakan hati dan mencari lagi pengertian hakiki dari yang dijelaskannya. Kalau Anda menanyai saya, saya akan katakan saya menyukainya karena dalam banyak hal, ia ternyata menyuguhkan sudut pandang yang sebelumnya tidak pernah saya duga samasekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira di sini lah letak keistimewaan buku karya Jansen. Contoh bagaimana ia menjelaskan Etos 1: Kerja adalah Rahmat itu, ia teruskan hingga mencakup tujuh Etos lainnya. Yakni:&lt;br /&gt;Etos 2: Kerja adalah Amanah; Aku bekerja penuh tanggung jawab.&lt;br /&gt;Etos 3: Kerja adalah Panggilan; Aku bekerja tuntas penuh integritas.&lt;br /&gt;Etos 4: Kerja adalah Aktualisasi; Aku bekerja penuh semangat&lt;br /&gt;Etos 5: Kerja adalah Ibadah; Aku bekerja serius penuh kecintaan.&lt;br /&gt;Etos 6: Kerja adalah Seni; Aku bekerja cerdas penuh kreativitas&lt;br /&gt;Etos 7: Kerja adalah Kehormatan; Aku bekerja tekun penuh keunggulan.&lt;br /&gt;Etos 8: Kerja adalah Pelayanan; Aku bekerja sempurna penuh kerendahan hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesemua Etos itu dijelaskan dengan gamblang, rinci tetapi juga luas. Jansen mendatangi berbagai khasanah ilmu, khasanah peradaban untuk menerangkan apa saja yang dalam bayangan dia akan bisa memperkuat argumennya.  Kadang-kadang ia memang terkesan terlalu ingin mengatakan lebih banyak (bahkan kebanyakan dari yang kita butuhkan) tetapi justru dalam kebertele-teleannya, dalam kesabarannya menjelajah pikiran-pikiran orang lain, kita menemukan sudut pandang lain. Tak percuma daftar pustakanya dihuni tak kurang dari 100  buku dan artikel referensi, mulai dari Gibran hingga Fukuyama, Kiyosaki hingga Anthony Robbins.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika arloji saya menandakan saya telah dua jam membaca buku itu, saya terkaget-kaget ketika saya sudah berada di lebih setengah dari isi buku. Oh, tentu ada beberapa bagian yang saya lewatkan. Semisal sub bab Mutiara Etos yang ada pada setiap bab, semacam rangkuman dari tiap bab. Tetapi hampir tak ada yang saya lewatkan sepanjang mengenai masalah-masalah mendasar yang disajikan dalam buku itu. Dan karena itu lah saya kaget karena sesungguhnya selama ini saya tak pernah bisa betah membaca buku lebih dari satu jam, tanpa menaruh perhatian ke tempat lain. Mungkinkah ini karena buku Jansen yang sangat memikat, dengan bahasa yang mengalir tapi padat, lincah tanpa kehilangan keseriusan dan pada saat yang sama, acap menghadirkan kejutan sudut pandang? Atau hanya karena soal teknis belaka: saya memang terkurung di ruang tunggu itu, sehingga tidak ada alasan untuk tak memelototi buku di tangan saya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa pun alasannya, saya akhirnya berkata dalam hati tak menyesal mendapatkan buku ini dari tangan penulisnya langsung, Jansen Sinamo. Saya juga bersyukur karena akhirnya saya mendapat sudut pandang baru tentang arti sukses dan pada saat yang sama, mempunyai sudut pandang yang baru pula dalam menempatkan buku-buku tentang sukses. Saya akhirnya mulai mengerti mengapa banyak buku sukses menjadi bestseller, dicari orang, walau pun kita tahu, membaca buku sukses bukan jaminan untuk sukses. Saya akhirnya tahu bahwa buku sukses memang tidak menjamin kita sukses melainkan ia mungkin akan dapat mempebarui pemahaman tentang sukses, pemahaman yang lebih segar yang oleh orang-orang sekarang kerap disebut pencerahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atas semua itu, dari buku Jansen saya justru merasa mendapatkan hal yang lebih dalam lagi. Selama ini saya menganggap sukses itu adalah sesuatu yang jauh di sana, menunggu untuk kita renggut, seperti sebuah sepeda, sehelai baju, seperangkat alat-alat tulis, yang tergantung di pucuk pohon yang jadi ajang rebutan dalam lomba panjat pinang 17 agustusan. Membaca karya Jansen, saya disadarkan bahwa makna sukses itu juga berubah dan dapat kita ubah. Sukses itu dimulai dari pikiran dan ia akan sangat tergantung dari Etos yang kita bangun. Sukses dengan kata lain, bisa jadi akan seperti rahmat juga. Ada sukses yang bersifat umum, ada sukses yang bersifat khusus. Ada sukses yang layaknya bisa dicapai oleh siapa saja. Tetapi ada juga sukses yang mungkin hanya milik kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 14:00, akhirnya Bu Pejabat yang saya tunggu-tunggu akhirnya kembali ke kantornya. Setelah menunggu di depan pintu ruangannya, saya akhirnya masuk. Setelah ia meminta maaf berkali-kali (tapi saya sudah bosan dengan maaf semacam ini), akhirnya saya mengemukakan kekesalan saya dan kemudian Bu Pejabat berjanji akan membereskan urusan kami. Saya hanya meminta dia kepastian waktu. Dan akhirnya ia menjanjikan tiga hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil berdesak-desakan di dalam lift yang membawa saya turun untuk kemudian keluar dari areal kantor itu, aneka pikiran berlompatan dalam benak saya, masih tentang apa saja yang saya baca di buku karya Jansen.  Saya bertanya dalam hati, siapa kira-kira yang bakal membaca buku itu? Dan apa kira-kira yang akan mereka dapatkan dari buku itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak bisa dengan cepat menemukan jawabannya. Yang saya bayangkan, orang-orang yang merasa memerlukan sukses akan mencari buku ini. Dan saya yakin dengan membaca buku ini mereka secara perlahan akan merasa bahwa mereka belum terlambat untuk meluruskan langkahnya, bila mereka merasa berada di jalan yang salah. Pada saat yang sama, saya juga menduga ada yang malah bertepuk tangan diam-diam, dan bersyukur dalam hati karena walau mereka belum sukses, setelah membaca buku ini, ia bertambah PD karena ternyata ia  telah mencapai tigaperempat perjalanan. Orang-orang yang merasa sukses, saya yakin, setelah membaca buku ini, juga akan merasa bisa melihat sisi lain dari suksesnya itu sehingga ia akan dengan cepat mengatakan, "Oh, saya belum sesukses yang saya duga, ternyata….."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata lain, buku yang dimaksudkan sebagai navigasi menuju sukses ini, dalam hemat saya adalah buku bukan hanya untuk orang yang belum sukses, ingin sukses dan mencari sukses. Tetapi juga bagi mereka yang merasa dirinya sudah sukses akan berguna membacanya. Sebab Jansen tak hanya bicara tentang sukses, tetapi ia menerangkan tentang sukses yang sejati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka saya tidak lagi menyesal mengenal Jansen Sinamo. Saya juga tampaknya tak akan alergi lagi pada buku-buku sukses. Setidaknya, bila ia bisa ditulis sedalam dan selincah buku Jansen, plus ada intro yang enak dari penulisnya sambil menyeruput Cappucino, saya pasti akan berusaha mencari 'rahmat terselubung' agar punya waktu untuk membacanya. Selamat Pak Jansen. Navigasi Anda saya kira akan dinantikan banyak orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;29 April 2006&lt;br /&gt;© Eben Ezer Siadari&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18947851-115935260629523556?l=banggaindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://banggaindonesia.blogspot.com/feeds/115935260629523556/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=18947851&amp;postID=115935260629523556&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18947851/posts/default/115935260629523556'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18947851/posts/default/115935260629523556'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://banggaindonesia.blogspot.com/2006/09/ngopi-bareng-jansen-sinamo-3.html' title='Ngopi Bareng Jansen SInamo (3)'/><author><name>Eben Ezer Siadari</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sDOvG1QwyNo/SEYuxWm2rnI/AAAAAAAAALk/Kai8v-INR70/S220/foto-abdi2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18947851.post-115935246276772039</id><published>2006-09-27T17:20:00.000+07:00</published><updated>2006-09-27T17:21:02.896+07:00</updated><title type='text'>Ngopi Bareng Jansen Sinamo (2)</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Episode Coffee Shop Mandarin&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/6161/1865/1600/jansen%20sinamo.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/6161/1865/200/jansen%20sinamo.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;8 April 2006, pukul 07:42.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Hotel Mandarin di kawasan Sudirman Jakarta sudah terlihat bergegas sepagi ini. Saya duduk di lobbi. Menunggu sambil berpikir, sudah berapa lama saya tidak ke hotel ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seingat saya, sepanjang karier saya sebagai wartawan agak jarang saya menghadiri liputan yang bertempat di hotel ini. Uuups, saya ingat sekarang. Pertama kali datang ke sini ketika seorang wanita setengah baya, dari Swiss, mengundang kami beberapa wartawan makan malam. Ia datang dari sekolah bisnis terkemuka, International Management Development (IMD), Swiss. Lalu di sini  dulu sekali, seorang perempuan yang menjadi menteri di Pemerintahan Belanda, juga pernah mengundang kami para wartawan.  Seusai konperensi pers, saya bahkan masuk ke kamar sang menteri. Duduk di kasurnya, dan menyodorkan tape recorder mini saya ke mulutnya untuk merekam jawaban-jawabannya. Foto ketika saya mewawancarainya itu, di atas tempat tidurnya, masih saya simpan di rumah. Jika saya amat-amati lagi, tidak ada kesan tidak senonoh dalam foto itu. Justru kesederhanaan lah yang tampil. Sebab seorang menteri, dari negeri Kincir Angin, menginap di ruangan kamar standar yang tak terlalu luas…. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hotel ini tak banyak berubah, pikir saya. Teduh, tenang tetapi hidup. Orang-orang yang berlalu-lalang menandakan hotel ini bukan sebuah penginapan untuk plesiran. Melainkan untuk bisnis, bisnis dan bisnis. Seorang bermata sipit di sebelah saya, mungkin berkebangsaan Jepang, tak henti-hentinya menoleh ke arlojinya. Mungkin ia sedang menunggu seseorang? Saya terus melamun, menanti hingga pukul delapan tiba……&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika melamun begitu, tanpa saya sadari Jansen ternyata sudah ada di dekat saya, bersama Andrias Harefa, rekannya yang sudah lama saya kenal. Setelah say hello dan basa-basi seperlunya, Jansen menggiring saya ke Coffee shop di lantai dua. Coffee shop itu sejuk, aroma kopi merebak. Jansen segera membuka jasnya, duduk di sofa, begitu juga saya dan Andrias.  Jansen rupanya sedikit 'kepanasan' setelah berjalan kaki dari seberang hotel itu. Ia baru saja menyelesaikan acara talk shownya di radio Smart FM, dan daripada pusing-pusing ke tempat parkir, plus harus muter lagi, ia memutuskan saja berjalan kaki dari studio radio itu,  mungkin sekitar 500 meter dari hotel itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang segera saya perhatikan adalah perawakan Jansen yang gempal, mirip pejudo atau pegulat. Namun bola matanya yang bulat, keningnya yang lebar, segera menyadarkan saya akan cara memandang para intelektual pada umumnya: tajam menyelidik, tapi tenang menunggu jawaban. Tawanya renyah, dengan suara yang tak kalah enak dengan para penyiar radio. Sebungkus A Mild, menemani dia manakala bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lupa bagaimana awalnya ia membuka topik pembicaraan. Yang saya ingat, tanpa saya sadari kami sudah berbincang panjang lebar mengenai berbagai hal, termasuk tentang arti sukses dalam hidup baik individu, organisasi, maupun negara. Sekali lagi, seperti yang sudah sering saya baca dalam ulasan mengenai dia, ia peragakan lagi ketidakjemuan dan ketidakmenyerahannya berbicara tentang Etos. Kali ini bahkan dengan agak meyakinkan ia menceritakan pencariannya ke berbagai khasanah ilmu dan peradaban untuk menelisik apa itu sukses, apa sumber sukses dan bagaimana mencapainya. Dan Jansen mengatakan pada akhirnya kuncinya ada pada Etos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu hal menarik dari Jansen adalah ia tak bisa melepaskan diri dari dirinya sebagai Fisikawan. Ia menggunakan pendekatan Ilmu Fisika dalam meneropong banyak hal, termasuk dalam pencariannya menelusuri berbagai teori sukses. Ia juga mengutip aneka teori fisika (yang satu pun saya tak hafal) untuk menjelaskan pikiran-pikirannya kepada saya, sebagai analogi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang mengherankan bagi saya, jika Ilmu Fisika yang saya pelajari di bangku SMA begitu rumit dan begitu ruwet, dalam penjelasan-penjelasannya justru terdengar menarik, indah  dan menantang, meskipun 'otak kampungan' saya tetap kalang kabut untuk bisa mengerti. Ini mengingatkan saya pada Umar Kayam, sosiolog yang tak pernah berpretensi jadi seorang gurubesar sosiologi ketika berbicara sosiologi. Tetapi setelah mendengar penjelasannya yang mengalir, lincah tapi juga jenaka, kita baru sadar bahwa sang profesor ternyata dari tadi telah menanamkan kepada kita sesuatu yang berharga dari khasanah sosiologi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya menemukan kelincahan seorang Fisikawan yang berbicara tentang arti sukses pada Jansen. Ia menjelaskan konsep-konsep Fisika lewat contoh-contoh sangat sederhana dan nyata. Lalu kemudian ia sambungkan dengan hidup sehari-hari dan mempertautkannya dengan ‘teori sukses’ yang sedang ia kembangkan.Jansen agaknya percaya, bahwa sama seperti ambisi Albert Einstein untuk menciptakan satu teori menyeluruh (unified) tentang Fisika, Jansen juga yakin dapat tercipta sebuah teori menyeluruh tentang sukses. Dan Etos, yang ia populerkan tanpa kenal lelah, menurut dia, adalah bingkai atau payung yang bisa jadi wadah bagi teori menyeluruh itu. Sebab menurut dia, Etos memuat semua elemen sukses yang selama ini beredar di 'pasar' teori-teori sukses.  Apakah itu yang disebut sikap mental, motivasi, kebiasan (habit), semua tercakup dan menyatu pada Etos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seraya membeberkan itu semua, ia menyerahkan sebuah buku karyanya, yang terbit tahun lalu dengan judul  8 Etos Kerja Profesional, Navigator Anda menuju Sukses. Ada puluhan tokoh, termasuk Jakob Utama, Peter F. Gontha, Bungaran Saragih sampai Ignas Kleden memberikan endorsement pada buku itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku itu dengan hormat saya terima, tetapi dalam hati saya berpikir, kapan ya saya akan punya waktu, untuk membaca buku setebal 285 halaman ini? (Ada CDnya pula).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sekelebat saya buka-buka buku itu. Antara terpaksa dan tertantang. Hm, tiap bab dalam buku itu selalu dibuka dengan kisah-kisah yang mengajak kita untuk berkontemplasi. Merenung. Kadang-kadang tersenyum sendiri. Dalam hati saya berpikir, Etos itu ternyata tidak seabstrak dan seberat yang saya bayangkan ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sana-sini ia cantumkan pula semacam ringkasan dari masing-masing bab. Kadang-kadang ringkasan itu berpanjang-panjang juga. Tapi saya kira Jansen memang harus mengambil risiko itu. Sebab buku ini memang benar-benar tidak ingin punya ‘lobang’ untuk diserang. Jansen agaknya berusaha menghimpun semua hal yang bisa menjelaskan apa arti sukses sehingga ia tidak ingin membuka kesempatan kepada orang untuk mengatakan, “Hei Jansen, yang ini kamu belum bahas lho….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih di Coffee shop yang nyaman itu, sembari diselingi menyeruput Capucciono dari gelas raksasa (wah, baru kali ini saya minum kopi dari sebuah gelas sebesar kelapa), mata saya sekilas berhenti halaman 26 buku itu, terpaku karena membaca kata-kata yang menurut saya adalah obsesi dari Jansen selama puluhan tahun bergelut pada kajian-kajian ilmu abstrak yang jadi minatnya. Dia menulis begini: “Demikianlah, saya menemukan bahwa Etos ternyata mengandung makna yang bahkan melebihi apa yang saya cari. Dalam kata Etos, semua kata kunci yang menjadi elemen sukses dalam ratusan bahkan ribuan buku sukses sudah terwakili dengan lengkap."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini harus dibuktikan, pikir saya. Dalam satu kalimat yang agak panjang, tetapi tidak membingungkan, Jansen menurut saya telah menjelaskan siapa dirinya, apa yang dia cari dan sudah sampai dimana pencariannya itu. Tentu tidak semua orang percaya. Saya juga tak percaya. Dan menurut saya kalimat itu adalah kalimat seorang yang  percaya dirinya tinggi (bahkan ada kesan sombong, bukan?) tetapi pada saat yang sama ia mengundang bahkan menantang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tantangan itu membuat  darah saya agak bergelegak. Juga agak bimbang. Saya tak pernah percaya pada buku-buku tentang teori sukses. Tapi,  untuk yang satu ini, trembelane tenan kata orang Jawa (yang artinya, keterlaluan benar). Kok bisa lho, menggoda saya? Membuat saya penasaran, apa benar Etos begitu hebatnya, begitu luwesnya untuk bisa menampung semua pemikiran tentang sukses?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kopi Cappucino yang tersuguh di meja makin lama makin habis. Jansen, Andrias, dan saya masih ngalor-ngidul, tentang banyak hal pada pagi hari itu.  Tetapi pikiran saya mengembara entah kemana. Mengembara ingin mencari waktu. Agar saya bisa menuntaskan membaca buku yang ada di tangan saya. Ingin tahu, seperti apa sih sebuah karya yang dimaksudkan sebagai sebuah buku teori sukses yang menyeluruh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kemudian saya harus pamit. Jansen masih akan ada tiga sampai lima meeting lagi di tempat itu, sementara Andrias ada acara di tempat lain. Jansen berkata kapan-kapan ia masih ingin bertemu lagi. Bahkan bila perlu ingin bertemu secara rutin. Saya mengiyakan, karena buat saya, pertemuan semacam ini semacam merecharge otak saya yang makin hari makin serasa tumpul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya akhirnya beranjak. Pikiran saya sudah bulat. Saya akan melumat teori menyeluruh tentang sukses, The Unified theory of Success yang digalang oleh Jansen Sinamo ini. Darimana memulainya ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersambung ke&lt;br /&gt; &lt;a href="http://mysarimatondang.blogspot.com/2006/04/ngopi-bareng-jansen-sinamo-3.html"&gt;Ngopi Bareng Jansen Sinamo: Episode Ruang Tunggu&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18947851-115935246276772039?l=banggaindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://banggaindonesia.blogspot.com/feeds/115935246276772039/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=18947851&amp;postID=115935246276772039&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18947851/posts/default/115935246276772039'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18947851/posts/default/115935246276772039'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://banggaindonesia.blogspot.com/2006/09/ngopi-bareng-jansen-sinamo-2.html' title='Ngopi Bareng Jansen Sinamo (2)'/><author><name>Eben Ezer Siadari</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sDOvG1QwyNo/SEYuxWm2rnI/AAAAAAAAALk/Kai8v-INR70/S220/foto-abdi2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18947851.post-115935233471118183</id><published>2006-09-27T17:16:00.000+07:00</published><updated>2006-09-27T17:18:54.996+07:00</updated><title type='text'>Ngopi Bareng Jansen Sinamo (1)</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Episode Telepon Tak Terduga&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/6161/1865/1600/jansen%20sinamo.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/6161/1865/200/jansen%20sinamo.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore-sore tanggung di kantor, ketika gelas kopi di hadapan sudah hampir kosong, adakalanya kursor di layar monitor tak bisa lagi bergerak lebih jauh. Pertanda naskah di hadapan kita mungkin tak bisa lagi diteruskan pengerjaannya, karena otak sudah stuck dan butuh rehat barang beberapa menit. Bila sudah begitu, saya biasanya bersiap-siap untuk pergi nongkrong di warung Bu Sri di depan kantor. Sore itu juga saya sudah hendak siap-siap menuju ke sana, ketika, eh, nada dering dari lagu Fur Ellise di ponsel saya berkumandang. Saya gelagapan mengangkatnya karena nomor di layar HP tak tercatat di address book. Ketika saya tempelkan di telinga, suara semerdu penyiar radio terdengar dari seberang.  Suara  seorang pria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Halo, ini Bung Eben ya? Jansen Sinamo di sini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jansen Sinamo?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tergagap-gagap saya sejenak. Tak tahu mau bicara apa. Mimpi apa saya ditelepon seorang Jansen Sinamo?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jansen Sinamo itu ibarat dewa bagi saya. Ia ada di langit yang ketujuh. Saya di bumi. Saya tidak pernah bertemu dan berkenalan dengan dia. Dan memang samasekali tidak berniat. Sebab, dia itu bagi saya sudah tak terjangkau. Saya sudah cukup tahu siapa dia dari iklan-iklan pelatihan dan seminar yang sering menampakkan foto besarnya di koran-koran. Juga saya sudah kerap membaca tulisan tentang dia mau pun tentang materi pelatihan yang ia berikan. Dan karena itu saya selalu meyakinkan diri untuk tak usah berharap berkenalan dengan dia. Cukuplah saya dekat dengan Andrias Harefa, rekan kerjanya yang lebih junior, kawan yang baik yang dengan dia saya bekerja sama menulis buku tentang Ciputra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riwayat hidup Jansen Sinamo membuat saya makin merasa ia bukan tipe yang bisa jadi teman akrab bagi orang seperti saya, yang suka slenge’an dan agak alergi pada hal-hal abstrak. Bayangkan. Jansen itu adalah seorang fisikawan lulusan ITB. Pernah menjadi seorang seismic engineer pada industri perminyakan dan  terlibat dalam bidang advokasi lingkungan dan pengentasan kemiskinan di sejumlah LSM. Namun, minatnya yang paling dalam selain kepada Ilmu Fisika adalah pada filsafat, teologia dan sosiolog. Lalu selama lebih dari 10 tahun ia membenamkan diri sebagai instruktur pada Dale Carnegie Training, melatih orang untuk menjadi pembicara yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situs www.tokohindonesia.com, menggambarkannya begini:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;em&gt;Selama di Dale Carnegie Training, Jansen berhasil menyelesaikan dan mendapat lisensi untuk mengajar semua jenis pelatihan yang ditawarkan, seperti management course, leadership course, sales course, professional development course, presentation skill, strategic presentation workshop, dan sebagainya. Ibarat pemain catur, ia sudah menjadi seorang grand master.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Karier Jansen semakin bersinar. Beberapa tahun kemudian , ia diangkat menjadi orang pertama di Indonesia yang mendapatkan kepercayaan dari Dale Carnegie untuk melatih dan memberikan sertifikasi kepada para calon instruktur. Tanggungjawab yang diterimanya itu dikerjakannya dengan penuh kebanggaan. Cakupan wilayah yang ditanganinya tidak hanya Indonesia, tetap mencakup ASEAN. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1997 Indonesia dilanda krisis multidimensi. Hatinya tersentuh dan tergerak untuk berbuat sesuatu bagi bangsa dan negaranya. …(cut) Karena itulah Jansen yang peduli melihat bangsanya terpuruk ingin berbuat sesuatu. Ia melihat bahwa Indonesia membutuhkan perubahan dan fundasi perubahan itu adalah etika, bidang yang sudah lama ia gumuli. Lalu apa yang bisa ia lakukan? Ia pun keluar dari Dale Carnegie. Ia mulai memutar otak, mengolah pemikirannya, membuka kembali buku dan bahan kuliah yang lama semata-mata untuk menuntaskan pergumulan batinnya. Layaknya sebuah puzzle, ia mengerahkan dan menggunakan semua ilmu yang pernah diperolehnya hingga terciptalah sebuah konsep dan formulasi yang diyakininya adalah bagian dari solusi untuk bangsa ini. Konsep itu dinamakannya Etos Kerja Profesional.&lt;/em&gt;  &lt;br /&gt;      &lt;br /&gt; Bagi Jansen, Etoslah basis dari semua sukses. Bagi Jansen, semua orang, kelompok atau organisasi hanya akan mencapai sukses sejati bila pada dirinya dan diri institusi itu berkembang etos yang mendukung pencapaian sukses itu. Bagi Jansen, Etos yang secara sederhana dapat diterjemahkan sebagai keyakinan dan prinsip-prinsip yang jadi panduan bagi individu, kelompok mau pun organisasi,  adalah kunci bagi sukses individu mau pun korporasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketakjemuan dan semangat tak mau menyerahnya  itu, menyebabkan dirinya kerap dijuluki sebagai Mr. Etos atau Guru Etos. Etos seolah sudah jadi dirinya dan dirinya jadi Etos.  Paradigma itu kemudian ia kembangkan menjadi materi pelatihan yang membawanya berbicara di hampir semua perusahaan besar di Indonesia, antara lain lewat Institut Darma Mahardika yang ia dirikan bersama Andrias Harefa. Etos pula yang menyebabkan dirinya sering digambarkan sebagai orang yang pertama kali sebagai penggagas, pencipta, pengembang sekaligus pengemban pelatihan SDM berbasis Etos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hebat bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baca lah komentar Rhenald Khasali, pakar manajemen dan ketua program MM FE-UI itu, tentang Jansen. Kata Rhenald, “Ketika para ahli berbicara tentang motivasi, habit, atau hal-hal spiritual, Jansen Sinamo mengajak kita pada akar yang menggerakkan semua perilaku manusia dalam berkarya, yang disebutnya Etos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm. Asyik benar cara Rhenald menggambarkan Jansen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu baca juga kesan Peter F. Gontha, taipan yang kini lebih populer lewat acara televisi, Apprentice Indonesia itu. &lt;em&gt;“I have come to understand, possibly better than a few others, how Jansen Sinamo continuously tries to motivate and inspire others to make a better person, a better Indonesia individual. The depth of his regard for moral and his concern for the future of Indonesian is exceptional. He argues convincingly for paradigm shift in education and dialogs that would build on the vast breadth of applications for ethos….”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gila. Peter Gontha yang ketika masih menjadi eksekutif dulu adalah seorang no nonsense decision maker, ternyata kini bisa terpana pada konsep semacam Etos yang agak abstrak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya saya  berdecak kagum. Tetapi tidak. Sorry, kehebatan demi kehebatan yang telah diperoleh Jansen, justru membuat saya agak enggan mengikuti pikiran-pikirannya, meskipun di berbagai situs di internet karya-karya tulisnya kerap didiskusikan. Di benak saya, selain Jansen sudah setara dengan Dewa, pikiran-pikiran dan pelatihan berbasis Etos yang dikembangkannya itu sangat idealistik. Penuh dengan imbauan moral. Standar yang ditetapkannya terlalu bagus untuk jadi kenyataan. Dan dalam bayangan saya, perusahaan yang bisa mengembangkannya akan lebih tepat jadi sebuah panti asuhan ketimbang organisasi pencari profit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi pengertian Etos ternyata seperti martabak telor yang bisa melebar dan mengembang kemana-mana. Jika Etos yang berasal dari Bahasa Yunani Kuno itu  arti semulanya adalah adat istiadat atau kebiasaan, di kemudian hari berkembang jadi sangat kompleks dan tampaknya jadi penuh dengan penafsiran. Etos, oleh sebuah kamus, misalnya, diartikan sebagai guiding beliefs  of a person, group or institution. Ada juga pengertian lain dari Etos, yang makin membuatnya tak bisa lagi dijelaskan dengan cara sederhana, sebab Etos ternyata adalah  the charachteristic spirit of  a culture, era or community as manifested  in its attitude and aspirations.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puyeng kan membaca defenisi seperti ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka ketika saya menerima telepon dari Jansen Sinamo itu, pikiran saya bimbang tak menentu. Antara senang, bangga, ‘mimpi kali ye….’ ditelepon seorang Jansen Sinamo, tetapi di sisi lain harap-harap cemas, wah, jangan-jangan ada tulisan saya, atau tulisan kawan-kawan di tempat majalah saya bekerja, yang salah dan berhubungan dengan Jansen. Lalu dia menelepon saya meminta ralat. Jangan-jangan kawan-kawan saya pernah mewawancarai dia lalu kemudian tak dimuat dan ia ingin meminta penjelasan. Telepon bernada komplain semacam ini sudah kerap mampir di meja saya pada sore-sore tanggung seperti ini. Dan jangan-jangan, telepon Jansen ini adalah salah satunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi setelah saya ingat-ingat, rasanya tidak pernah ada wawancara dengan Jansen. Dan seingat saya, belum pernah ada tulisan tentang Jansen di majalah kami. Lalu kenapa dia menelepon? Dengan gelagapan saya menjawab teleponnya itu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Halo Bos. Eh, Halo Pak. Apa kabar? Ya, Eben di sini.” Saya sampai lupa harus panggil apa kepada Jansen, bermarga Sinamo yang adalah orang Batak Pakpak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tawa dari seberang yang renyah terdengar, ternyata bisa menyamankan perasaan saya. Itu suara dan tawa Jansen Sinamo. Lalu ia mengatakan dia telah mengunjungi blog ini, THE BEAUTIFUL SARIMATONDANG. Dan ia menikmatinya. (Hmm, sejenak hidung saya mengembang, ge-er dan merasa mendapat pujian dari Dewa). Salah satu cerita yang menurut dia membuat dia tak bisa menahan tawa, adalah Mati Ketawa Cara Terminal Siantar. Rupanya Jansen punya memori juga dengan beberapa nama bis yang saya ceritakan di di tulisan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jansen juga membaca tulisan saya tentang Dr. Martin Sinaga, teolog yang ternyata adalah sahabat karibnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendeknya, di telepon itu komentar-komentarnya seperti angin surga di telinga saya. Dan apa lagi yang bisa membuat penulis seperti saya senang dan merasa jadi manusia terhebat di dunia, selain  pernyataan dari seseorang yang menyenangi tulisan-tulisannya? Walau pun saya sadar, pujian itu seringkali lebih indah dari aslinya, toh saya sebagai manusia, tak bisa menghindar dari segera merasa ge-er dan langsung mengkreditkan pujian itu dalam tabungan percaya diri saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang membuat saya lebih merasa tersanjung, Jansen kemudian mengajak saya bertemu nanti suatu saat untuk berbagi pikiran. Kata dia, mungkin akan banyak yang bisa dia obrolkan dengan saya, yang membuat hati saya lebih berbunga-bunga lagi. Merasa jadi orang hebat, sehebat Fisikawan seperti dia, walau di lubuk hati terdalam segera juga sadar, “Ben, Ben, nyebut Ben, kamu itu apa sih? Pakar bukan, selebriti bukan. Gak usah jadi kegenitan gitu.’ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan beberapa hari kemudian, Jansen kembali menelepon saya untuk janji ketemu. Katanya, di coffee shop Hotel Mandarin, tanggal 8 April, jam 8:00 pagi. “Lebih pagi lebih baik, supaya kita punya waktu lebih banyak ngobrol,” kata dia. Saya senang dan segera menyetujuinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami pun akhirnya bertemu, di Coffe Shop Hotel Mandarin itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersambung ke &lt;br /&gt;&lt;a href=" http://mysarimatondang.blogspot.com/2006/04/ngopi-bareng-jansen-sinamo-2.html "&gt;Ngopi Bareng Jansen Sinamo (2): Episode Coffee Shop Mandarin.&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18947851-115935233471118183?l=banggaindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://banggaindonesia.blogspot.com/feeds/115935233471118183/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=18947851&amp;postID=115935233471118183&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18947851/posts/default/115935233471118183'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18947851/posts/default/115935233471118183'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://banggaindonesia.blogspot.com/2006/09/ngopi-bareng-jansen-sinamo-1.html' title='Ngopi Bareng Jansen Sinamo (1)'/><author><name>Eben Ezer Siadari</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sDOvG1QwyNo/SEYuxWm2rnI/AAAAAAAAALk/Kai8v-INR70/S220/foto-abdi2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18947851.post-3701306099917597329</id><published>2006-02-14T16:06:00.000+07:00</published><updated>2007-04-26T16:07:38.130+07:00</updated><title type='text'>Orang Baik dari Blok G</title><content type='html'>Pagi ini saya ketemu orang baik. Saya tak mengenalnya. Tak tahu namanya siapa. Tak bisa ingat rupanya. Sebab kepalanya ditutup oleh helm hitam. Setengah wajahnya dibungkus sapu tangan. Ia berjaket hijau kebiru-biruan, mengendarai motor. Agak gendut dan berkacamata hitam, suaranya merupakan perpaduan antara tenor cenderung bass.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/6161/1865/1600/superman.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/6161/1865/320/superman.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya baru beberapa langkah meninggalkan pintu pagar rumah, berjalan kaki menuju pangkalan angkutan kota yang lumayan jauhnya, ketika si Orang Baik melintas dengan motornya. "Bareng Pak?" katanya, sambil menghentikan motornya. Saya terperangah. Saya tak mengenal dia, dan saya yakin dia juga tak tahu saya siapa. Tapi mengapa ia menawarkan kebaikannya kepada saya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Memang kita satu arah? Saya ke stasiun Sudimara." tanya saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, saya juga ke arah sana. Nanti Bapak turun di Nusa Indah saja," kata dia, menyebut kompleks perumahan dimana saya nanti akan mudah mencari angkutan kota yang akan membawa saya ke stasiun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan. Ini adalah tawaran yang bukan saja menyenangkan, tetapi sangat saya butuhkan. Berjalan kaki menuju pangkalan angkutan kota paling tidak butuh 15 menit. Padahal jam saya sudah menunjukkan 7:30. Saya bisa terlambat mengejar kereta api kelas ekonomi, bila tak ada si Orang Baik yang menawarkan jasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah sepanjang perjalanan di atas motornya, saya tak bisa mengajaknya banyak bicara. Suara jalanan agak terlalu bising, sementara helm yang menutup kepalanya mengganggu pendengarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi begitu pun saya sempat berbasa-basi. Saya akhirnya tahu, dia tinggal di Blok G, di perumahan tempat saya tinggal, di Vila Dago Tol, Ciputat. Saya sendiri tinggal di Blok A. Apakah ia mengenal saya? Ternyata tidak. Menurut dia, dia sekadar lewat, dan dia menduga, saya akan pergi searah dengan saya. Dan ia merasa tak ada salahnya menawarkan kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya senang sekali. Kebaikan-kebaikan seperti ini sudah agak jarang saya dapatkan, meskipun ini bukan yang pertama kali. Dulu sekali, ketika saya sedang tergesa-gesa mengejar angkutan kota menuju stasiun, tiba-tiba seorang anak muda menghentikan motornya persis di depan saya. "Ayo Pak. Mau ke depan, kan?" tanya dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak ada pilihan lain. Saya lantas duduk di belakang si anak muda, yang kemudian saya tahu, kuliah di Guna Darma Depok dan sedang menuju kuliahnya. Waktu saya tanya, apakah dia mengenal saya, dia hanya tertawa. Dia bilang kepada saya, dia selalu ingat  ayahnya dulu sebelum pensiun, yang setiap pagi pergi berjalan kaki menuju kerja. Dan karena ketekunan berjalan kaki itu lah, anak-anaknya bisa kuliah, bisa kerja dan ada pula yang sudah berbahagia memberi cucu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya senang lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya lima menit, si Orang Baik dengan helm hitam akhirnya menghentikan lagi motor bebeknya, menurunkan saya di tempat pemberhentian angkutan kota. "Terimakasih Pak," kata saya. Dia hanya melambaikan tangannya dan berlalu begitu. Di balik sapu tangan yang menutup wajahnya, saya yakin ia pasti tersenyum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah si Orang Baik dari Blok G. Yang saya tak tahu namanya, tak hafal wajahnya tetapi akan saya ingat selalu kebaikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vila Dago Tol, 14 Februari 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18947851-3701306099917597329?l=banggaindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://banggaindonesia.blogspot.com/feeds/3701306099917597329/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=18947851&amp;postID=3701306099917597329&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18947851/posts/default/3701306099917597329'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18947851/posts/default/3701306099917597329'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://banggaindonesia.blogspot.com/2006/02/orang-baik-dari-blok-g.html' title='Orang Baik dari Blok G'/><author><name>Eben Ezer Siadari</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sDOvG1QwyNo/SEYuxWm2rnI/AAAAAAAAALk/Kai8v-INR70/S220/foto-abdi2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18947851.post-113196173053434730</id><published>2005-11-14T16:47:00.000+07:00</published><updated>2005-12-15T13:27:18.216+07:00</updated><title type='text'>Pak Madraji 20 Tahun Mendorong Gerobak</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/6161/1865/1600/warung%20Madraji.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/6161/1865/200/warung%20Madraji.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Anda dan saya mungkin sudah sering bertemu dengan orang Madura pedagang sate keliling. Juga melihat dari dekat bagaimana mereka mengelilingi jalan-jalan di sekitar perumahan menjajakan dagangannya. Tetapi tetap saja saya belum bisa membayangkan betapa uletnya Pak Madraji. Selama 20 tahun Pak Madraji berjalan kaki, setiap sore hingga larut malam dari rumahnya di Kawasan Sentiong Jakarta ke Sawah Besar tempat dia menjajakan sate Madura dalam gerobaknya. Di Kawasan Sawah Besar itu, ia juga masih akan berkeliling lagi. Panas, hujan, jalanan berdebu, becek dan deru knalpot berasap tebal di tengah bersiliwerannya kendaraan, ia lalui terus karena ia harus tetap jualan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Anda yang tidak akrab dengan Jakarta, boleh lah membayangkan Sentiong dan Sawah Besar itu merupakan dua kawasan yang dipisahkan jarak sekitar tiga kilometer. Jalan yang dilalui adalah jalan besar. Kalau ditempatkan dalam konteks sekarang, jalan yang menghubungkan kedua kawasan itu boleh lah disebut wild wild westnya Jakarta. Semua jenis kebengalan orang ada di situ. Juga semua tingkatan keganasan orang berkendaraan lengkap ditemukan di jalanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, Pak Madraji melaluinya selama 20 tahun. Setiap malam, kecuali kalau dia sakit. Apa yang mendorongnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lalu menemuinya di Warung Anda, warung sate miliknya yang laris-manis di kawasan Atrium Senen, Jakarta. Saya sudah sering makan di warung sate itu, tetapi karena ingin menulis tentang bisnis orang Madura lah saya mau berlama-lama menunggunya. Pak Madraji ternyata sosok yang ramah. Walau kalau kita memesan sate di sana ia terkesan cuek, menanyakan seperlunya apa yang kita pesan, ia rupanya orang yang kocak dan easy going bercerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Madraji dilahirkan dari orang tua beretnis Madura, tinggal di Cirebon. Setelah dia dewasa, 20 tahun lalu ia memberanikan diri berangkat ke Jakarta, mengadu nasib. Tidak ada ijazah. Ia tidak tamat Sekolah Dasar. Yang ia tahu, ia ingin mengikuti tradisi orang Madura, berbisnis besi tua. Ia pun mencoba peruntungannya di bisnis ini, dengan menggandeng mitra yang sudah lebih dulu menerjuni bisnis ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata bisnisnya tidak jalan dan tidak semulus yang ia bayangkan. Ia mengaku sering tertipu. Tidak bisa berbuat apa-apa. Modalnya ludes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendek cerita ia banting setir, kembali kepada keahlian yang dibekalkan kedua orang tuanya dan juga masih tetap mereka tekuni, yakni berdagang sate. Ia berdagang sate keliling. Mula-mula dengan satu gerobak. Ia tekuni pekerjaan ini seperti kedua orangtuanya mencintai pekerjaan ini. Ia membeli sendiri kambing yang akan ia jadikan sate. Ia memotongnya sendiri. Ia membuat bumbunya sendiri dan ia menjajakannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya agak tertegun ketika dia menceritakan ini. Saya masih tetap mencari, apa motivasinya. Apa faktor paling penting yang mendorong dia berbuat begitu. Apakah, misalnya, tidak sebaiknya dia pulang ke Cirebon dan meneruskan usaha sate ayah dan ibunya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh tidak, kata dia. Tidak ada kata 'pulang' dalam kamus dia. Dia bertekad harus bisa mencari uang sendiri. Apalagi ia merasa malu kepada calon istri kalau harus minta-minta uang dari kampung halaman. Jadilah Madraji berdagang sate. Selama 20 tahun, ia mendorong gerobak satenya dari Kawasan Sentiong yang padat ke Kawasan Sawah Besar yang ramai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah 20 tahun, tujuh tahun lalu sebuah lompatan besar ia lakukan. Ia membuka warung sate di kawasan Senen. Dia tidak lagi berdagang keliling. Masakan satenya yang sudah punya pelanggan, ditambah lokasi yang ia pilih menyediakan banyak pembeli, membuat warungnya  berkembang maju. Itu mendorong dia membuka satu warung lagi, persis bersebelahan dengan pintu masuk Mal Atrium. Warung ini bahkan lebih laris lagi. Dinamainya warung itu dengan nama Warung Anda. Nama itu memang kedengaran ramah, samasekali tidak memancarkan keangkuhan yang selama ini kerap disematkan kepada orang Madura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warung Anda menjual dan menghabiskan tiga kambing setiap hari (dijadikan 900 tusuk sate ditambah sop kambing), 50 kg ayam (dijadikan sate ayam) dan kini ia menambah item baru: sate bebek. Setiap hari dari Warung Anda Madraji mengantongi penjualan Rp3 juta. Madraji hanya buka siang sampai sore di hari kerja, menyebabkan penjualannya dari Warung Anda berkisar Rp60 juta per bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Madraji kini punya empat outlet satenya. Tiga warungnya, satu di Kawasan Senen, satu di depan Mal Atrium, satu di depan Rumah Sakit Gatot Subroto. Outletnya yang lain adalah salah satu restoran di Hotel Borobudur. Setiap malam ia memasok 500 tusuk sate ke restoran tersebut. Pak Madraji tertawa saja ketika ditanyakan berapa ia mengantongi penjualan setiap hari. "Cukup lah Pak," kata dia. "Rumah sudah rumah sendiri. Tidak ngontrak lagi." Anaknya yang sulung kini duduk di bangku kuliah. Dua adiknya menikmati pendidikan yang baik. "Cukup lah saya yang hanya belajar di pesantren dan tidak tamat SD," kata dia.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Yang menyenangkan melihat Pak Madraji kerja adalah ketekunannya. Ia bukan majikan. Ia masih ikut membakarkan sate, menyajikannya kepada pembeli dan bahkan melobi pelanggan-pelanggan besarnya, yakni mereka yang akan menyelenggarakan pesta pernikahan atau kenduri lainnya, dan memesankan sate dari warungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada kesan dirinya telah menjadi Orang Kaya Baru (OKB). Para anak buahnya yang jumlahnya kini belasan, kadang-kadang masih dengan tanpa malu-malu meminjam motor yang digunakan Pak Madraji bepergian kemana-mana, termasuk mengecek warung-warungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin saja saya termasuk orang yang terlalu cepat mengagumi orang. Tetapi memang, saya benar-benar tidak bisa menghindari untuk kagum pada Pak Madraji. Apalagi bila melihat semangatnya. Saya menanyakan kepada orang tua yang umurnya kira-kira 50-an tahun ini, apakah masih ada keinginannya yang tak terbatas. Saya menanyakan pertanyaan ini karena membayangkan dia akan menjawab, "Syukur, saya sudah merasa puas. Tinggal meneruskan bisnis ini saja." Jawaban seperti ini sudah kerap saya temukan dari pengusaha kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi tidak. Pak Madraji mempunyai keinginan lain. Tidak muluk-muluk dan tampaknya bakal dia capai. Ia punya impian dalam dua sampai lima tahun ke depan ia bisa membuka warungnya di mal atau dekat dengan mal. "Sebenarnya tahun lalu sudah hampir dapat Pak," kata dia. Waktu itu, ia sudah hampir deal dengan seorang pemilik kios di kawasan Mal Cempaka Mas. Uang muka pun sudah ia setujui, bahkan siap-siap akan dia bayarkan. Dasar nasib sial, lama sekali ia baru bisa bertemu langsung dengan sang pemilik kios. Ketika bertemu, ternyata Pak Madraji sudah keduluan oleh orang lain. "Mungkin bukan rezeki saya Pak," seru Pak Madraji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiap kali melewati warungnya itu pada malam hari, ketika warung yang sudah tutup itu berubah tempat mangkal sejumlah pengangguran yang setengah preman, saya mengelus dada. Memang kalau kita hanya melihat pemandangan yang suram itu, kita mungkin akan putus asa. Namun, ketika pikiran saya arahkan kepada Pak Madraji, saya kembali bersyukur. Alangkah bangganya kita menjadi orang Indonesia karena  Indonesia masih mempunyai orang seperti Pak Madraji. Jumlahnya saya kira banyak sekali. &lt;br /&gt;(c) Eben Ezer Siadari&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18947851-113196173053434730?l=banggaindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://banggaindonesia.blogspot.com/feeds/113196173053434730/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=18947851&amp;postID=113196173053434730&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18947851/posts/default/113196173053434730'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18947851/posts/default/113196173053434730'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://banggaindonesia.blogspot.com/2005/11/pak-madraji-20-tahun-mendorong-gerobak.html' title='Pak Madraji 20 Tahun Mendorong Gerobak'/><author><name>Eben Ezer Siadari</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sDOvG1QwyNo/SEYuxWm2rnI/AAAAAAAAALk/Kai8v-INR70/S220/foto-abdi2.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18947851.post-113196058149840267</id><published>2005-11-14T15:20:00.003+07:00</published><updated>2005-11-14T16:29:41.500+07:00</updated><title type='text'>Bangga Saya jadi Orang Indonesia (03): Seorang Ibu yang tak Pernah Pensiun</title><content type='html'>Televisi pertama kali masuk ke kampung kami kira-kira 25 tahun lalu. Waktu itu saya masih di kelas lima SD. Pemiliknya adalah tetangga dekat kami. Hampir semua orang di kampung itu memanggil pemilik rumah itu 'IBU.' Televisi itu 14 inci, hitam-putih. Sebelum ia bisa mengeluarkan gambar sebagaimana layaknya televisi, kerepotan demi kerepotan terjadi di sekitar rumah. Misalnya, di depan rumah IBU harus ditanamkan antena lebih kurang lima meter. Pohon cengkeh di depan rumah kalah sama itu antena. Kerepotan lain adalah menyambung-nyambungkan kabel. Melekatkannya di dinding rumah IBU yang besar itu. Dan, praktis, itu adalah tontonan yang menarik bagi anak-anak seusia saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami mengerumuni para pekerja yang mengerjakannya. Melihat-lihat penuh rasa ingin tahu. Saya, didalam hati bahkan punya target sendiri: saya harus jadi saksi sejarah pertama melihat siaran televisi di kampung kami. Ketika televisi itu kemudian menyala, hati saya bertempik sorak. Kawan-kawan dan saya segera menerobos masuk ke rumah IBU, dengan sedikit malu-malu, untuk menontonnya. Seingat saya, acara sore itu adalah paduan suara anak-anak asuhan Pranajaya, dengan lagu: "Siapa yang paling manis, pasti mama tersayang….". Lima menit setelah menyaksikannya, saya bergegas ke rumah. Memanggil adik perempuan saya (sekarang sudah almarhum) yang sedang memasak. Saya bilang, kamu harus lihat itu televisi. Bagus. Dan adik saya ikut berlari. Dan adik saya ikut menikmati keceriaan itu. Malamnya sebagai imbalan, kami kena marah ibu-bapak. Soalnya, adik saya meninggalkan tungku terlalu lama yang menyebabkan kami harus memakan nasi gosong berkerak malam itu….. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak hari itu kami punya acara rutin setiap sore. Jam 5-6 sore, setelah pulang dari ladang dan mandi di sungai, rombongan saya dan kawan-kawan sudah akan berdiri di depan pintu rumah IBU. Mengetok pintu pelan-pelan dan setelah dibukakan, kami duduk bersila di tikar. Menonton televisi. Bila sudah jam 7 atau jam 8, tidak ada ampun, IBU akan berdiri. Mematikan televisi dan menyuruh kami pulang. 'Pulang, kalian harus belajar," begitu selalu pesan IBU. Dan samasekali tak ada yang berani membantah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin bagi yang tidak tahu riwayatnya, agak aneh kedengarannya, jika di Sidamanik yang kebanyakan orang berbahasa Toba dan Simalungun, ibu itu mendapat julukan IBU, bukan INANG. Tetapi tidak perlu heran. Julukan IBU itu melekat kepadanya karena beliau adalah guru pertama di kampung kami. Sebagian besar orang tua di kampung kami masih mencicipi didikannya. Dan sebagaimana kita pernah dengar cerita orang tua dahulu, guru zaman dulu adalah guru 24 jam. Di rumah dan di sekolah ia tetap menunjukkan teladannya sebagai guru. Makanya panggilan IBU kepada sang IBU itu melekat terus, sampai kepada kami, anak-anak, yang sepantasnya memanggilnya Nenek &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IBU adalah sosok yang terkenal dan berwibawa di kampung kami. Tidak terlalu banyak bicara, tidak suka ngerumpi tetapi ia dikagumi sekaligus ditakuti. Sebenarnya ia sudah lama pensiun dan putra-putrinya sudah jadi Orang semua. Tetapi kegiatan rutinnya tak berbeda jauh dengan orang-orang kebanyakan di kampung kami. Pagi-pagi sekali dia sudah bangun. Pergi ke kebun belakang rumahnya, menyiangi pohon cengkeh, menebang tanaman liar yang sering tumbuh tanpa permisi. Kalau hari Jumat, pagi-pagi sekali dia sudah menarik kereta dorong berisi beras, yang jadi dagangannya di pekan Sarimatondang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sekali-dua kali anak-anak muda di kampung kami kena damprat olehnya. Itu biasanya terjadi jika sedang musim ujian sekolah, ketika kampung kami mendadak sepi. Anak-anak sekolah mendekam di rumah, belajar (entah dengan serius atau tidak).Pada saat-saat semacam itu ada kalanya ada satu dua orang yang membandel, bermain-main gitar di pinggir jalan atau di depan warung sambil mencoba-coba menjadi Peter Pan atau Slank gadungan. Nah, orang-orang ini bersiap-siaplah kena damprat sang IBU. IBU akan marah besar karena melihat anak-anak itu tidak belajar. Ia juga lebih marah karena dengan bernyanyi-nyanyi begitu, orang yang belajar akan terganggu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampung kami yang diberi nama Kampung Gereja di Sidamanik, dikelilingi oleh tiga Gereja, enam Sekolah Dasar dan satu SMP Negeri. Banyak ibu guru yang tinggal di kampung kami itu. Tetapi anehnya, hingga ketika IBU berpulang, belum ada satu pun Ibu Guru yang menggantikan posisi sang IBU untuk dipanggil IBU. Barangkali masih akan lama kami menemukan ibu yang sekaliber IBU. IBU itu memang sudah menjadi icon tentang bagaimana seharusnya seorang Ibu Guru. Dan yang membanggakan kami, ia bukan hanya Ibu Guru bagi orang lain, tetapi juga bagi dirinya sendiri dan juga anak-anaknya. Ia buktikan ajarannya di tengah keluarganya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak mengherankan bila ketika jenazahnya disemayamkan di Rumah Duka, ratusan bahkan ribuan karangan bunga dukacita berbaris sepanjang jalan. Bukan hanya dari bekas murid-muridnya, tetapi terutama dari orang-orang yang mengucapkan ikut berdukacita kepada putra-putrinya. Putranya yang tertua adalah Prof. Dr. Bungaran Saragih, menteri pertanian pada Kabinet Gus Dur dan Megawati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(c) Eben Ezer Siadari&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18947851-113196058149840267?l=banggaindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://banggaindonesia.blogspot.com/feeds/113196058149840267/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=18947851&amp;postID=113196058149840267&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18947851/posts/default/113196058149840267'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18947851/posts/default/113196058149840267'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://banggaindonesia.blogspot.com/2005/11/bangga-saya-jadi-orang-indonesia-03.html' title='Bangga Saya jadi Orang Indonesia (03): Seorang Ibu yang tak Pernah Pensiun'/><author><name>Eben Ezer Siadari</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sDOvG1QwyNo/SEYuxWm2rnI/AAAAAAAAALk/Kai8v-INR70/S220/foto-abdi2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18947851.post-113196016359572066</id><published>2005-11-14T15:20:00.002+07:00</published><updated>2005-11-14T16:22:43.606+07:00</updated><title type='text'>Bangga Saya jadi Orang Indonesia (02): Richard Kartawijaya Akhirnya Memilih</title><content type='html'>Richard Kartawijaya tentu Anda kenal. Dulu dia pernah menjadi country manager Microsoft Indonesia. Kemudian sejak tahun lalu ia menjadi salah satu country manager Motorola di Indonesia. Namun, ketika saya menelepon dia beberapa hari lalu untuk berbincang-bincang, dia mengabari saya bahwa dia kini bukan lagi berkarier sebagai eksekutif profesional. Dia sudah 'pindah kuadran,' menjadi seorang entrepreneur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka saya temui dia di kantornya, di gedung Adi Graha di Jl. Gatot Subroto. Kantornya itu di lantai 19, lantai paling tinggi di gedung itu. Ia kini menjadi entrepreneur, dengan membeli setengah kepemilikan dari sebuah perusahaan teknologi informasi penyedia solusi bisnis. Perusahaan itu baru seumur jagung dan Richard berharap dalam lima tahun ke depan sudah dapat mencatatkan perusahaan itu sebagai salah satu perusahaan domestik terkemuka di bidang bisnis yang ia tekuni. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak banyak menanyakan bisnis barunya itu. Saya lebih tertarik mengapa dia berhenti sebagai seorang country manager sebuah perusahaan multinasional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Richard yang saya kenal ternyata memang belum berubah. Ia selalu menjawab pertanyaan-pertanyaan saya dengan kata-kata yang positif, walau pun maksudnya barangkali bersifat negatif. Kata Richard, dia berhenti karena sebagai eksekutif profesional di sebuah perusahaan multinasional yang sudah demikian mapan, ia ingin mendapatkan kebebasan. Jika ia menjadi eksekutif terus, ia tak akan mendapatkannya. Soalnya, hampir semua kebijakan yang harus ia tempuh sudah digariskan dari kantor pusat. Dan, ini, menyebabkan dia merasa bahwa kalau ia berlama-lama jadi eksekutif, ia akan kehilangan daya kreatifitasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah ini tidak Anda duga sebelumnya?, tanya saya. Sebab dalam hemat saya, tentu ia sudah berpengalaman jadi eksekutif di sebuah perusahaan profesional. Dan, tidakkah ia sudah mengantisipasi hal semacam ini sebelumnya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi Richard adalah orang yang selalu menjawab pertanyaan dengan jawaban yang positif.. Kata dia, mungkin dirinya harus banyak belajar lagi tentang dirinya karena ia memang tidak menduga bahwa kebebasan kreatif itu sedemikian berartinya bagi dirinya. Ia menyadari, bila semakin lama ia berada pada posisi itu, ia bisa menajdi tidak dirinya lagi. Itulah sebabnya, dengan sukarela ia mengundurkan diri. Dan, menurut dia, jabatan itu mungkin sudah sepatutnya dijabat orang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*** &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengenal Richard kira-kira tiga tahun yang lalu. Majalah tempat saya bekerja menginginkannya menjadi salah seorang kolumnis kami untuk mengulas tentang berbagai hal di seputar marketing di dunia teknologi informasi. Richard memang menguasai bidang ini. Setidaknya menurut Dewan Redaksi kami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kemudian meneleponnya, membuat janji bertemu dan kemudian kami memang bertemu. Kami bertemu di kantornya, kala itu di sebuah perusahaan domestik di bidang teknologi informasi juga, yakni PT Integrasi (kini Tbk). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbincangan kami semula agak kaku karena kami belum saling mengenal latarbelakang. Tetapi pada pertemuan-pertemuan selanjutnya demikian mulusnya. Richard, di mata saya, adalah seorang eksekutif yang supersibuk, tetapi selalu merasa tertantang oleh pertanyaan-pertanyaan aneh dari kaum awam seperti saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menuliskan kolom-kolomnya, ia meminta saya untuk terlebih dahulu menentukan tema. Lalu saya juga diminta memecah-mecah tema itu ke dalam beberapa pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan itu lah yang ia jawab untuk kemudian 'dijahit lagi' menjadi sebuah tulisan kolom. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Richard ternyata adalah kawan kerja yang baik. Saya justru selalu kewalahan, karena kelupaan mengirimkan daftar pertanyaan kepadanya untuk dijawab dan kemudian dijadikan kolom. Tak jarang ia menjawab pertanyaan-pertanyaan yang saya kirimkan dari perjalanan bisnisnya di luar kota mau pun di luar negeri. Ia menjawab hampir semua pertanyaan atau kadang kala membetulkan pertanyaannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya bertemu dia kembali baru-baru ini, ternyata Richard yang saya kagumi itu belum berubah. Ketika menceritakan perpindahan kariernya itu, tidak ada sedikit pun nada dramatisasi dalam pembicaraan kami. Senyumnya tetap seperti senyum yang pernah saya temui pada dirinya sebelum-sebelumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masa-masa mendatang saya berharap ia akan berhasil dalam jalur entrepreneur yang dipilihnya. Tanda-tanda keberhasilan itu sepertinya sudah tercium ketika saya melihat suasana kantornya. Ruang kantor di perusahaan barunya itu jauh dari glamor. Kata efisien mungkin lebih tepat. Karyawan-karyawannya adalah orang-orang muda. Ruang rapat di sana adalah sebuah ruang terbuka, dimana hanya ada satu meja besar yang dikelilingi sejumlah kursi. Satu ruangan dengan ruangan lain hanya disekat oleh dinding pembatas tanpa pintu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali Richard memang sedang membangun sebuah perusahaan yang benar-benar transparan. Ia sendiri berharap ia memberikan sesuatu yang bernilai bagi dunia bisnis. Karena menurut dia, dunia teknologi informasi harus terus dibangun. Jangan sampai Indonesia hanya dikenal dari ekspor bahan mentah belaka, seperti kecenderungan yang belakangan ini mulai muncul lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau melihat langkah-langkah yang ditempuh Richard Kartawijaya, saya jadi bangga menjadi teman sebangsa dia, bangsa Indonesia. Dia adalah orang Indonesia yang tidak kenal putus harapan. Mau mencoba dunia yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(c) Eben Ezer Siadari&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18947851-113196016359572066?l=banggaindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://banggaindonesia.blogspot.com/feeds/113196016359572066/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=18947851&amp;postID=113196016359572066&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18947851/posts/default/113196016359572066'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18947851/posts/default/113196016359572066'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://banggaindonesia.blogspot.com/2005/11/bangga-saya-jadi-orang-indonesia-02.html' title='Bangga Saya jadi Orang Indonesia (02): Richard Kartawijaya Akhirnya Memilih'/><author><name>Eben Ezer Siadari</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sDOvG1QwyNo/SEYuxWm2rnI/AAAAAAAAALk/Kai8v-INR70/S220/foto-abdi2.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-18947851.post-113195837371882385</id><published>2005-11-14T15:20:00.001+07:00</published><updated>2005-11-14T15:52:53.720+07:00</updated><title type='text'>Bangga Saya jadi Orang Indonesia (01): Tetangga Kami yang Baik</title><content type='html'>Bangga Saya jadi Orang Indonesia (01):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetangga Kami yang Baik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kampung halaman kami dahulu, di sebuah desa bernama&lt;br /&gt;Sarimatondang di Sumatera Utara, ada tradisi yang saya&lt;br /&gt;sangat sukai. Kami anak-anak menyebutnya kebiasaan&lt;br /&gt;kirim-mengirim. Kalau tiba Tahun Baru, di kampung kami&lt;br /&gt;yang mayoritas penduduknya beragama Kristen itu &lt;br /&gt;biasanya kami mengirimkan kue-kue buatan orang tua&lt;br /&gt;kami (kembang loyang, dodol, kue bakar, kacang tojin,&lt;br /&gt;wajik Bandung dst) kepada tetangga-tetangga muslim.&lt;br /&gt;Mereka sebenarnya tak bisa kami sebut tetangga karena&lt;br /&gt;mereka tinggal agak jauh, berseberangan kampung.&lt;br /&gt;Tetapi pekerjaan 'mengirim' itu kami lakoni dengan&lt;br /&gt;senang hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kami kirimi kue-kue itu biasanya adalah&lt;br /&gt;kawan-kawan muslim yang mempunyai pertalian sosial&lt;br /&gt;dengan kami. Apakah karena mereka adalah langganan&lt;br /&gt;tempat kami belanja sayur-mayur atau pecal, teman&lt;br /&gt;sejawat orang tua kami, tukang membetulkan rumah kalau&lt;br /&gt;bocor, kawan sekolah kami, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai balasannya, nanti pada Hari Raya, kami akan&lt;br /&gt;mendapatkan lagi kiriman dari tetangga Muslim itu.&lt;br /&gt;Aneka rupa isi kiriman itu. Kembang loyang, dodol dan&lt;br /&gt;sejenisnya tetap ada. Tetapi para tetangga Muslim itu,&lt;br /&gt;yang banyak juga diantaranya kawan-kawan dari bersuku&lt;br /&gt;Jawa, biasanya lebih kreatif. Maka seringkali juga ada&lt;br /&gt;lontong sayur, getuk, kue lapis, nagasari dan&lt;br /&gt;sejenisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesama kami anak-anak biasanya saling membanggakan&lt;br /&gt;jumlah kiriman yang kami terima. Memang seringkali&lt;br /&gt;berbeda jumlahnya antar satu rumah dengan rumah&lt;br /&gt;lainnya. Jumlah kiriman itu secara tidak langsung&lt;br /&gt;menggambarkan seberapa luas relasi kita dengan&lt;br /&gt;tetangga Muslim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Jakarta, saya mendapati pengalaman yang unik. Saya&lt;br /&gt;sebagai anggota komunitas baru di sekitar rumah, di&lt;br /&gt;desa Sarua, Ciputat, bertetangga dengan sebuah&lt;br /&gt;keluarga muslim yang, dari pengamatan saya, sangat&lt;br /&gt;taat. Sama seperti keluarga saya, mereka baru memiliki&lt;br /&gt;seorang putra. Semula saya sudah was-was. Sebagai&lt;br /&gt;seorang kristen yang kadang-kadang merasa minoritas di&lt;br /&gt;Jakarta ini, dalam hati saya sering berpikir-pikir,&lt;br /&gt;wah, bakal ada masalah nggak sama ini tetangga. Apakah&lt;br /&gt;dia akan cukup nyaman bertetangga dengan saya yang&lt;br /&gt;selain kristen, Batak lagi. (Istilahnya, minoritas&lt;br /&gt;ganda).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata kebalikannya. Tetangga kami itu demikian&lt;br /&gt;ramah. Mereka yang pertama menyapa kami, bahkan datang&lt;br /&gt;bertamu. (Wah, saya jadi malu, padahal, kami yang&lt;br /&gt;seharusnya datang memperkenalkan diri). Belakangan,&lt;br /&gt;istri-istri kami jadi demikian akrabnya. Berboncengan&lt;br /&gt;naik motor mereka belanja ke mana-mana. &lt;br /&gt;Belakangan ini, ada lagi kebiasaan tetangga baru kami&lt;br /&gt;itu yang membuat kami sekeluarga (yang hobinya makan)&lt;br /&gt;makin ternanti-nanti. Beberapa kali saat berbuka&lt;br /&gt;puasa, kami juga mendapat kiriman hidangan berbuka&lt;br /&gt;puasa. Unik-unik. Kadang-kadang ada onde-onde yang&lt;br /&gt;tidak terbuat dari ketan melainkan dari tepung ubi.&lt;br /&gt;Kala lain, lontong sayur yang ada baksonya. Kalau&lt;br /&gt;pisang molen, entah sudah berapa kali mampir di rumah&lt;br /&gt;kami. Kalau mengingat kata istri saya bahwa si ibu&lt;br /&gt;tetangga itu sebenarnya nggak pintar masak (dan mereka&lt;br /&gt;sering belajar sama-sama bikin masakan tertentu),&lt;br /&gt;pastilah kiriman si ibu tetangga itu datangnya dari&lt;br /&gt;tempat lain juga. Entah itu dari sanak saudaranya yang&lt;br /&gt;sering berkunjung ke rumah mereka atau mungkin dia&lt;br /&gt;beli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, kami juga harus cukup tahu diri. Istri&lt;br /&gt;saya yang pernah bekerja di sebuah restoran,&lt;br /&gt;kadang-kadang berinisiatif juga mengirimkan &lt;br /&gt;masakannya kepada tetangga kami itu. Sebetulnya,&lt;br /&gt;kirim-mengirim ini sudah agak berlangsung lama, jauh&lt;br /&gt;sebelum bulan puasa. Kalau suami si Ibu tadi tugas ke&lt;br /&gt;luar kota, ketika kembali ke Jakarta, si Ibu tadi&lt;br /&gt;sering pula membagi oleh-oleh si Bapak kepada kami.&lt;br /&gt;Sebaliknya, manakala saya ke luar kota, istri saya&lt;br /&gt;juga tidak lupa membagikannya kepada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiap kali saya menikmati 'kiriman' dari sang tetangga,&lt;br /&gt;saya merasa bersyukur dan merasa bangga sebagai orang&lt;br /&gt;Indonesia. Indonesia yang begini luas, begini beragam&lt;br /&gt;penduduknya, begitu kaya budaya dan tradisinya&lt;br /&gt;ternyata bukan hanya diisi oleh orang-orang yang&lt;br /&gt;membuat kita merasa malu sebagai orang Indonesia&lt;br /&gt;seperti yang sering kita saksikan di tayangan-tayangan&lt;br /&gt;televisi tentang para koruptor dan pelaku kriminal.&lt;br /&gt;Orang-orang baik di Indonesia masih ada dan saya kira&lt;br /&gt;masih banyak. Kebiasaan-kebiasaan baik dan&lt;br /&gt;kebiasaan-kebiasaan luhur juga masih dapat kita&lt;br /&gt;temukan dalam keseharian kita. Dan, itu bukan di&lt;br /&gt;tempat-tempat yang kita anggap seharusnya tempat orang&lt;br /&gt;untuk berbuat baik, seperti di tempat-tempat ibadah.&lt;br /&gt;Tetapi di dekat-dekat kita, di tetangga kita, di&lt;br /&gt;jalanan yang mungkin kita lalui setiap hari dan juga&lt;br /&gt;mungkin di tempat kita mencari nafkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebaikan-kebaikan kecil yang kami nikmati dari&lt;br /&gt;tetangga itu ternyata menghasilkan banyak lagi&lt;br /&gt;kebaikan-kebaikan besar di kemudian hari. Kami pernah&lt;br /&gt;lupa mengunci pintu pagar ketika bepergian. Dan&lt;br /&gt;tetangga kami menguncikannya sambil mengirimkan SMS&lt;br /&gt;kepada istri saya memberitahu bahwa mereka sudah&lt;br /&gt;menguncikan pintu pagar kami. Kala lain, ada ular&lt;br /&gt;tiba-tiba masuk ke rumah mereka dan si Ibu berteriak&lt;br /&gt;lewat jendela rumah kami meminta tolong. Kami kemudian&lt;br /&gt;bersama-sama meminta tolong kepada tukang ojek yang&lt;br /&gt;lewat untuk menolong kami (sebab diantara kami sendiri&lt;br /&gt;tidak ada yang berani menangkap ular).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lantas berujar dalam hati, alangkah bangganya&lt;br /&gt;kita menjadi bangsa Indonesia jika setiap hari kita&lt;br /&gt;dapat mengisi kebaikan-kebaikan dengan sesama. Tidak&lt;br /&gt;perlu dengan kebaikan-kebaikan besar.&lt;br /&gt;Kebaikan-kebaikan kecil, kemurahan-kemurahan yang&lt;br /&gt;kelihatannya remeh temeh, pada saatnya akan sangat&lt;br /&gt;berarti menjadikan kita sebagai bangsa yang besar.&lt;br /&gt;Sungguh saya bangga jadi orang Indonesia. Anda juga,&lt;br /&gt;bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(c) Eben Ezer Siadari&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/18947851-113195837371882385?l=banggaindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://banggaindonesia.blogspot.com/feeds/113195837371882385/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=18947851&amp;postID=113195837371882385&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18947851/posts/default/113195837371882385'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/18947851/posts/default/113195837371882385'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://banggaindonesia.blogspot.com/2005/11/bangga-saya-jadi-orang-indonesia-01_14.html' title='Bangga Saya jadi Orang Indonesia (01): Tetangga Kami yang Baik'/><author><name>Eben Ezer Siadari</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://bp3.blogger.com/_sDOvG1QwyNo/SEYuxWm2rnI/AAAAAAAAALk/Kai8v-INR70/S220/foto-abdi2.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry></feed>
