27 September 2006

Ratih van Ngawi



(satu)
Saya belum pernah bertemu Ratih Sanggarwati. Lihat fotonya sering. Baca berita tentang dirinya beberapa kali. Pak Syahrir Wahab, bos saya dulu di tempat kerja yang lama, sekali dua bercerita juga tentang adik iparnya itu. Namun itu tak terlalu penting. Yang membuat Ratih Sang, begitu ia akrab dipanggil, menjadi penting, adalah ketokohannya. Ia peragawati senior yang kini jadi public figure. Ibu dari tiga anak ini menjadi kolomnis di beberapa media, pembicara talk show tentang banyak hal, juga punya perusahaan pelatihan model. Perjalanannya sebagai peragawati ditandai dengan aneka prestasi. Termasuk pernah menjadi Putri Remaja tahun 1980 dan None Jakarta tahun 1983.

Ngopi Bareng Jansen SInamo (3)

Episode Ruang Tunggu




13 April 2006, di sebuah kantor Pemerintah
Setelah bersitegang agak lama dengan pegawai sebuah kantor Pemerintah Pemda DKI Jaya yang mengurusi klaim pensiunan, saya akhirnya terduduk loyo. Di sebuah bangku panjang berderet dekat ke tembok. Bersama istri saya yang hari itu, untuk kesekian kali datang ke kantor itu untuk urusan yang itu-itu juga. Saya menemaninya karena kasihan. Bolak-balik kantor itu mengurusi pensiun ibu mertua. Tidak kelar-kelar. Padahal sepekan sebelumnya, Bu Pejabat yang akan kami temui sudah menjanjikan hari ini urusan akan kelar. Eh, ketika kami datang, stafnya berkata mendadak si Ibu ada acara di luar kantor. Baru kembali lagi sore hari.

Saya mau marah. Dan kemudian memang marah. Tetapi akhirnya saya memutuskan untuk menunggu. Menunggu sampai kapan pun si Bu Pejabat akan kembali. Walau para stafnya membujuk agar saya datang lagi besok. Atau menitipkan saja pesan. Saya tak mau. Saya akan menunggu, kata saya. Saya melirik jam. Pukul 9:52. Tak apa. Saya meminta agar istri saya pulang saja.

Di ruangan itu orang berlalu lalang dengan banyak urusan. Saya duduk, mulanya dengan hati dongkol. Tetapi kemudian saya teringat, di ransel saya di dalam mobil, saya masih membawa buku titipan dari Jansen Sinamo. Delapan Etos Kerja Profesional, Navigator Anda Menuju Sukses. Mengapa saya tak membacanya saja, untuk mengisi waktu?, pikir saya dalam hati.

Saya segera berlari ke tempat parkir. Dan kemudian kembali lagi dengan buku karya Jansen di tangan. Segelas plastik Aqua dan seonggok gorengan saya bawa turut serta kemudian saya letakkan di samping saya. Itu membuat sejumlah orang di ruangan itu melihat penuh tanya kepada saya. Biarin. Mau? Beli sono….

Saya mulai membaca buku itu. Di sana ada sebuah penjelasan tentang Rahmat. Rahmat itu, per defenisi adalah kebaikan yang kita terima tanpa kualifikasi, tanpa syarat. Rahmat tidak dikaitkan dengan prestasi, merit atau kebaikan kita. Dengan kata lain rahmat itu adalah anugerah, berkat, kasih karunia, idop ni uhur kata orang Simalungun. Kata Jansen lagi, hanya Tuhan lah yang mampu memberikan rahmat yang paripurna.

Rahmat itu ternyata ada macam-macamnya. Ada rahmat umum, yakni rahmat yang semua orang mendapatkan dan menikmatinya. Udara, sinar matahari, hujan, bahasa ibu yang secara otomatis kita kuasai sejak kecil, dan sebagainya.

Ada juga rahmat khusus yakni rahmat yang secara istimewa didapatkan seseorang dan orang lain tidak. Misalnya (sekali lagi, misalnya nih), saya yang orang Batak ini dianugerahi Danau Toba yang luas dan cantik sehingga ketika orang bertanya tentang kampung halaman saya, saya dengan cepat bisa bilang, kira-kira satu jam dari Danau Toba.

Rahmat khusus ini bisa dalam berbagai bentuk. Semisal, rahmat yang bersifat serendipitas yakni menemukan atau memperoleh sesuatu yang bernilai tanpa mencarinya. Contoh klasik adalah penemuan Amerika oleh Columbus. IA sebenarnya tidak berniat menemukan benua itu. Ia cuma ingin mencari jalur baru ke India. Tetapi ia gagal dan malah mendapat 'ganjaran' sebuah benua raksasa. Rahmat serendipitas.

Rahmat khusus lain adalah rahmat yang muncul tak terduga-duga, koinsidensial, kebetulan. Jansen menulis, "Terjadinya dua peristiwa secara bersamaan tak ada yang mengaturnya namun setangkup saling memenuhi." Misalnya, pada sautu saat kita sedang benar-benar membutuhkan pertolongan si X. Tanpa kita duga-duga, si X menelepon dan kemudian muncul di hadapan kita. Sebuah rahmat yang tak terduga, bukan?

Namun, jenis rahmat yang paling relevan bagi saya pagi itu, dan membuat saya jadi betah membaca buku itu berlama-lama adalah penjelasan Jasen tentang Rahmat Terselubung. Rahmat terselubung adalah rahmat yang datang dari berbagai kecelakaan. Misalnya, dalam kisah Titanic diceritakan ada satu keluarga di Inggris yang merencanakan liburan ke Amerika menumpang kapal itu. Namun beberapa hari sebelum berangkat, anak mereka digigit anjing dan positif kena rabies menyebabkan mereka batal berlayar. Beruntung bukan? Dibalik batalnya mereka berangkat, mereka terhindar dari maut. Blessing in disguised.

Wah, kata saya dalam hati. Hari ini saya mendapat rahmat terselubung. Di sela-sela kekesalan saya berhadapan dengan para priyayi dan ambteenar di kantor ini, ternyata saya diberi tempat duduk di ruang tunggu ini. Ditemani seglas Aqua dan gorengan. Saya jadi punya waktu berkonsentrasi penuh kepada si buku karya Jansen Sinamo. Dan, sungguh, saya benar-benar tidak membual, kurang lebih empat jam saya menunggu di ruang tunggu itu (Mulai pukul 10:00-14:00) saya berhasil menuntaskan membaca buku Jansen. Tidak capek. Kening tidak berkeriput. Karena bahasanya memang cair mengalir. Contoh-contohnya dalam. Walau pun, wah, kok Jansen kelihatannya senang sekali memperjelas sesuatu sampai sejelas-jelasnya ya?

Penjelasan tentang Rahmat tadi, adalah bagian dari penuturan Jansen tentang salah satu dari delapan Etos kerja profesional, yakni Etos 1: Kerja adalah rahmat. Menurut Jansen, jika seorang profesional ingin sukses, jika sebuah korporasi ingin membangun keberhasilan yang sejati, etos semacam itu harus di bangun pada tiap insan, yakni Kerja adalah rahmat. Dengan menempatkan kerja sebagai rahmat, bahwa pekerjaan adalah juga dianugerahkan oleh Tuhan karena kita yakin Dia yang selalu memelihara dan bersama kita, maka seseorang akan mengejawantahkannya dalam hidup berupa tekad 'Aku bekerja tulus penuh syukur.'

Anda, sama seperti saya, awalnya pasti akan mentertawakan pernyataan, bahwa 'kerja adalah rahmat Tuhan.' Yang benar saja. Kita kan harus berjuang mati-matian mengalahkan saingan lain ketika dites untuk bekerja di sebuah perusahaan? Masa' sih itu anugerah? Diberi secara cuma-cuma oleh Tuhan?

Saya tertawa dalam hati dan mencoba mengikuti alur pikiran Jansen. Dan ternyata ia memang tidak hanya mendagel. Ia tidak hanya ingin menyenang-nyenangkan Tuhan dengan pernyataannya itu. Dia tidak sedang ingin jadi terlihat sebagai orang baik-baik. Sebab penjelasannya memang pada akhirnya dapat meyakinkan saya. Atau lebih tepatnya, memperlihatkan apa yang mungkin selama ini tak pernah terlintas di benak saya.

Kata dia, ada lima alasan mengapa kita menganggap pekerjaan adalah rahmat. Pertama, karena dengan pekerjaan lah Dia memelihara kita. Dengan bekerja lah kita dapat memenuhi kebutuhan diri sendiri dan keluarga. Dan itu adalah jalanNya menafkahi kita, bila kita percaya semua yang ada adalah milikNya. Masuk akal, bukan?

Kedua., dengan bekerja orang tidak hanya dipenuhi kebutuhan jasmaniahnya. Ia bergaul, berinteraksi dan merasa jadi manusia seutuh-utuhnya. Jadi insan mulia. Ini tak pernah kita dapatkan karena usaha kita, melainkan ia adalah anugerah. Anugerah atau rahmat yang menyatu dalam sebuah pekerjaan yang kita peroleh.

Ketiga, talenta atau bakat yang kita miliki, yang kita katakan sebagai rahmat khusus, datangnya dari Dia. Dan dengan talenta itu lah kita bekerja. Maka, bukankah itu berarti pekerjaan yang kita dapatkan berkat talenta itu, adalah sebuah rahmat juga?

Keempat, bahan baku yang kita olah dalam pekerjaan kita, semuanya tersedia karena rahmat.

Kelima, interaksi kita kepada banyak orang memberi kita identitas sekaligus komunitas. Ini adalah anugerah yang tidak kita dapatkan karena kekuatan kita melainkan anugerah yang tersedia dengan sendirinya karena kita bekerja.

Saya tidak tahu, apakah Anda menyukai penjelasan-penjelasan mendalam seperti yang dilakukan Jansen ini. Penjelasan yang mengajak kita menanyakan hati dan mencari lagi pengertian hakiki dari yang dijelaskannya. Kalau Anda menanyai saya, saya akan katakan saya menyukainya karena dalam banyak hal, ia ternyata menyuguhkan sudut pandang yang sebelumnya tidak pernah saya duga samasekali.

Saya kira di sini lah letak keistimewaan buku karya Jansen. Contoh bagaimana ia menjelaskan Etos 1: Kerja adalah Rahmat itu, ia teruskan hingga mencakup tujuh Etos lainnya. Yakni:
Etos 2: Kerja adalah Amanah; Aku bekerja penuh tanggung jawab.
Etos 3: Kerja adalah Panggilan; Aku bekerja tuntas penuh integritas.
Etos 4: Kerja adalah Aktualisasi; Aku bekerja penuh semangat
Etos 5: Kerja adalah Ibadah; Aku bekerja serius penuh kecintaan.
Etos 6: Kerja adalah Seni; Aku bekerja cerdas penuh kreativitas
Etos 7: Kerja adalah Kehormatan; Aku bekerja tekun penuh keunggulan.
Etos 8: Kerja adalah Pelayanan; Aku bekerja sempurna penuh kerendahan hati.

Kesemua Etos itu dijelaskan dengan gamblang, rinci tetapi juga luas. Jansen mendatangi berbagai khasanah ilmu, khasanah peradaban untuk menerangkan apa saja yang dalam bayangan dia akan bisa memperkuat argumennya. Kadang-kadang ia memang terkesan terlalu ingin mengatakan lebih banyak (bahkan kebanyakan dari yang kita butuhkan) tetapi justru dalam kebertele-teleannya, dalam kesabarannya menjelajah pikiran-pikiran orang lain, kita menemukan sudut pandang lain. Tak percuma daftar pustakanya dihuni tak kurang dari 100 buku dan artikel referensi, mulai dari Gibran hingga Fukuyama, Kiyosaki hingga Anthony Robbins.

Ketika arloji saya menandakan saya telah dua jam membaca buku itu, saya terkaget-kaget ketika saya sudah berada di lebih setengah dari isi buku. Oh, tentu ada beberapa bagian yang saya lewatkan. Semisal sub bab Mutiara Etos yang ada pada setiap bab, semacam rangkuman dari tiap bab. Tetapi hampir tak ada yang saya lewatkan sepanjang mengenai masalah-masalah mendasar yang disajikan dalam buku itu. Dan karena itu lah saya kaget karena sesungguhnya selama ini saya tak pernah bisa betah membaca buku lebih dari satu jam, tanpa menaruh perhatian ke tempat lain. Mungkinkah ini karena buku Jansen yang sangat memikat, dengan bahasa yang mengalir tapi padat, lincah tanpa kehilangan keseriusan dan pada saat yang sama, acap menghadirkan kejutan sudut pandang? Atau hanya karena soal teknis belaka: saya memang terkurung di ruang tunggu itu, sehingga tidak ada alasan untuk tak memelototi buku di tangan saya?

Apa pun alasannya, saya akhirnya berkata dalam hati tak menyesal mendapatkan buku ini dari tangan penulisnya langsung, Jansen Sinamo. Saya juga bersyukur karena akhirnya saya mendapat sudut pandang baru tentang arti sukses dan pada saat yang sama, mempunyai sudut pandang yang baru pula dalam menempatkan buku-buku tentang sukses. Saya akhirnya mulai mengerti mengapa banyak buku sukses menjadi bestseller, dicari orang, walau pun kita tahu, membaca buku sukses bukan jaminan untuk sukses. Saya akhirnya tahu bahwa buku sukses memang tidak menjamin kita sukses melainkan ia mungkin akan dapat mempebarui pemahaman tentang sukses, pemahaman yang lebih segar yang oleh orang-orang sekarang kerap disebut pencerahan.

Di atas semua itu, dari buku Jansen saya justru merasa mendapatkan hal yang lebih dalam lagi. Selama ini saya menganggap sukses itu adalah sesuatu yang jauh di sana, menunggu untuk kita renggut, seperti sebuah sepeda, sehelai baju, seperangkat alat-alat tulis, yang tergantung di pucuk pohon yang jadi ajang rebutan dalam lomba panjat pinang 17 agustusan. Membaca karya Jansen, saya disadarkan bahwa makna sukses itu juga berubah dan dapat kita ubah. Sukses itu dimulai dari pikiran dan ia akan sangat tergantung dari Etos yang kita bangun. Sukses dengan kata lain, bisa jadi akan seperti rahmat juga. Ada sukses yang bersifat umum, ada sukses yang bersifat khusus. Ada sukses yang layaknya bisa dicapai oleh siapa saja. Tetapi ada juga sukses yang mungkin hanya milik kita.

Pukul 14:00, akhirnya Bu Pejabat yang saya tunggu-tunggu akhirnya kembali ke kantornya. Setelah menunggu di depan pintu ruangannya, saya akhirnya masuk. Setelah ia meminta maaf berkali-kali (tapi saya sudah bosan dengan maaf semacam ini), akhirnya saya mengemukakan kekesalan saya dan kemudian Bu Pejabat berjanji akan membereskan urusan kami. Saya hanya meminta dia kepastian waktu. Dan akhirnya ia menjanjikan tiga hari.

Sambil berdesak-desakan di dalam lift yang membawa saya turun untuk kemudian keluar dari areal kantor itu, aneka pikiran berlompatan dalam benak saya, masih tentang apa saja yang saya baca di buku karya Jansen. Saya bertanya dalam hati, siapa kira-kira yang bakal membaca buku itu? Dan apa kira-kira yang akan mereka dapatkan dari buku itu?

Saya tak bisa dengan cepat menemukan jawabannya. Yang saya bayangkan, orang-orang yang merasa memerlukan sukses akan mencari buku ini. Dan saya yakin dengan membaca buku ini mereka secara perlahan akan merasa bahwa mereka belum terlambat untuk meluruskan langkahnya, bila mereka merasa berada di jalan yang salah. Pada saat yang sama, saya juga menduga ada yang malah bertepuk tangan diam-diam, dan bersyukur dalam hati karena walau mereka belum sukses, setelah membaca buku ini, ia bertambah PD karena ternyata ia telah mencapai tigaperempat perjalanan. Orang-orang yang merasa sukses, saya yakin, setelah membaca buku ini, juga akan merasa bisa melihat sisi lain dari suksesnya itu sehingga ia akan dengan cepat mengatakan, "Oh, saya belum sesukses yang saya duga, ternyata….."


Dengan kata lain, buku yang dimaksudkan sebagai navigasi menuju sukses ini, dalam hemat saya adalah buku bukan hanya untuk orang yang belum sukses, ingin sukses dan mencari sukses. Tetapi juga bagi mereka yang merasa dirinya sudah sukses akan berguna membacanya. Sebab Jansen tak hanya bicara tentang sukses, tetapi ia menerangkan tentang sukses yang sejati.

Maka saya tidak lagi menyesal mengenal Jansen Sinamo. Saya juga tampaknya tak akan alergi lagi pada buku-buku sukses. Setidaknya, bila ia bisa ditulis sedalam dan selincah buku Jansen, plus ada intro yang enak dari penulisnya sambil menyeruput Cappucino, saya pasti akan berusaha mencari 'rahmat terselubung' agar punya waktu untuk membacanya. Selamat Pak Jansen. Navigasi Anda saya kira akan dinantikan banyak orang.


29 April 2006
© Eben Ezer Siadari

Ngopi Bareng Jansen Sinamo (2)

Episode Coffee Shop Mandarin


8 April 2006, pukul 07:42.
Hotel Mandarin di kawasan Sudirman Jakarta sudah terlihat bergegas sepagi ini. Saya duduk di lobbi. Menunggu sambil berpikir, sudah berapa lama saya tidak ke hotel ini?

Seingat saya, sepanjang karier saya sebagai wartawan agak jarang saya menghadiri liputan yang bertempat di hotel ini. Uuups, saya ingat sekarang. Pertama kali datang ke sini ketika seorang wanita setengah baya, dari Swiss, mengundang kami beberapa wartawan makan malam. Ia datang dari sekolah bisnis terkemuka, International Management Development (IMD), Swiss. Lalu di sini dulu sekali, seorang perempuan yang menjadi menteri di Pemerintahan Belanda, juga pernah mengundang kami para wartawan. Seusai konperensi pers, saya bahkan masuk ke kamar sang menteri. Duduk di kasurnya, dan menyodorkan tape recorder mini saya ke mulutnya untuk merekam jawaban-jawabannya. Foto ketika saya mewawancarainya itu, di atas tempat tidurnya, masih saya simpan di rumah. Jika saya amat-amati lagi, tidak ada kesan tidak senonoh dalam foto itu. Justru kesederhanaan lah yang tampil. Sebab seorang menteri, dari negeri Kincir Angin, menginap di ruangan kamar standar yang tak terlalu luas….

Hotel ini tak banyak berubah, pikir saya. Teduh, tenang tetapi hidup. Orang-orang yang berlalu-lalang menandakan hotel ini bukan sebuah penginapan untuk plesiran. Melainkan untuk bisnis, bisnis dan bisnis. Seorang bermata sipit di sebelah saya, mungkin berkebangsaan Jepang, tak henti-hentinya menoleh ke arlojinya. Mungkin ia sedang menunggu seseorang? Saya terus melamun, menanti hingga pukul delapan tiba……

Ketika melamun begitu, tanpa saya sadari Jansen ternyata sudah ada di dekat saya, bersama Andrias Harefa, rekannya yang sudah lama saya kenal. Setelah say hello dan basa-basi seperlunya, Jansen menggiring saya ke Coffee shop di lantai dua. Coffee shop itu sejuk, aroma kopi merebak. Jansen segera membuka jasnya, duduk di sofa, begitu juga saya dan Andrias. Jansen rupanya sedikit 'kepanasan' setelah berjalan kaki dari seberang hotel itu. Ia baru saja menyelesaikan acara talk shownya di radio Smart FM, dan daripada pusing-pusing ke tempat parkir, plus harus muter lagi, ia memutuskan saja berjalan kaki dari studio radio itu, mungkin sekitar 500 meter dari hotel itu.

Yang segera saya perhatikan adalah perawakan Jansen yang gempal, mirip pejudo atau pegulat. Namun bola matanya yang bulat, keningnya yang lebar, segera menyadarkan saya akan cara memandang para intelektual pada umumnya: tajam menyelidik, tapi tenang menunggu jawaban. Tawanya renyah, dengan suara yang tak kalah enak dengan para penyiar radio. Sebungkus A Mild, menemani dia manakala bicara.


Saya lupa bagaimana awalnya ia membuka topik pembicaraan. Yang saya ingat, tanpa saya sadari kami sudah berbincang panjang lebar mengenai berbagai hal, termasuk tentang arti sukses dalam hidup baik individu, organisasi, maupun negara. Sekali lagi, seperti yang sudah sering saya baca dalam ulasan mengenai dia, ia peragakan lagi ketidakjemuan dan ketidakmenyerahannya berbicara tentang Etos. Kali ini bahkan dengan agak meyakinkan ia menceritakan pencariannya ke berbagai khasanah ilmu dan peradaban untuk menelisik apa itu sukses, apa sumber sukses dan bagaimana mencapainya. Dan Jansen mengatakan pada akhirnya kuncinya ada pada Etos.

Salah satu hal menarik dari Jansen adalah ia tak bisa melepaskan diri dari dirinya sebagai Fisikawan. Ia menggunakan pendekatan Ilmu Fisika dalam meneropong banyak hal, termasuk dalam pencariannya menelusuri berbagai teori sukses. Ia juga mengutip aneka teori fisika (yang satu pun saya tak hafal) untuk menjelaskan pikiran-pikirannya kepada saya, sebagai analogi.

Yang mengherankan bagi saya, jika Ilmu Fisika yang saya pelajari di bangku SMA begitu rumit dan begitu ruwet, dalam penjelasan-penjelasannya justru terdengar menarik, indah dan menantang, meskipun 'otak kampungan' saya tetap kalang kabut untuk bisa mengerti. Ini mengingatkan saya pada Umar Kayam, sosiolog yang tak pernah berpretensi jadi seorang gurubesar sosiologi ketika berbicara sosiologi. Tetapi setelah mendengar penjelasannya yang mengalir, lincah tapi juga jenaka, kita baru sadar bahwa sang profesor ternyata dari tadi telah menanamkan kepada kita sesuatu yang berharga dari khasanah sosiologi.

Saya menemukan kelincahan seorang Fisikawan yang berbicara tentang arti sukses pada Jansen. Ia menjelaskan konsep-konsep Fisika lewat contoh-contoh sangat sederhana dan nyata. Lalu kemudian ia sambungkan dengan hidup sehari-hari dan mempertautkannya dengan ‘teori sukses’ yang sedang ia kembangkan.Jansen agaknya percaya, bahwa sama seperti ambisi Albert Einstein untuk menciptakan satu teori menyeluruh (unified) tentang Fisika, Jansen juga yakin dapat tercipta sebuah teori menyeluruh tentang sukses. Dan Etos, yang ia populerkan tanpa kenal lelah, menurut dia, adalah bingkai atau payung yang bisa jadi wadah bagi teori menyeluruh itu. Sebab menurut dia, Etos memuat semua elemen sukses yang selama ini beredar di 'pasar' teori-teori sukses. Apakah itu yang disebut sikap mental, motivasi, kebiasan (habit), semua tercakup dan menyatu pada Etos.

Seraya membeberkan itu semua, ia menyerahkan sebuah buku karyanya, yang terbit tahun lalu dengan judul 8 Etos Kerja Profesional, Navigator Anda menuju Sukses. Ada puluhan tokoh, termasuk Jakob Utama, Peter F. Gontha, Bungaran Saragih sampai Ignas Kleden memberikan endorsement pada buku itu.

Buku itu dengan hormat saya terima, tetapi dalam hati saya berpikir, kapan ya saya akan punya waktu, untuk membaca buku setebal 285 halaman ini? (Ada CDnya pula).

Dengan sekelebat saya buka-buka buku itu. Antara terpaksa dan tertantang. Hm, tiap bab dalam buku itu selalu dibuka dengan kisah-kisah yang mengajak kita untuk berkontemplasi. Merenung. Kadang-kadang tersenyum sendiri. Dalam hati saya berpikir, Etos itu ternyata tidak seabstrak dan seberat yang saya bayangkan ya?

Di sana-sini ia cantumkan pula semacam ringkasan dari masing-masing bab. Kadang-kadang ringkasan itu berpanjang-panjang juga. Tapi saya kira Jansen memang harus mengambil risiko itu. Sebab buku ini memang benar-benar tidak ingin punya ‘lobang’ untuk diserang. Jansen agaknya berusaha menghimpun semua hal yang bisa menjelaskan apa arti sukses sehingga ia tidak ingin membuka kesempatan kepada orang untuk mengatakan, “Hei Jansen, yang ini kamu belum bahas lho….”

Masih di Coffee shop yang nyaman itu, sembari diselingi menyeruput Capucciono dari gelas raksasa (wah, baru kali ini saya minum kopi dari sebuah gelas sebesar kelapa), mata saya sekilas berhenti halaman 26 buku itu, terpaku karena membaca kata-kata yang menurut saya adalah obsesi dari Jansen selama puluhan tahun bergelut pada kajian-kajian ilmu abstrak yang jadi minatnya. Dia menulis begini: “Demikianlah, saya menemukan bahwa Etos ternyata mengandung makna yang bahkan melebihi apa yang saya cari. Dalam kata Etos, semua kata kunci yang menjadi elemen sukses dalam ratusan bahkan ribuan buku sukses sudah terwakili dengan lengkap."

Ini harus dibuktikan, pikir saya. Dalam satu kalimat yang agak panjang, tetapi tidak membingungkan, Jansen menurut saya telah menjelaskan siapa dirinya, apa yang dia cari dan sudah sampai dimana pencariannya itu. Tentu tidak semua orang percaya. Saya juga tak percaya. Dan menurut saya kalimat itu adalah kalimat seorang yang percaya dirinya tinggi (bahkan ada kesan sombong, bukan?) tetapi pada saat yang sama ia mengundang bahkan menantang.

Tantangan itu membuat darah saya agak bergelegak. Juga agak bimbang. Saya tak pernah percaya pada buku-buku tentang teori sukses. Tapi, untuk yang satu ini, trembelane tenan kata orang Jawa (yang artinya, keterlaluan benar). Kok bisa lho, menggoda saya? Membuat saya penasaran, apa benar Etos begitu hebatnya, begitu luwesnya untuk bisa menampung semua pemikiran tentang sukses?

Kopi Cappucino yang tersuguh di meja makin lama makin habis. Jansen, Andrias, dan saya masih ngalor-ngidul, tentang banyak hal pada pagi hari itu. Tetapi pikiran saya mengembara entah kemana. Mengembara ingin mencari waktu. Agar saya bisa menuntaskan membaca buku yang ada di tangan saya. Ingin tahu, seperti apa sih sebuah karya yang dimaksudkan sebagai sebuah buku teori sukses yang menyeluruh?

Lalu kemudian saya harus pamit. Jansen masih akan ada tiga sampai lima meeting lagi di tempat itu, sementara Andrias ada acara di tempat lain. Jansen berkata kapan-kapan ia masih ingin bertemu lagi. Bahkan bila perlu ingin bertemu secara rutin. Saya mengiyakan, karena buat saya, pertemuan semacam ini semacam merecharge otak saya yang makin hari makin serasa tumpul.

Saya akhirnya beranjak. Pikiran saya sudah bulat. Saya akan melumat teori menyeluruh tentang sukses, The Unified theory of Success yang digalang oleh Jansen Sinamo ini. Darimana memulainya ya?

Bersambung ke
Ngopi Bareng Jansen Sinamo: Episode Ruang Tunggu

Ngopi Bareng Jansen Sinamo (1)

Episode Telepon Tak Terduga



Sore-sore tanggung di kantor, ketika gelas kopi di hadapan sudah hampir kosong, adakalanya kursor di layar monitor tak bisa lagi bergerak lebih jauh. Pertanda naskah di hadapan kita mungkin tak bisa lagi diteruskan pengerjaannya, karena otak sudah stuck dan butuh rehat barang beberapa menit. Bila sudah begitu, saya biasanya bersiap-siap untuk pergi nongkrong di warung Bu Sri di depan kantor. Sore itu juga saya sudah hendak siap-siap menuju ke sana, ketika, eh, nada dering dari lagu Fur Ellise di ponsel saya berkumandang. Saya gelagapan mengangkatnya karena nomor di layar HP tak tercatat di address book. Ketika saya tempelkan di telinga, suara semerdu penyiar radio terdengar dari seberang. Suara seorang pria.

“Halo, ini Bung Eben ya? Jansen Sinamo di sini.”

Jansen Sinamo?

Tergagap-gagap saya sejenak. Tak tahu mau bicara apa. Mimpi apa saya ditelepon seorang Jansen Sinamo?

Jansen Sinamo itu ibarat dewa bagi saya. Ia ada di langit yang ketujuh. Saya di bumi. Saya tidak pernah bertemu dan berkenalan dengan dia. Dan memang samasekali tidak berniat. Sebab, dia itu bagi saya sudah tak terjangkau. Saya sudah cukup tahu siapa dia dari iklan-iklan pelatihan dan seminar yang sering menampakkan foto besarnya di koran-koran. Juga saya sudah kerap membaca tulisan tentang dia mau pun tentang materi pelatihan yang ia berikan. Dan karena itu saya selalu meyakinkan diri untuk tak usah berharap berkenalan dengan dia. Cukuplah saya dekat dengan Andrias Harefa, rekan kerjanya yang lebih junior, kawan yang baik yang dengan dia saya bekerja sama menulis buku tentang Ciputra.

Riwayat hidup Jansen Sinamo membuat saya makin merasa ia bukan tipe yang bisa jadi teman akrab bagi orang seperti saya, yang suka slenge’an dan agak alergi pada hal-hal abstrak. Bayangkan. Jansen itu adalah seorang fisikawan lulusan ITB. Pernah menjadi seorang seismic engineer pada industri perminyakan dan terlibat dalam bidang advokasi lingkungan dan pengentasan kemiskinan di sejumlah LSM. Namun, minatnya yang paling dalam selain kepada Ilmu Fisika adalah pada filsafat, teologia dan sosiolog. Lalu selama lebih dari 10 tahun ia membenamkan diri sebagai instruktur pada Dale Carnegie Training, melatih orang untuk menjadi pembicara yang baik.

Situs www.tokohindonesia.com, menggambarkannya begini:

Selama di Dale Carnegie Training, Jansen berhasil menyelesaikan dan mendapat lisensi untuk mengajar semua jenis pelatihan yang ditawarkan, seperti management course, leadership course, sales course, professional development course, presentation skill, strategic presentation workshop, dan sebagainya. Ibarat pemain catur, ia sudah menjadi seorang grand master.

Karier Jansen semakin bersinar. Beberapa tahun kemudian , ia diangkat menjadi orang pertama di Indonesia yang mendapatkan kepercayaan dari Dale Carnegie untuk melatih dan memberikan sertifikasi kepada para calon instruktur. Tanggungjawab yang diterimanya itu dikerjakannya dengan penuh kebanggaan. Cakupan wilayah yang ditanganinya tidak hanya Indonesia, tetap mencakup ASEAN.

Tahun 1997 Indonesia dilanda krisis multidimensi. Hatinya tersentuh dan tergerak untuk berbuat sesuatu bagi bangsa dan negaranya. …(cut) Karena itulah Jansen yang peduli melihat bangsanya terpuruk ingin berbuat sesuatu. Ia melihat bahwa Indonesia membutuhkan perubahan dan fundasi perubahan itu adalah etika, bidang yang sudah lama ia gumuli. Lalu apa yang bisa ia lakukan? Ia pun keluar dari Dale Carnegie. Ia mulai memutar otak, mengolah pemikirannya, membuka kembali buku dan bahan kuliah yang lama semata-mata untuk menuntaskan pergumulan batinnya. Layaknya sebuah puzzle, ia mengerahkan dan menggunakan semua ilmu yang pernah diperolehnya hingga terciptalah sebuah konsep dan formulasi yang diyakininya adalah bagian dari solusi untuk bangsa ini. Konsep itu dinamakannya Etos Kerja Profesional.


Bagi Jansen, Etoslah basis dari semua sukses. Bagi Jansen, semua orang, kelompok atau organisasi hanya akan mencapai sukses sejati bila pada dirinya dan diri institusi itu berkembang etos yang mendukung pencapaian sukses itu. Bagi Jansen, Etos yang secara sederhana dapat diterjemahkan sebagai keyakinan dan prinsip-prinsip yang jadi panduan bagi individu, kelompok mau pun organisasi, adalah kunci bagi sukses individu mau pun korporasi.

Ketakjemuan dan semangat tak mau menyerahnya itu, menyebabkan dirinya kerap dijuluki sebagai Mr. Etos atau Guru Etos. Etos seolah sudah jadi dirinya dan dirinya jadi Etos. Paradigma itu kemudian ia kembangkan menjadi materi pelatihan yang membawanya berbicara di hampir semua perusahaan besar di Indonesia, antara lain lewat Institut Darma Mahardika yang ia dirikan bersama Andrias Harefa. Etos pula yang menyebabkan dirinya sering digambarkan sebagai orang yang pertama kali sebagai penggagas, pencipta, pengembang sekaligus pengemban pelatihan SDM berbasis Etos.

Hebat bukan?

Baca lah komentar Rhenald Khasali, pakar manajemen dan ketua program MM FE-UI itu, tentang Jansen. Kata Rhenald, “Ketika para ahli berbicara tentang motivasi, habit, atau hal-hal spiritual, Jansen Sinamo mengajak kita pada akar yang menggerakkan semua perilaku manusia dalam berkarya, yang disebutnya Etos.

Hmm. Asyik benar cara Rhenald menggambarkan Jansen.

Lalu baca juga kesan Peter F. Gontha, taipan yang kini lebih populer lewat acara televisi, Apprentice Indonesia itu. “I have come to understand, possibly better than a few others, how Jansen Sinamo continuously tries to motivate and inspire others to make a better person, a better Indonesia individual. The depth of his regard for moral and his concern for the future of Indonesian is exceptional. He argues convincingly for paradigm shift in education and dialogs that would build on the vast breadth of applications for ethos….”

Gila. Peter Gontha yang ketika masih menjadi eksekutif dulu adalah seorang no nonsense decision maker, ternyata kini bisa terpana pada konsep semacam Etos yang agak abstrak itu.

Seharusnya saya berdecak kagum. Tetapi tidak. Sorry, kehebatan demi kehebatan yang telah diperoleh Jansen, justru membuat saya agak enggan mengikuti pikiran-pikirannya, meskipun di berbagai situs di internet karya-karya tulisnya kerap didiskusikan. Di benak saya, selain Jansen sudah setara dengan Dewa, pikiran-pikiran dan pelatihan berbasis Etos yang dikembangkannya itu sangat idealistik. Penuh dengan imbauan moral. Standar yang ditetapkannya terlalu bagus untuk jadi kenyataan. Dan dalam bayangan saya, perusahaan yang bisa mengembangkannya akan lebih tepat jadi sebuah panti asuhan ketimbang organisasi pencari profit.

Apalagi pengertian Etos ternyata seperti martabak telor yang bisa melebar dan mengembang kemana-mana. Jika Etos yang berasal dari Bahasa Yunani Kuno itu arti semulanya adalah adat istiadat atau kebiasaan, di kemudian hari berkembang jadi sangat kompleks dan tampaknya jadi penuh dengan penafsiran. Etos, oleh sebuah kamus, misalnya, diartikan sebagai guiding beliefs of a person, group or institution. Ada juga pengertian lain dari Etos, yang makin membuatnya tak bisa lagi dijelaskan dengan cara sederhana, sebab Etos ternyata adalah the charachteristic spirit of a culture, era or community as manifested in its attitude and aspirations.

Puyeng kan membaca defenisi seperti ini?

Maka ketika saya menerima telepon dari Jansen Sinamo itu, pikiran saya bimbang tak menentu. Antara senang, bangga, ‘mimpi kali ye….’ ditelepon seorang Jansen Sinamo, tetapi di sisi lain harap-harap cemas, wah, jangan-jangan ada tulisan saya, atau tulisan kawan-kawan di tempat majalah saya bekerja, yang salah dan berhubungan dengan Jansen. Lalu dia menelepon saya meminta ralat. Jangan-jangan kawan-kawan saya pernah mewawancarai dia lalu kemudian tak dimuat dan ia ingin meminta penjelasan. Telepon bernada komplain semacam ini sudah kerap mampir di meja saya pada sore-sore tanggung seperti ini. Dan jangan-jangan, telepon Jansen ini adalah salah satunya.

Tapi setelah saya ingat-ingat, rasanya tidak pernah ada wawancara dengan Jansen. Dan seingat saya, belum pernah ada tulisan tentang Jansen di majalah kami. Lalu kenapa dia menelepon? Dengan gelagapan saya menjawab teleponnya itu.

“Halo Bos. Eh, Halo Pak. Apa kabar? Ya, Eben di sini.” Saya sampai lupa harus panggil apa kepada Jansen, bermarga Sinamo yang adalah orang Batak Pakpak itu.

Tawa dari seberang yang renyah terdengar, ternyata bisa menyamankan perasaan saya. Itu suara dan tawa Jansen Sinamo. Lalu ia mengatakan dia telah mengunjungi blog ini, THE BEAUTIFUL SARIMATONDANG. Dan ia menikmatinya. (Hmm, sejenak hidung saya mengembang, ge-er dan merasa mendapat pujian dari Dewa). Salah satu cerita yang menurut dia membuat dia tak bisa menahan tawa, adalah Mati Ketawa Cara Terminal Siantar. Rupanya Jansen punya memori juga dengan beberapa nama bis yang saya ceritakan di di tulisan itu.

Jansen juga membaca tulisan saya tentang Dr. Martin Sinaga, teolog yang ternyata adalah sahabat karibnya.

Pendeknya, di telepon itu komentar-komentarnya seperti angin surga di telinga saya. Dan apa lagi yang bisa membuat penulis seperti saya senang dan merasa jadi manusia terhebat di dunia, selain pernyataan dari seseorang yang menyenangi tulisan-tulisannya? Walau pun saya sadar, pujian itu seringkali lebih indah dari aslinya, toh saya sebagai manusia, tak bisa menghindar dari segera merasa ge-er dan langsung mengkreditkan pujian itu dalam tabungan percaya diri saya.

Yang membuat saya lebih merasa tersanjung, Jansen kemudian mengajak saya bertemu nanti suatu saat untuk berbagi pikiran. Kata dia, mungkin akan banyak yang bisa dia obrolkan dengan saya, yang membuat hati saya lebih berbunga-bunga lagi. Merasa jadi orang hebat, sehebat Fisikawan seperti dia, walau di lubuk hati terdalam segera juga sadar, “Ben, Ben, nyebut Ben, kamu itu apa sih? Pakar bukan, selebriti bukan. Gak usah jadi kegenitan gitu.’

Dan beberapa hari kemudian, Jansen kembali menelepon saya untuk janji ketemu. Katanya, di coffee shop Hotel Mandarin, tanggal 8 April, jam 8:00 pagi. “Lebih pagi lebih baik, supaya kita punya waktu lebih banyak ngobrol,” kata dia. Saya senang dan segera menyetujuinya.

Kami pun akhirnya bertemu, di Coffe Shop Hotel Mandarin itu.

Bersambung ke
Ngopi Bareng Jansen Sinamo (2): Episode Coffee Shop Mandarin.>

14 February 2006

Orang Baik dari Blok G

Pagi ini saya ketemu orang baik. Saya tak mengenalnya. Tak tahu namanya siapa. Tak bisa ingat rupanya. Sebab kepalanya ditutup oleh helm hitam. Setengah wajahnya dibungkus sapu tangan. Ia berjaket hijau kebiru-biruan, mengendarai motor. Agak gendut dan berkacamata hitam, suaranya merupakan perpaduan antara tenor cenderung bass.



Saya baru beberapa langkah meninggalkan pintu pagar rumah, berjalan kaki menuju pangkalan angkutan kota yang lumayan jauhnya, ketika si Orang Baik melintas dengan motornya. "Bareng Pak?" katanya, sambil menghentikan motornya. Saya terperangah. Saya tak mengenal dia, dan saya yakin dia juga tak tahu saya siapa. Tapi mengapa ia menawarkan kebaikannya kepada saya?

"Memang kita satu arah? Saya ke stasiun Sudimara." tanya saya.

"Ya, saya juga ke arah sana. Nanti Bapak turun di Nusa Indah saja," kata dia, menyebut kompleks perumahan dimana saya nanti akan mudah mencari angkutan kota yang akan membawa saya ke stasiun.

Kebetulan. Ini adalah tawaran yang bukan saja menyenangkan, tetapi sangat saya butuhkan. Berjalan kaki menuju pangkalan angkutan kota paling tidak butuh 15 menit. Padahal jam saya sudah menunjukkan 7:30. Saya bisa terlambat mengejar kereta api kelas ekonomi, bila tak ada si Orang Baik yang menawarkan jasanya.

Begitulah sepanjang perjalanan di atas motornya, saya tak bisa mengajaknya banyak bicara. Suara jalanan agak terlalu bising, sementara helm yang menutup kepalanya mengganggu pendengarannya.

Tetapi begitu pun saya sempat berbasa-basi. Saya akhirnya tahu, dia tinggal di Blok G, di perumahan tempat saya tinggal, di Vila Dago Tol, Ciputat. Saya sendiri tinggal di Blok A. Apakah ia mengenal saya? Ternyata tidak. Menurut dia, dia sekadar lewat, dan dia menduga, saya akan pergi searah dengan saya. Dan ia merasa tak ada salahnya menawarkan kebaikan.

Saya senang sekali. Kebaikan-kebaikan seperti ini sudah agak jarang saya dapatkan, meskipun ini bukan yang pertama kali. Dulu sekali, ketika saya sedang tergesa-gesa mengejar angkutan kota menuju stasiun, tiba-tiba seorang anak muda menghentikan motornya persis di depan saya. "Ayo Pak. Mau ke depan, kan?" tanya dia.

Saya tak ada pilihan lain. Saya lantas duduk di belakang si anak muda, yang kemudian saya tahu, kuliah di Guna Darma Depok dan sedang menuju kuliahnya. Waktu saya tanya, apakah dia mengenal saya, dia hanya tertawa. Dia bilang kepada saya, dia selalu ingat ayahnya dulu sebelum pensiun, yang setiap pagi pergi berjalan kaki menuju kerja. Dan karena ketekunan berjalan kaki itu lah, anak-anaknya bisa kuliah, bisa kerja dan ada pula yang sudah berbahagia memberi cucu.

Saya senang lagi.

Hanya lima menit, si Orang Baik dengan helm hitam akhirnya menghentikan lagi motor bebeknya, menurunkan saya di tempat pemberhentian angkutan kota. "Terimakasih Pak," kata saya. Dia hanya melambaikan tangannya dan berlalu begitu. Di balik sapu tangan yang menutup wajahnya, saya yakin ia pasti tersenyum.

Itulah si Orang Baik dari Blok G. Yang saya tak tahu namanya, tak hafal wajahnya tetapi akan saya ingat selalu kebaikannya.

Vila Dago Tol, 14 Februari 2006