30 October 2011

Armene Modi: Membuat Perubahan dengan Sepeda

Tak ada yang meragukan pentingnya pendidikan bagi anak-anak. Juga para penduduk Sone Sangvi, sebuah desa di India. Semua keluarga di desa itu menyekolahkan anak-anak mereka.


Namun tantangannya muncul ketika anak-anak itu sudah sampai kelas tujuh. Mereka harus melanjutkan sekolah  ke kota yang jauhnya lebih kurang satu jam berjalan kaki. Maklum saja, hanya ada tiga sekolah lanjutan untuk melayani 10 desa di kawasan itu.

Orang tua biasanya akan membelikan sepeda kepada para anak-anak laki-laki. Ini akan menghemat perjalanan menjadi beberapa menit saja. Namun, sayangnya, anak-anak perempuan tak mendapat perlakuan serupa. Menginvestasikan uang untuk membeli sepeda bagi gadis remaja dianggap pemborosan --selain karena mereka tidak punya cukup uang untuk membelinya. Anak-anak perempuan biasanya akan dinikahkan muda dan karena itu tidak perlu dibelikan sepeda.

25 May 2011

Selalu ada pagi bagi Suwarti

Tidak ada pagi yang tak cerah bagi Suwarti. Pagi adalah matahari bagi hidupnya. Angin yang basah dan dingin, mendung, kabut bahkan hujan, tak pernah menjadi penghalang baginya menyongsong pagi dan matahari hidupnya.

Setiap pagi, tak pernah lewat dari pukul 6:30, ketika banyak ibu rumah tangga masih bersiap-siap memberangkatkan putra-putrinya ke sekolah, ketika orang-orang yang akan ke kantor mungkin masih belum menyiapkan baju kerjanya, Suwarti sudah beredar di jalanan kompleks perumahan kami di Ciputat. Suaranya yang nyaring tetapi dengan nada rendah sudah kami kenal dengan akrab. “Kue….kue….. Kue Pak? Kue Bu?” Suara itu berkumandang diiringi dengan langkah kakinya yang cepat dan suara sandalnya yang kadang seperti terseret. Menggendong kue jualannya, ia berjalan kaki sepanjang perumahan berisi ratusan rumah itu. Suaranya masih terdengar terus bahkan dari kejauhan.

23 May 2011

Selalu Ada Pagi bagi Suwarti



Tidak ada pagi yang tak cerah bagi Suwarti. Pagi adalah matahari bagi hidupnya. Angin yang basah dan dingin, mendung, kabut bahkan hujan, tak pernah menjadi penghalang baginya menyongsong pagi dan matahari hidupnya. Setiap pagi, tak pernah lewat dari pukul 6:30, ketika banyak ibu rumah tangga masih bersiap-siap memberangkatkan putra-putrinya ke sekolah, ketika orang-orang yang akan ke kantor mungkin masih belum menyiapkan baju kerjanya, Suwarti sudah beredar di jalanan kompleks perumahan kami di Ciputat. Suaranya yang nyaring tetapi dengan nada rendah sudah kami kenal dengan akrab. “Kue….kue….. Kue Pak? Kue Bu?” Suara itu berkumandang diiringi dengan langkah kakinya yang cepat dan suara sandalnya yang kadang seperti terseret. Menggendong kue jualannya, ia berjalan kaki sepanjang perumahan berisi ratusan rumah itu. Suaranya masih terdengar terus bahkan dari kejauhan.