19 January 2009

Pak Sumarso Pahlawan Saya

 Pak Sumarso tak mengenal saya. Saya pun tak kenal beliau. Ia tak berbicara dengan saya. Saya pun tak sempat menyapa dia. Perjumpaan kami tak lebih dari delapan menit. Bahkan sebenarnya bukan perjumpaan. Hanya secara kebetulan kami berada pada satu waktu di satu tempat. Yakni di Kereta Rel Listrik (KRL) AC jurusan Serpong-Tanah Abang. Suatu hari di minggu pertama Januari.

Tapi Pak Sumarso begitu melekat di hati saya. Dan saya mencatat namanya yang tertera di atas saku baju kerjanya yang berwarna biru muda. Saya bahkan sempat memotret wajahnya dengan kamera handphone, meskipun tak sempurna hasilnya. Pak Sumarso kala itu sedang berbicara menjurus kepada berdebat dengan salah seorang penumpang kereta itu. Di situlah saya mengaguminya. Dan saya jadi bangga jadi orang Indonesia.